Cerpen

Loria dan Sepatu Tua

KISAH ini telah disampaikan berulang kali dan turun temurun oleh puak tukang hikayat di Teluk Baraday

Editor: bakri

“Kalian tidak ada yang tahu?” tanya Loria. Mereka menggeleng.

“Aku sangsi kau juru selamat yang ditulis dalam nubuat yang kami percayakan,” timpal seorang ibu muda sembari terus meneteki anaknya.

“Tapi aku dikirim alam,” suara Loria meninggi.

“Tapi bukan utusan yang bisa memutus kutukan!” potong petani tadi.

Loria memandangi kelam. Apalah arti tempat pemakaman bagi seorang petualang? Mereka yang memilih tempat tinggal, hidup, dan bermakam tidak akan pernah bisa menjadi pengelana yang baik. Kepenasaranan adalah buku menarik yang meminta untuk terus dibuka lembarannya. Dan itu akan dilakukan Loria. Gigil sisa hujan dan pekat malam telah menciptakan sebuah keputusan.

***

Ia sama sekali tak melirik. Daun-daun kering yang telah gugur dan telah lama melekat di tanah kering diterbangkan angin ke wajahnya. Menyentuhnya dengan kejam, itu pun tidak dipedulikan. Ia terus menggesek biola. Sangat sendu. Seakan memanggil angin untuk menyapu badannya yang lusuh.

Loria merapat. Sama sekali lelaki tua itu tak terperanjat. Alam demikian asing. Seasing irama yang ditimbulkan biola lelaki itu. Alunannya menyusup hingga menggetarkan labirin telinga dan menyusup ke rongga-rongga. Mengalir ke sekujur tubuh. Menggetarkan. Semua terasa lain. Sungguh asing.

Loria merapat hendak menyentuh bahu Si Penggesek Biola. Cepat ia melesat. Melompat. Terkejut. Ditatapnya gadis berpakaian serba merah di hadapannya dengan ekor mata setajam serigala. Lamat dan tajam. Tubuh Loria menggigil. Bergetar hingga dirasakannya semua sendinya seperti saling berpamitan. Rambut panjang lelaki tua itu terkibas hingga tampak wajahnya yang tersingkap. Tua sekali. Telah berkerut kulitnya. Tatapannya begitu menakutkan. Hening sekali. Terdengar desah dedaunan. Pelan dan sepi.

“Kau sudah menemukannya?” tanyanya dengan nada menggertak. Suaranya serak.

“Sepatu Tua,” jawab Loria sedikit bergetar.

“Dari mana kau ketahui nama irama yang kumainkan itu?” suaranya pelan dan sedikit agak dipaksa melawan dahak yang sejak tadi tertahan. Dendang angin semakin jelas menyusup telinga. Mata mereka bertemu.

“Seorang perempuan yang selamat dari pembantaianmu menyampaikan padaku!”

“Kembalilah ke sungai. Ikuti alirnya. Di dekat muara sana ada seorang peternak kuda yang bisa memutuskan benar atau salah tebakanmu!”

“Bagaimana aku menandainya?”

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved