Breaking News

Opini

Giok ‘Berdarah’

SUMBERDAYA alam di banyak kisahnya sering menjadi petaka. Jika pun berkah, ia hanya dinikmati segelintir orang

Editor: hasyim

Oleh Teuku Kemal Fasya

SUMBERDAYA alam di banyak kisahnya sering menjadi petaka. Jika pun berkah, ia hanya dinikmati segelintir orang. Tak jarang penikmat sumberdaya alam itu para perekayasa konflik yang kejam. Satu kisah konflik sumberdaya yang difilmkan ialah Blood Diamond (2006) yang kini sedang diputar ulang di HBO.

Film yang naskah dan sutradaranya adalah Edward Zwick, sineas kawakan Amerika Serikat keturunan Yahudi yang juga sukses membuat film epik seperti Legend of The Fall (1994) dan The Last Samurai (2003), berkisah tentang perang saudara di negara Afrika barat, Sierra Leone.

Sepanjang 1996-2001 Sierra Leone menjadi negara dengan kekacauan tertinggi di Afrika akibat pemberontakan yang dilakukan kelompok Revolutionary United Front (RUF). Negara ini termasuk penghasil berlian dan pemicu hadirnya pemberontakan di daerah-daerah miskin. RUF membangun propaganda tentang kesejahteraan yang gagal diberikan pemerintah pusat. Para penduduk desa pendukung pemerintah disiksa dan diperbudak sebagai pencari berlian. Berlian-berlian itu digunakan untuk membeli persenjataan perang. Anak-anak mereka diculik dan dilatih menjadi pembunuh belia.

Namun karena negara ini dikenal penghasil “berlian berdarah”, pasar dunia menolak membelinya. Proses pembelian dilakukan dengan mengaburkan asal-usul berlian, dengan menyebut statusnya berasal dari Liberia; negara tetangga yang tak punya sejarah batu mulia. Seperti frasa di atas, konflik tidak selalu derita, ada saja yang menangguk keuntungan. Danny Archer (Leonardo DiCaprio), pemburu berlian yang menjual barang-barangnya ke Van de Kaap, perusahaan perhiasaan yang bereputasi internasional, adalah termasuk kaum oportunis di tengah derita masyarakat lokal.

Seseorang penduduk desa yang dijadikan budak pencari berlian, Solomon Vandy (Djimond Hounsou), menemukan bongkahan berlian sebesar bola golf. Ia menyimpan berlian itu di tengah hutan, dan tak menyerahkan ke komandan pemberontak. Sikapnya ini melahirkan ketegangan dan menjadi alur utama kisah perburuan.

Perang berkecamuk, anaknya diculik dididik menjadi pembunuh, dan perseteruan memperebutkan berlian yang ditemukannya semakin meruncing. Tak kurang pejabat militer kulit putih Afrika Selatan Kolonel Coetzee (Arnold Vosloo) ikut ingin ambil untung. Kasus ini terkuak ke dunia internasional berkat upaya tak kenal henti seorang wartawan Amerika Serikat Maddy Bowen (Jennifer Connelly). Sejak itu lahirlah “kesepakatan Kimberley” yang melarang perdagangan berlian dari daerah konflik, karena ikut mensponsori perang dan perbudakan.  

Efek budaya pop
Awalnya saya melihat fenomena budaya giok Aceh sebagai efek budaya pop yang melibatkan komunikasi kompleks di media massa, media sosial, dan komunikasi pasar para lelaki. Efek ini terjadi merata di Indonesia, bukan hanya di Aceh, tapi hampir di seluruh Indonesia. Di Jakarta, Sumatera Selatan, dan Jambi yang baru saya kunjungi demam batu akik sedemikian kemaruknya. Maluku juga mengaku memiliki batu-batu antik yang tak ada di kolong langit lain. Setiap orang menjadi pemeriksa tangan orang lain untuk mendeteksi batu cincin apa yang dipakai.

Ketika saya menggunakan cincin kecubung pucuk pisang, beberapa teman dari luar Aceh mulai penasaran. Ada kebanggaan memang menjadi pusat perhatian. Namun setelah itu apa artinya? Tidak ada, karena itu hanyalah batu dan bukan emas atau berlian yang memiliki kadar kemuliaan yang terstandarisasi.

Nilai atas batu itu terbangun bukan oleh fungsi dan nilai intrinsik yang terdapat pada batu itu, tapi resultante simbolisme bahasa yang cenderung dilambung-lambungkan (exaggerated). Mulailah bahasa tercekat aspek mitis bahkan mistis, bahwa kualitas batu di Aceh hanya ada dua di dunia (satu lagi entah di mana), menggunakan batu akan menambah kejantanan lelaki, baru sempurna laki-laki jika menggunakan batu, perempuan pun mulai peduli batu, dan segudang “perampokan denotasi bahasa”.

Kini kalangan “Giok mania” di facebook dan BBM sangat sering mem-posting tentang batu dan pelan-pelan terlibat bisnis virtual. Strategi awal komunikasi selalu menunjukkan antusiasme atas batu dan mengatakan tidak akan dilepas. Sekilas mirip model komunikasi bursa transfer pemain di liga-liga Eropa yang maksudnya menaikkan harga tawar.

Ketika dorongan tawar-menawar semakin riuh, sang penjual menunggu tawaran tertinggi untuk dilepas. Tak sungkan bersikap narsis, dengan menjadikan diri sendiri sebagai model dan mejejal seluruh jari dengan cincin. Gaya berbicara dan bersalaman pun berubah ala “tukang batu baru”. Padahal jika jeli, yang dijual adalah batu yang dulu biasa kita temukan di terminal Cunda atau di pelataran Pasar Aceh dengan harga terjangkau, seperti ruby, kecubung, giok, dan lavender. Metode komunikasi kompleks telah menggenjot harga batu hingga puluhan kali lipat.

Ketika itu hanya “lucu-lucuan” budaya populer kita bisa memakluminya. Kini memang sedang demam batu, biarkan saja. Ia seperti tren potongan rambut Demi Moore pada 1990-an atau lagu-lagu The Beattles, ada pasang naik dan surut. Tren budaya pop memang menjadikan komoditas bukan hanya dikonsumsi masyarakat, tapi menjadi teks yang secara aktif menyirkulasi pelbagai makna (banal) untuk kepuasan sistem sosialnya (John Fiske, 1995). Yang tidak lucu ketika fenomena ini mulai menimbulkan konflik sosial: saling hasut, perang, dan bacok seperti perebutan klaim 20 ton batu giok di Nagan Raya (Serambi, 13/2/2015).

 Meredam kerusakan
Seperti pesan film Blood Diamond, masalah batu akik telah bergeser dari fenomena keisengan menjadi problem yang kompleks. Benar, memburu batu lebih aman dibandingkan mendulang emas dengan merkuri, menebang hutan, atau berjualan ganja. Tapi isu-isu negatif lainnya tak pelak hadir. Beberapa daerah di Aceh mulai mempersiapkan rancangan perda (qanun) untuk mencegah pengelolaan batu ini menjadi petaka ekologis, kultural, dan sosial.

Ada juga yang melihat fenomena ini sebagai bahaya teologis baru, ketika batu dipercaya menjadi jalan kesejahteraan dan kebahagiaan. Ada juga yang membaca ini sebagai pesan serius dari kegagalan pemerintah lokal membuka lapangan kerja yang lebih produktif dan rasional bagi warga dibandingkan harus mengorek-korek tanah mencari yang belum pasti. Di Aceh saja, saat ini tak kurang 20 ribu orang terlibat bisnis ini, mulai penggali, pengepul, tukang asah, pembuatan ikatan cincin, pedagang eceran sehingga industri kartel yang berkuasa membuat iklan untuk melangitkan harga.

Halaman 1/2
Tags
Giok
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved