Cerpen

Lubang-lubang Bernyanyi

KARIM tahu betapa ia mencintai puisi. Puisi baginya ibarat kekasih yang dirindukan menemaninya sepanjang

Editor: bakri

/Lubang-lubang, aku tahu kau kan bernyanyi sepanjang waktu/menari dalam kebiadaban/keadilan dan kesejahteraan hanya lambang cinta dunia/anggaran diperuntukkan bagi sanak saudara/dia hanya takut pada para penguasa jalanan yang tamak/lubang-lubang, teruslah bernyanyi dalam ketamakan/serulah dengan nada paling tinggi/melumat tubuh-tubuh tak berdosa/sebab mereka tumbal kebiadabannya/.

Sebagaimana anjuran Rahman, setelah puisi itu ditulis Karim sampai selesai. Rahman memperbanyak lembarannya, lalu ditempelkan di pertokoan dan pasar-pasar. Tak lupa juga ia mengirimkannya ke kantor pemerintah melalui kantor pos. Dan Karim merasa lega bahwa ia sudah berbuat baik kepada masyarakat, mengkritik pemerintah dengan sangat pedas karena kurang peduli pada jalan yang dilalui masyarakat berlubang sana-sini.

Namun Karim tak pernah berpikir akibatnya, dua hari kemudian ia didatangi dua lelaki bertubuh tegap, ia langsung digelandang ke kantor pimpinan daerah untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya yang telah menghina orang besar itu. Naas memang bagi penyair kita ini, ia dikenakan sanksi berupa kurungan penjara selama lima tahun. Bahkan, tak ada siapapun yang datang meminta maaf dan bersujud di hadapan pimpinan itu untuk membebaskannya dari jeratan hukum. Termasuk Rahman si pemilik ide itu, sudah seminggu Karim dalam penjara ia tak pula datang menampakkan hidungnya.

* Mahdi Idris adalah Ketua Umum FLP Cabang Lhoksukon. Buku kumpulan Cerpennya yang telah terbit: Lelaki Bermata Kabut (Cipta Media, 2011), Sang Pendoa (Yayasan Pintar, 2013) dan Jawai (Smart Writing, 2014). Buku kumpulan cerpennya yang akan terbit Asap dan Lelaki Kesepian. Saat ini menetap di Pondok Kates, Tanah Luas, Aceh Utara.

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved