Husaini Hasan Luncurkan Buku ‘Dari Rimba Aceh ke Stockhlom’
Tokoh teras Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Dr. Husaini M.Hasan SpOG menuliskan kisah hidupnya selama berada dalam perjuangan GAM
JAKARTA - Tokoh teras Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Dr. Husaini M.Hasan SpOG menuliskan kisah hidupnya selama berada dalam perjuangan GAM dalam buku “Dari Rimba Aceh ke Stockhlom.” Buku setebal 509 halaman lebih itu diluncurkan di Jakarta, Kamis (29/1) malam.
Acara peluncuran buku dirangkai dengan testimoni terhadap sosok Husaini Hasan, yang dalam struktur GAM pernah menjabat Menteri Sekretaris Negara, Menteri Pendidikan dan Penerangan Aceh Merdeka. Testemoni atau pendapat terhadap buku dan sosok Husaini Hasan ini disampaikan oleh sejarawan Prof. Anhar Gonggong, senator asal Aceh Ghazali Abbas Adan, komisioner Komnas HAM Otto Syamsuddin Ishak, ilmuan Prof. Nazaruddin Sjamsuddin, pengamat politik DR. TB. Massa Djafar, dan mantan Gubernur GAM Pidie, Teungku Khalidin Daud.
Anhar Gonggong menilai buku tersebut menyimpan banyak informasi tambahan, termasuk hubungan antara Aceh dengan Kahar Muzakar di Sulawesi. “Terlepas dari saya setuju atau tidak setuju dengan isinya, buku ini memberikan tambahan informasi yng sangat penting,” kata Anhar Gonggong, sejarawan asal Sulawesi yang berpenampilan nyentrik dengan rambut gondrong.
Senator Ghazali Abbas Adan menyebut sosok Husaini sebagai tokoh yang sangat cerdas dan demokratis. “Saya pernah ikut dalam sebuah perundingan dengan GAM yang antara lain diwakili Husaini Hasan. Sementara saya dari Pemerintah RI. Kami tetap saling menghargai walau pun berbeda,” kata Ghazali Abbas yang dalam kesampatan tersebut menyerahkan buku karyanya setebal 1000 halaman lebih kepada Dr. Husaini.
Prof. Nazaruddin Sjamsuddin menyebutkan buku karya Dr Husaini memberi pengetahuan kepada masyarakat. “Saya membayangan buku ini seperti sosok Che Guevara,” kata Prof Nazaruddin.
Mengenakan pakaian Aceh, Husaini Hasan, pria kelahiran Sanggeue, Pidie, 3 Juli 1944, menjelaskan alasan ditulisnya buku tersebut. Antara lain untuk meluruskan sejarah perjuangan Aceh Merdeka yang menurutnya telah diputar-balikkan untuk kepentingan pribadi, kekuasaan dan kekayaan.
Alasan lainnya untuk menjelaskan posisi dirinya dan kawan-kawan yang dicap MP-GAM (Majelis Pemerintahan GAM), pengkhianat perjuangan yang halal darahnya, dan bisa dibunuh dimana saja ditemukan tanpa perlu pertanyaan dan peradilan.
“Saya tidak mendirikan MP-GAM yang dibentuk di Kuala Lumpur. Namun benar, bahwa saya bersama-sama teman mendirikan MB-GAM (Markas Besar) Eropa dan Yusuf Daud diangkat sebagai Sekjen MB-GAM,” tukas Husaini.
Proklamator Aceh Merdeka, Tgk Hasan Muhammad Di Tiro, menyebut Dr Husaini M Hasan sebagai sosok yang yang mampu memberikan solusi pada setiap masalah.
“Dr.Husaini merupakan kiriman Tuhan untukku. Ia punya kesetiaan dan keteguhan yang luar biasa, itu nilai yang harus dimiliki oleh seorang pejuang dan tentara Napoleon. Setiap kali saya memutuskan sesuatu, saya meminta pendapat Husaini. Ia mampu memberi keputusan yang tepat dan mampu mencapai kesimpulan yang sama dengan apa yang saya putuskan,” tulis Hasan Tiro dalam bukunya “The Price of Freeom” halaman 26, edisi 1984.
Lahir dari keluarga pejuang, ayah Husaini adalah panglima perang pada masa DI/TII pimpinan Tgk M.Daud Beureueh. Husaini adalah generasi Aceh Merdeka angkatan 76. Ia mengaku terpesona dengan ide-ide Tgk Hasan M. di Tiro seperti yang dibacanya dalam buku “Atjeh Bak Mata Donya.”
Buku tersebut memuat banyak hal, mulai masa kecil Husaini, masa sulit dalam rimba, sampai berbagai perundingan yang diikutinya, termasuk beragam tudingan dan fitnah, serta perpecahan GAM dan sebagainya
Bergrilya di rimba Aceh menemani Wali Negara Hasan M. di Tiro sampai kepada usaha-usaha diplomasi yang dilakukannya di dunia internasional. Husaini bersama Shaiman Abdullah menjadi orang Aceh Merdeka pertama yang menginjakkan kaki di Swedia dan melakukan komunikasi, koordinasi, dan membenahi kembali perjuangan Aceh Merdeka yang semakin terjepit dengan peraturan darurat militer yang diterapkan Indonesia.
Husaini Hasan juga menulis puisi. Salah satunya berjudul “Aceh Namamu” yang dibacakan sendiri dalam bentuk rekaman. Husaini Hasan berencana akan menerbitkan buku kumpulan puisinya. Ia juga menciptakan mars Aceh yang malam itu dibawakan paduan suara UIN Jakarta.
Buku “Dari Rimba Aceh ke Stockhlom” diterbitkan Batavia Publishing, penerbit buku politik dan sejarah yang digagas generasi muda Aceh, Aida MA dan Buchari Yahya. “Kami senang bisa menerbitkan buku ini. Dengan harapan memberi manfaat kepada banyak orang,” kata Buchari Yahya.(fik)
Kunjungi juga :
www.serambinewstv.com | www.menatapaceh.com |
www.serambifm.com | www.prohaba.co |