Senin, 18 Mei 2026

Misteri ‘Pulau Susi’

PEMERINTAH Kabupaten Simeulue membantah jika Pulau Sevelak telah dijual kepada Susi Pudjiastuti, perempuan

Tayang:
Editor: bakri

PEMERINTAH Kabupaten Simeulue membantah jika Pulau Sevelak telah dijual kepada Susi Pudjiastuti, perempuan yang kini menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan di Kabinet Kerja Jokowi-JK. Meski ada bantahan, namun beberapa fakta di lapangan menyebutkan Pulau Sevelak memang dikuasai oleh Susi Pudjiastuti sejak beberapa tahun terakhir. Seperti apa sebenarnya pulau itu dan siapa pemilik sahnya? Serambi merangkumnya dalam laporan khusus edisi ini.

Pulau Sevelak atau yang lebih dikenal dengan sebutan ‘Pulau Susi’ berada di Kecamatan Teupah Barat, Kabupaten Simeulue. Dari daratan Simeulue, pulau ini terlihat dengan jelas. Bentuknya memanjang. Luasnya kira-kira lima hektare. Tidak sulit untuk mencapainya. Dari Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Desa Salur, lama perjalanannya sekitar 20 menit jika kondisi cuaca dalam keadaan normal.

Minggu, 16 November 2014, wartawan Serambi Indonesia mendatangi pulau tersebut dengan menumpang perahu sewa milik nelayan setempat.

Tiga penjaga menyambut rombongan yang baru menginjakkan kaki di pulau itu. Setelah rehat sejenak, rombongan langsung menuju sebuah bangunan berukuran 4x4 meter yang selama ini ditempati oleh tiga warga setempat selaku penjaga pulau itu.

Terlihat pemandangan pulau yang eksotis. Di sudut timur, ada hutan liar yang tumbuh alami. Namun, pohon-pohonnya masih muda. Mirip semak belukar, tapi rimbun. Ada pula pohon cemara yang sudah menjulang, yang ditanam rapi di dekat tiga buah bangunan. Juga ada panggung tempat bersantai yang menghadap ke daratan Pulau Simeulue.

Di daerah  penghasil lobster itu, ada puluhan pulau serupa seperti Sevelak.  Beberapa di antaranya muncul setelah tsunami 26 Desember 2004. Ada pula pulau yang tenggelam. Sevelak sendiri semakin menyembul ke permukaan setelah terjadi tsunami. Ini terlihat jelas dengan kondisi terumbu karang. Sebelum tsunami, terumbu karangnya terendam. Kini terumbu karang sudah menjadi bagian dari daratan.  

Selain bangunan untuk penjaga, terdapat dua bangunan lain sebagai tempat tinggal bagi sang pemilik pulau jika berkunjung ke sana. Tak jauh dari bangunan rumah itu, juga terdapat tempat untuk bersantai dengan pemandangan luas menghadap ke arah Simeulue daratan. Kemudian di sisi kanan, terdapat pula landasan sebagai tempat mendarat helikopter.

Seorang penjaga, Nanda (22)) mengatakan, dia sudah menjadi pekerja harian di pulau itu sejak Februari 2014. Saat ditanya kepemilikan pulau itu, dia hanya mengiyakan bahwa sang pemiliknya adalah perempuan yang kini menjadi salah satu menteri di kabinet Presiden Jokowi.

“Belum pernah lihat langsung Ibu (Susi Pusjiastuti). Baru lihat di tivi  sejak jadi menteri. Saya hanya disuruh jaga saja bersama dua orang kawan lagi. Selama saya di sini belum pernah ibu kemari. Yang bangun rumah di sini dan lainnya semua pekerja dari Pangandaran,” ucapnya polos, sembari terus menemani tim kami yang bertandang ke sana.

Dikatakan, pulau tersebut pernah didatangi para turis untuk sekadar mandi dan berjemur. Begitupun, kata dia, bagi masyarakat setempat yang hendak mendatangi pulau itu tidak pernah dilarang. “Ini kamar Ibu. Di sana tempat heli turun, tapi belum pernah kemari sejak saya bekerja di sini,” imbuhnya.

Sementara itu, seorang lelaki yang mengaku sudah bekerja hampir 10 tahun di pulau itu, Badai, terkesan kurang senang dengan kedatangan rombongan wartawan. Begitupun, saat ditanya kepemilikan pulau yang dijaganya sejak 10 tahun lalu itu, Badai mengiyakan. “Harusnya dikasih tahu kalau ke sini. Kalau mereka itu (penjaga pulau) masih baru bekerja,” katanya.

Secara terpisah, manager perusahaan milik Susi, Rustam Effendi, yang ditemui Serambi membenarkan Pulau Sevelak sudah dibeli oleh Susi Pudjiastuti pada 2005. Susi membelinya dari seorang warga Salur, Jamaludin, yang kini sudah meninggal dunia. Proses jual beli pulau itu pun, kata dia, diketahui oleh keluarga Jamaludin. Sedangkan yang mewakili pihak perusahaan, kata Rustam Effendi, adalah Eno Sugiarto. “Yang tahu (proses jual beli) Jamaludin sendiri dan keluarganya. Yang mewakili perusahaan Eno Sugiarto. Jamal sudah meninggal tahun 2012 lalu. Saya sendiri yang meminta uang sama Ibu Rp 60 juta untuk membayarnya. Ada kuitansinya, tapi sudah dibawa ke Jakarta,” kata Rustam.

Dia menceritakan, pada awal 2005 pihaknya melakukan survei ke Simeulue bersama Susi Pudjiastuti. Tidak sengaja, bertemu pula dengan pria yang menguasai pulau itu, Jamaludin. Kala itu, Jamaludin menawarkan pulau yang selama ini dikuasainya kepada Susi. “Saat itu Ibu Susi begitu perhatian dengan nelayan. Pulau itu untuk dijadikan tempat penangkaran lobster sesuai keinginan Ibu Susi, bukan tempat wisata,” ujarnya.

Setelah pulau itu dibeli Susi, hasil tangkapan nelayan ditampung di kawasan itu. “Pesan Bu Susi pada nelayan saat itu, kalau lobster yang bertelur jangan ditangkap. Kalau ditangkap memang ibu akan membeli, tapi dia akan melepaskan lagi ke laut,” katanya. Namun saat ini, kata Rustam, tidak ada kegiatan di pulau itu. “Dari CEO baru pengganti Bu Susi, belum ada perintah seperti apa rencana pengelolaannya. Tapi yang jelas kawasan ini untuk penangkaran, bukan untuk tujuan wisata,” tandasnya.

Dikatakan, Susi Pudjiastui membeli pulau itu bukan untuk menguasai, melainkan sebagai tempat penangkaran lobster. Perempuan nyentrik itu terakhir kali ke Sevelak pada 2011. Sebulan lalu Susi pernah punya keinginan mengunjungi lagi Sevelak, tetapi keburu dipanggil ke Istana oleh Presiden Jokowi. “Kalau ke Simeulue, lebih suka tidur di Sevelak,” kata dia. Sekadar informasi, selain berbisnis lobster, Susi juga memiliki maskapai penerbangan yang melayani jalur penerbangan Simeulue-Medan. Begitulah.(sm)

Kunjungi juga :
www.serambinewstv.com | www.menatapaceh.com |
www.serambifm.com | www.prohaba.co |

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved