Breaking News
Kamis, 9 April 2026

Opini

Ilmu Duniawi vs Ilmu Ukhrowi

SEBAGIAN orang masih membedakan keutamaan mempelajari sebuah ilmu sehingga dia lebih memprioritaskan

Editor: bakri

Oleh Agustin Hanafi

SEBAGIAN orang masih membedakan keutamaan mempelajari sebuah ilmu sehingga dia lebih memprioritaskan dan mengedepankan ilmu tertentu seperti Matematika, Fisika, Kimia, dan lain-lain yang notabene adalah ilmu umum, untuk memperolehnya dia berusaha dengan sungguh-sungguh dan berjuang secara maksimal seperti mengundang guru privat, kemudian mengikuti kursus, les, dan lain-lain. Tetapi usaha dan perhatiannya terhadap ilmu umum ini tidak sebanding dengan perhatiannya terhadap ilmu agama, dia terkesan cuek, tidak begitu peduli dan seolah-olah mempelajari ilmu ini hanya kewajiban kalangan tertentu saja.

Hal ini dapat dibuktikan di lapangan bahwa masih banyak dijumpai di tengah masyarakat kita yang belum mampu membaca Alquran dengan baik, pengetahuan agama yang dangkal, yang dapat memicu terjadinya fanatisme terhadap mazhab tertentu, kurang menghargai dan toleransi terhadap perbedaan, cenderung menyalahkan orang lain yang berbeda dengan dia, merasa apa yang dia lakukan sudah mutlak benar. Namun ada juga sebaliknya, dia lebih mengutamakan ilmu agama seperti fikih, tafsir dan sejenisnya, mengabaikan ilmu umum bahkan terkadang bersikap sinis terhadap orang yang mempelajari ilmu umum. Bahkan IAIN Ar-Raniry sendiri pernah dituduh menganut paham sekuler ketika mengintegrasikan antara ilmu agama dengan ilmu umum melalui perubahan statusnya menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry.

Dalam Alquran, kita dianjurkan untuk banyak membaca, belajar, meneliti, dan mengamati tentang ciptaan Allah sebagaimana wahyu yang pertama sekali turun adalah iqra’ (baca) yang tujuannya agar dapat mengambil pelajaran berharga, menambah wawasan serta meningkatkan kualitas keimanan agar senantiasa selalu berada pada jalan yang benar, jauh dari kekeliruan dan kesesatan, sehingga dapat meraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Perintah “membaca” sebagaimana yang termaktub dalam ayat tersebut bersifat umum tanpa membedakan disiplin ilmu apapun baik itu ilmu umum maupun ilmu agama.

 Sebuah keharusan
Hal ini dikuatkan oleh ayat lain mengenai janji Allah bagi orang-orang yang serius dalam menuntut ilmu akan mendapat derajat dan kedudukan lebih tinggi dan mulia di sisi Allah, kemudian Allah menegaskan bahwa kedudukan orang-orang yang berilmu tidak sama dan tidak setara dengan orang yang tidak berilmu. Kemudian adanya keterangan hadis Nabi saw bahwa menuntut ilmu itu merupakan kewajiban bagi setiap orang Islam baik itu laki-laki dan perempuan. Hal ini menunjukkan bahwa menuntut ilmu sebuah keharusan dan tidak ada yang lebih mulia antara ilmu yang satu dengan yang lainnnya.

Sebagian orang berasumsi bahwa ilmu yang berasal dari nonmuslim dilarang mempelajarinya sebagaimana kasus yang terjadi di Sumatera Utara beberapa tahun yang silam yang mana sebuah lembaga pendidikan melarang muridnya untuk mempelajari bahasa Inggris dengan alasan bahasanya orang kafir. Padahal kalau kita cermati dengan akal sehat apa kaitannya mempelajari bahasa dengan akidah orang? Bukankah Nabi saw menganjurkan umatnya agar mempelajari bahasa suatu kaum agar bisa selamat dari tipu daya mereka. Menguasai bahasa asing membawa dampak positif yang luar biasa, sebagaimana yang terlihat ketika proses rehabilitasi dan rekonstruksi di Aceh pascatsunami, putra-putri kita kecipratan rezeki nomplok karena menjadi guide bagi orang asing.

Di bidang ekonomi, kiblat manusia saat ini adalah Cina, yang menguasai teknologi adalah kalangan Yahudi, kita umat Islam jauh tertinggal, bahkan ketika mencari kotak hitam Adam Air yang jatuh di Majene beberapa tahun yang lalu kita harus menyewa kapal asing karena ketertinggalan kita di bidang teknologi, kita juga memiliki sumber alam yang sangat luar biasa, tetapi kita kekurangan SDM dalam mengeksplorasinya sehingga harus mengundang orang asing yang menyebabkan pembagian hasil yang tak seimbang, padahal ilmuwan kita dulu meskipun mereka menyandang gelar sebagai ulama tetapi mereka adalah para ilmuan terkemuka yang ahli di bidang eksakta, seperti Al-Kindi, Ibn Sina, al-Jabbar, al-Khawarizmi dan lain-lain, seharusnya ini menjadi pembelajaran bagi kita.

Dengan demikian, untuk mengejar ketertinggalan, kita harus belajar dengan sungguh-sungguh dan menguasai bahasa dunia berdasarkan standar PBB yaitu bahasa Arab, Inggris, Jerman, Prancis, Mandarin, dan lain-lain sehingga membuka lowongan bagi putra-putri kita untuk menimba ilmu dari mereka, dengan harapan kelak mereka dapat membangun tanah endatunya yang bertaraf internasional, berteknologi canggih dan berlandaskan syariat Islam, sebagaimana ungkapan alm KH Zainuddin MZ “Berhati Makkah dan berotak Jerman”.

Kemudian yang menjadi catatan penting bagi kita adalah mengintegrasikan antara ilmu agama dengan ilmu umum, karena keduanya tidak bisa dipisahkan, mereka saling berkaitan dan berhubungan. Sebagaimana yang terlihat dalam Alquran, bahwa banyak sekali surat dan ayat yang menjelaskan tentang langit, bumi, bulan, matahari, hewan, gunung, tumbuh-tumbuhan, cuaca, laut, dan lain-lain. Lalu bagaimana kita bisa memahami makna dan isi kandungan Alquran secara mendalam kalau kita mengabaikan ilmu yang berkaitan dengan itu?

Sebagai contoh, kita disuruh oleh Allah untuk memperhatikan bagaimana unta diciptakan, lebah, laba-laba, semut, atau melihat hilal sebagai penetapan awal ramadhan dan lebaran, dan lain-lain, dengan demikian kita harus mengerti tentang ilmu yang berkaitan dengan hewan, ilmu tentang perbintangan yang biasa disebut dengan Astronomi, ilmu tentang tumbuh-tumbuhan (Botani) dan lain sebagainya.

 Membentuk pribadi saleh
Integrasi ilmu umum dan agama diharapkan dapat membangun dan membentuk pribadi-pribadi yang saleh. Misalnya ketika diamanahkan untuk duduk instansi pemerintah maupun swasta, yang bersangkutan tidak melulu menghitung dan memikirkan duit orang, tetapi ia juga sadar akan kewajibannya sebagai hamba Allah, sehingga selalu takut untuk tidak menunaikan shalat. Seseorang yang memiliki integritas agama juga dapat melahirkan arsitektur yang agamis, sehingga ketika membangun atau menjadi konsultan rumah duafa, bangunannya bukan sekadar proyek yang asal jadi dll. Jika ia menjadi hakim atau pengacara ia akan membela apa yang memang pantas dibela berdasarkan benar dan salah dan tidak menyimpang dari ajaran Islam. Berusaha memutuskan perkara dengan benar walaupun nyawa menjadi taruhannya, dan tidak tergoda oleh sogokan.

Oleh karena itu dalam Islam tidak ada yang lebih mulia antara satu ilmu dengan lainnya. Belum lagi fenomena di tengah masyarakat kita yang kekurangan sumber daya manusia di bidang medis dan kedokteran, secara kasat mata yang terlihat pada umumnya dokter kandungan adalah kaum laki-laki sedangkan yang melahirkan adalah ibu-ibu, semua tindakan dokter dibolehkan dengan alasan pada kondisi darurat sebagaimana yang termaktub dalam kaidah fikih, tetapi pernah kah kita berfikir sampai kapan masa darurat seperti ini harus diakhiri? Maka untuk mengatasi kekurangan SDM di atas, tidak ada pilihan lain bagi putra-putri kita kecuali menguasai ilmu kedokteran.  

Kita harapkan kelak di Aceh akan lahir dokter-dokter kandungan perempuan, sehingga kalau sesama perempuan yang menangani dan melayani tentunya perasaan mereka lebih nyaman karena sama-sama mengerti bagaimana psikologis ketika melahirkan dan perasaan sakit yang mereka alami. Jika sang dokter menguasai ilmu agama tentunya akan selalu mengingat amanah dan tanggung jawabnya kepada Allah, dengan demikian, akan jauh dari perbuatan mal praktek, tidak mudah mengambil tindakan gegabah yang dapat merugikan pasien.

Kita juga harus menguasai dan ahli di bidang ilmu politik, sehingga lahirlah politikus yang islami yang dapat mengemban amanah rakyat dan bukan mengibuli rakyat, bersedia menampung aspirasi umat Islam bukannya mengebiri dan mengesampingkannya. Kita harus paham dan menguasai ilmu militer sehingga keutuhan negara kita dapat terjamin dari para agresor. Kita juga harus memberikan porsi yang luas bagi putri-putri kita untuk menjadi security, aparat sipil maupun militer, pengawas amar makruf nahi munkar karena mereka memiliki peran yang positif dalam menangani kasus yang dialami perempuan itu sendiri seperti perkosaan, pelacuran, trafficking, penipuan, pembunuhan, narkoba, penyimpangan seksual, dan lain-lain, agar terhindar dari fitnah.

Dengan demikian kita harus sungguh-sunguh belajar selama itu bermanfaat asal bukan ilmu yang mencelakan orang lain seperti sihir, kemudian jangan sampai menghalangi kaum hawa ataupun isteri kita untuk belajar atau kuliah lagi ke jenjang yang lebih tinggi, dan yang menjadi catatan adalah orientasi belajar itu bukan untuk kepentingan sesaat yang bersifat materi. Meskipun dia perempuan namun sangat diperlukan pendidikan yang memadai agar dapat merawat dan mendidik anak-anaknya dengan baik. Wallahu a’lam.

* Dr. H. Agustin Hanafi, M.A., Ketua Prodi Hukum Keluarga, Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam UIN Ar-Raniry, dan Anggota Ikatan Alumni Timur Tengah (IKAT) Aceh. Email: agustinhanafi77@yahoo.com

Kunjungi juga :
www.serambinewstv.com | www.menatapaceh.com |
www.serambifm.com | www.prohaba.co |

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved