Cerpen
Lubang-lubang Bernyanyi
KARIM tahu betapa ia mencintai puisi. Puisi baginya ibarat kekasih yang dirindukan menemaninya sepanjang
Karya Mahdi Idris
KARIM tahu betapa ia mencintai puisi. Puisi baginya ibarat kekasih yang dirindukan menemaninya sepanjang waktu. Tidur atau terjaga, ia tetap bersama puisi. Banyak kertas berserakan di atas mejanya yang tua itu bertuliskan bait-bait puisi. Puisinya bertema kesepian, cinta, benci, dendam, bahkan ada pula puisinya tentang pemimpin daerahnya yang ia pilih setahun lalu. Ah, tak terhitung banyaknya puisi yang ia karang selama dua puluh lima tahun itu. Seperti tak berbelas kasih, ia biarkan lembaran-lembaran puisinya berserakan di atas meja yang kian tua, sesekali dikencingi kucing betina bunting berbulu seuribu.
Berbekal pena dan kertas-kertas buram yang sebelahnya berisi soal-soal ujian sekolah dasar yang ia ambil di sekolah samping rumahnya, ia tuliskan puisi-puisi itu. Juga bertahun-tahun lamanya, puisi-puisi itu ia nikmati sendiri tanpa dimuat media cetak. Dua puluh lima tahun berpuisi, ia tak pernah mengirimkannya ke media manapun. Entah apa yang ia pikirkan sehingga tidak mengirimkannya. Semua itu ia nikmati sendiri.
Oya, dua tahun lalu, beberapa puisinya pernah dibaca Rahman seorang teman laki-lakinya. “Bagus sekali puisimu,” komentar temannya waktu itu sembarimenyunggingkan senyum padanya. Tapi Karim bergeming, menatap kelakuan temannya yang sedang menyusun rapi kertas-kertas berisi puisi-puisinya itu.
“Apakah kau tidak mendengarku?” tanya temannya, setengah membentak.
“Aku tidak tuli. Jadi, kenapa kau tanya begitu?”
“Begini, Karim,” temannya itu mengalihkan pembicaraan. “Kita sudah berteman sejak di bangku SD sampai kuliah. Kau satu-satunya temanku yang paling berprestasi. Kau punya nilai bahasa Indonesia yang baik, di atas rata-rata. Kuliahmu juga di jurusan Bahasa Indonesia. Berkali-kali menang menulis di tingkat mahasiswa. Yang selalu aku pikirkan, kenapa hidupmu begini.”
“Aku tidak mengerti, kenapa tiba-tiba saja kau mempermasalahkan tentang hidupku. Apakah menurutmu, hidupku ini bermasalah dengan orang lain?” Karim tidak membiarkan temannya itu mengatainya lebih lanjut. Ia tahu, temannya bakal mengatakan kenapa ia seolah membuang diri seperti ini, padahal ia punya bakat menulis yang luarbiasa. Ah, kalau hanya sekadar memujinya untuk memojokkan, banyak orang yang sudah melakukannya ketika mereka mendatangi rumahnya dalam kondisi seperti itu. Tak ada cara lain kecuali memojokanku, pikir Karim saat itu.
“Maksudku....”
“Ya, aku tahu maksudmu. Tapi tak usah kau bersilat lidah lagi. Perkataanmu sudah cukup bagiku untuk mengenang masa lalu. Bukankah masa lalu itu bagian dari kenangan? Kenangan tak usah dipikirkan, tapi terpikirkan!” balas Karim, suaranya makin datar dan menggema seolah keluar dari dadanya yang sesak.
“Baiklah begitu, aku takkan melanjutkannya lagi,” balas temannya. “Tapi kenapa kau tinggalkan sekolah tempatmu mengajar? Kenapa pula kau tidak kawin? Wajahmu tampan, kurasa banyak perempuan yang mau kau ajak kawin. Tak baik hidup terus begini. Suatu saat, kau akan sangat menderita. Tak ada yang merawat bila kau sakit.”
Karim tak pernah mau menyadarkan diri dari keadaannya saat ini. Ia tahu, banyak teman yang mengeluhkan tentang hidupnya. Dia seorang sarjana yang memiliki kemampuan di bidangnya, jurusan Bahasa Indonesia. Namun, semua orang tak mau tahu perkara batinnya yang mengalami tekanan. Betapa tidak, pada hari wisudanya dua puluh enam tahun silam, keluarganya yang terdiri dari ayah, ibu, dan kedua kakaknya ditembak membabi buta karena dituduh melindungi pemberontak. Bahkan mayat mereka dan rumahnya dibakar, hanya menyisakan arang dan debu lalu diterbangkan angin entah kemana. Semua itu meninggalkan luka dan keperihan yang amat dalam. Bagi Karim, itu penyiksaan dan penghinaan kepada yang ditinggal. Apalagi, satu demi satu orang kampung datang menjenguknya dan ada pula yang mengiriminya surat untuk melarangnya pulang karena ia sedang dicari-cari tentara. Sungguh, padahal Karim tak pernah terlibat dalam pemberontakan itu. Entah siapa yang telah memfitnah keluarganya dengan sedemikian keji.
Karim ingin mencari tahu siapa pelaku di balik semua itu. Kemudian tinggal di kota tempat perkuliahannya, bekerja serabutan untuk menopang hidup sembari menikmati penderitaan batin yang semakin hari makin terpuruk. Apalagi kemudian ia mendapatkan kabar bahwa Mila kekasihnya diperkosa orang tak dikenal saat pulang sekolah. Setelah dua tahun dipasung karena sakit jiwa, meninggal dalam kondisi mengenaskan. Tubuhnya membiru dan mulutnya berbusa. Kata dokter, kematiannya karena dipatuk ular berbisa.
Karim pulang ke kampung halamannya setahun setelah gelombang raya menghantam kota tempat tinggalnya dan perdamaian antara pemberontak dengan pemerintah. Pada saat itulah ia baru tahu bahwa keluarganya dibantai pada malam buta setelah ayahnya bertengkar dengan karyawannya di kantor. Berarti benar ayah difitnah melindungi pemberontak, ia membatin. Yang membuatnya makin geram, tukang fitnah itu sudah menjadi direktur perusahaan milik ayahnya. Bahkan dua tokonya yang dulu menjual bahan bangunan sudah beralih kepemilikan, dengan alasan bahwa mendiang ayahnya banyak utang pada pemilik baru.
Pada hari yang kacau balau oleh pikiran-pikiran tak menentu itu, Karim teringat Pak Dolah, gurunya di SD. Ia mendatangi sang guru itu hendak berkeluh kesah padanya. “Tak baik kau terus memikirkan keluargamu. Dendam dan putus asa itu dosa. Tuhan membalas surga bagi pemaaf. Sekarang lebih baik memikirkan masa depanmu. Sebab, apapun yang kita lakukan saat ini tak berarti. Kita rakyat, tak bisa berbuat apa-apa. Ingat, bukan kau saja yang merasa sakit hati atas peristiwa yang menimpa keluargamu. Semua orang kampung ini merasa kehilangan mereka, terutama kehilangan Bapakmu.”