Cerpen

Jumawi

SEJAK kecil aku dipanggil Jumawi. Tidak ada istimewanya nama itu. Entah sejak kapan aku bisa bermain sulap

Jumawi

Karya Aslan Saputra

SEJAK kecil aku dipanggil Jumawi. Tidak ada istimewanya nama itu. Entah sejak kapan aku bisa bermain sulap. Aku masih ingat siapa yang pertama kali aku ubah menjadi seekor kambing jantan, dengan jenggot panjang, dan tanduk yang berbelok. Ia selalu mendesakku untuk mendoakannya agar menjadi binatang. Aku bilang mana mungkin. Aku bukan nabi apalagi Tuhan. Dan sekejap mata ia berubah begitu saja. Tanpa kusebut mantera atau apa pun. Dan dua hari setelah penyulapan itu, ia mati.

Kian hari makin banyak saja orang yang mendatangiku. Sulap ini sulap itu. Sudah seperti kebun binatang saja kampung kami. Kini aku mendapat bayaran atas sulapanku yang aku sendiri belum paham sampai sekarang. Melihat tumpukan uang itu, malah membuatku semakin ngiler. Menjadi-jadilah aku berdrama ria dengan melakukan gerakan-gerakan sulap lebih profesional, agar makin mahal dibayar.

Ada satu pria yang kutaksir umurnya telah berpuluh tahun di atasku, berkacamata, berjalan dengan kaki kiri yang malas. Ia memintaku untuk mengubahnya menjadi seekor kelelawar. Jujur saja selama aku menyulap orang, tidak pernah ada binatang bersayap. Kalau tidak kambing, ya sapi, beruang, anjing, kucing, ataupun tikus. Aku takut ia tidak akan bisa menggunakan sayapnya nanti.

Dan akhirnya benar. Setelah aku menyulapnya, ia segera melompat-lompat sambil mengepakkan sayapnya. Matanya berbinar, seperti menjadi binatang adalah takdir terbaik yang ia miliki. Satu dua ia coba terbang, malah gagal. Hingga kemudian sedikit demi sedikit kakinya melayang di udara. Ia terus bersemangat terbang. Dan sekejap mata, ketika ia merasa telah tinggi di udara, ia langsung disambar elang. Kaki kirinya putus dan jatuh tepat di hadapanku. Ini adalah rekor tercepat pasienku. Dia berhasil mati paling cepat di antara orang yang berubah menjadi binatang.

Rupanya, pria kelelawar itu bukan orang sembarangan. Dia adalah bos dari binatang-binatang lainnya yang pernah aku sulap. Berita kematiannya benar-benar membuat binatang lain kegirangan. Walaupun beberapa di antara mereka juga akan mati. Dan aku mengetahui itu karena dua orang yang mengaku anak buah pria kelelawar itu menangkapku dan memasukkanku ke dalam sebuah karung.

“Jumawi namamu?”

Seorang pria bertubuh besar berdiri di hadapanku dengan sok jagoan. Bahunya lebih tinggi dari dagunya. Sombong nian pria ini.

“Iya, aku di mana sekarang? Kau siapa?”

“Kau Jumawi si pesulap itu?”

Halaman
1234
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved