Cerpen

Di Seunuddon, Seratus Kuntul Hitam Bermalam

Adakah yang lebih menyakitkan selain kenangan? Tidak! Setidaknya Triani merasakan itu. Lebih-lebih saat matahari senja

Editor: bakri

Satu bulan. Dua bulan. Tiga bulan. Hari ke sembilan belas pada bulan keempat akhirnya Triani dinikahi. Mulai saat itu ia mulai tambah jengah. Ia punya kesibukan baru. Melayani laki-laki itu. Malam hari adalah jam-jam paling menyebalkan. Beruntung jika laki-laki itu tidak pulang dari rumah batu. Biasanya setelah seharian berjaga di pos rumah batu, laki-laki aneh itu pasti bersenang-senang di rumah Triani. Dia pulang lengkap dengan seragam dinas lapangan, tampak gagah di mata para anak dara. Tapi Triani tak pernah bisa menikmati.

Triani malah membayangkan Subi yang selalu menemaninya pada malam-malam bersama laki-laki aneh itu. Subi-lah yang selalu bercakap-cakap di ranjang pada tengah malam sebelum mereka bercinta. Adalah Subi yang membisikkan kata-kata mesra pada detik-detik menjelang matanya terlelap lelah. Dan ketika pagi-pagi benar saat azan subuh mengalun dari meunasah, Subi dengan lembut mengecup dahinya sebagai sinyal mengajak bangun untuk mandi bersama dan shalat.

Tapi, Subi di manakah kau kini? Triani tahu laki-laki itu mendongkol besar saat Triani dilamar laki-laki aneh dari rumah batu. Mendadak Subi menghilang dari kampung. Sebelas tahun ia tak pernah kembali. Ia benar-benar seperti peri yang menghilang ke negeri sunyi.

Entah Subi pernah sampai ke fakultas pertanian. Triani tak pernah beroleh kabar. Hanya saja setiap sore saat Triani memandang siluet sawah menghijau oleh batang-batang padi muda, setiap kali itu pula imajinasinya terbang pada Subi. Dulu, mereka kerap bermain-main di situ saat musim sawah tiba.

Sepulang dari sekolah, mereka pasti asyik bermain di sawah-sawah di seberang jalan depan rumah. Biarlah Emak dan Abah sibuk mengurus sawah, Triani dan Subi asyik menangkap anak-anak ikan gabus dan sepat yang bersembunyi di parit-parit tali air. Mereka membuat jaring dari selendang bekas. Triani memegang di ujung yang satu, Subi di ujung yang lain. Mereka menciduk anak-anak ikan di sepanjang tali air.

Lebih asyik lagi jika di persawahan muncul burung-burung kuntul. Burung-burung itu mencari anak-anak ikan yang kesasar di lumpur sawah. Biasanya burung kuntul muncul berkawan, puluhan, mungkin ratusan, mereka saling berebut bila salah satu di antara mereka berhasil mendapatkan ikan. Triani dan Subi senang melihat burung-burung itu saling berebut mangsa. Bila musim tanam usai, saat batang-batang padi mulai beranjak muda, kawanan burung kuntul akan muncul lagi di sana dalam jumlah lebih banyak. Kali ini mereka mencari anak-anak ikan di sepanjang tali air. Tak jarang burung kuntul itu bermalam di sana.

“Jika besar nanti, aku mau jadi petani saja. Aku mau agar sawah-sawah di sini hasil panennya besar,” kata Subi setelah mereka melepas lelah di rangkang di sudut sawah Emak.

“Tapi aku tak mau kawin sama petani. Aku akan cari suami sama-sama guru,” timpal Triani.

“Biar saja. Aku juga tak suka beristrikan ibu guru.”

“Kenapa?”

“Aku takut telat makan siang.”

“Kok telat?”

“Kamu pasti asyik mengurus anak-anak di sekolah, dan terlambat pulang untuk masak.”

“Oh, iya ya, hahaha...!”

“Enakan jadi petani. Siang mengurus sawah dan malam hari bisa tertidur lelap,” tanggap Subi.

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved