Cerpen

Rantau

DUA TAHUN sudah aku merantau. Mencoba mencari pekerjaan yang tepat untuk melamar si Minah, tunanganku

Editor: bakri

“Sudahlah, itu masalalu. Anggap saja pelatihan gratis. Besok setelah dinas pagi, kuantar kau ke sana!”

Aku mencoba memejamkan mataku. Panas menghantui kami sejak sore tadi. Kamar ini sungguh kecil. Jendelanya model klasik, tak dapat dibuka terlalu lebar karena akan mengganggu pengguna jalan. Kipas angin kecil berputar di langit kamar. Kurasa berputar atau tidaknya kipas itu tak kan memengaruhi suhu kamar ini. Marah sudah menyanyi dari tadi. Nyanyiannya semakin larut semakin nyaring. Beberapa kali kucoba menutup mulutnya dengan bantal. Apa lagi setelah kudengar tetangga sebelah yang mengodekan pukulan ke dinding kamar karena terganggu oleh nyanyian Marah. Jangankan berhenti, kurasa peduli pun dia tidak!

***

Entah kapan Marah bangun pagi ini. Ketika kubuka mataku dia sudah tidak ada. Bantal yang kugunakan untuk menutup mulutnya semalam sudah tertata rapi di sampingku. Aroma telur dadar membangunkanku. Marah sudah memasak sebelum berangkat tadi pagi.

Sarapanku harus ditutup oleh segela kopi. Aku tahu marah masih tetap tidak menyukai minuman ini. Hanya ada bungkusan teh di kontrakannya. Kuputuskan untuk keluar kamar mencari kopi. Siapa tahu di ujung persimpangan gang sana terdapat sebuah warung kopi.

Benar saja. Walau sedikitpun tak mirip warung kopi di daerahku, warung kopi bergerobak ini kurasa cukup untuk meredakan kecanduanku akan kopi. Aku langsung duduk di bangku panjang yang berada di depan gerobak. Di sisi kananku, seorang pria berkemeja rapi asyik membaca koran. Halaman depannya tentang pelecehan siswa taman kanak-kanak oleh seorang penjaga sekolah. Si penjual memecahkan keseriusanku melirik berita koran itu.

“Kopi apa, Mas?”, tanya pria yang terlihat samar dari balik kepulan asap air panas.

“Oh, kopi hitam saja!”, jawabku segera memalingkan wajahku. Aku tak mau si pemilik koran itu mengetahui aku sedang mengintip bacaannya.

“Ini, Mas!”

Segelas kopi disodorkan di depanku. Aku tersentak. Bukan perkara pesanannya yang salah, melainkan suara perempuan yang begitu akrab di telingaku. Suara perempuan kampung yang selalu membuatku terdiam ketika dia marah. Suara yang selalu membuatku kehabisan kata-kata ketika harus berbohong kepadanya. Suara yang membuatku rela hidup pahit di kampung orang. Suara yang fotonya ada di dalam dompetku. Suara yang pemiliknya tak pernah berani kujumpai hampir dua tahun ini.

“Minah? Kau...”

“Bang...”

Entah apa yang harus kulakukan saat itu. Tanpa sadar aku hanya beranjak dari sana. Aku menyenggol si pria berkemeja rapi hingga hampir jatuh dari tempat duduknya. Aku tidak meminta maaf. Aku bahkan lupa membayar kopi yang sudah kupesan. Si lugu, Minah-ku, sedang hamil. Aku mempercepat langkahku. Semakin cepat hingga aku hampir berlari.

* Azhari MS, alumnus Gemasastrin Unsyiah. Mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) di Universitas Negeri Surabaya

Kunjungi juga :
www.serambinewstv.com | www.menatapaceh.com |
www.serambifm.com | www.prohaba.co |

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved