Opini

Giok ‘Berdarah’

SUMBERDAYA alam di banyak kisahnya sering menjadi petaka. Jika pun berkah, ia hanya dinikmati segelintir orang

Editor: hasyim

Tak sedikit orang mengaitkan buruknya kinerja pemerintah Aceh dengan fenomena suburnya praktik gali tanah seperti sekarang ini. Di atas bumi tak ada kesejahteraan, sehingga harus merunduk ke dalam bumi. Menjelang tiga tahun rapor pemerintah Aceh warna terlihat semakin merah dalam menunaikan rencana pembangunan jarak menengah yang telah disusun. Padahal ukuran-ukuran yang digunakan sangat minimal, berbeda dengan iklan ketika janji kampanye yang bombastis.

Di sisi lain, batu giok sudah berdarah. Harus bisa dipikirkan regulasi yang jauh dari semangat pemadam kebakaran karena imajinasi terbatas dan antena pendek. Harus ditempuh kebijakan yang bisa mengurai masalah batu ini sebagai jalan kebaikan bagi masyarakat dan lingkungan secara politik, kultural, dan ekonomi. Terhadap proses ekspolitasinya harus memperhatikan keseimbangan ekologis.

Demikian pula jaring-jaring perdagangannya harus menguntungkan pekerja hulu dan juga penduduk lokal. Skema perdagangan dalam film Blood Diamond adalah khas hunusan kapitalisme yang kejam, dimana lapis paling dasar adalah perbudakan dan pemerkosaan, dan lapis paling atas adalah raja penentu kesenangan (hedonisme) --tipikal bisnis ekstraktif.

Yang paling penting, terutama bagi daerah yang terdepan merumuskan moral dan etiket sosial, fenomena batu ini jangan membuka peluang pada “kemusyrikan” baru, akibat masyarakat gagal menggunakan akal sehat, malah mentahyulkan batu. Iman tanpa nalar, pasti hanya kelakar. In giok we trust!

Teuku Kemal Fasya, Antropolog Aceh. Email: kemal_antropologi2@yahoo.co.uk

Halaman 2/2
Tags
Giok
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved