Citizen Reporter
Ramalan Rasulullah Terbukti di Istanbul
PERJALANAN saya ke Istanbul adalah bagian dari paket perjalanan ibadah umrah plus Turki yang kami rencanakan
OLEH NUR ASIAH IBRAHIM, SAg, Mutawwif (Pembimbing) Umrah asal Banda Aceh, melaporkan dari Istanbul, Turki
PERJALANAN saya ke Istanbul adalah bagian dari paket perjalanan ibadah umrah plus Turki yang kami rencanakan jauh hari. Setiba di Istanbul, hal pertama yang saya rasakan adalah ketakjuban saat melihat suasana Istanbul dengan keindahan arsitektur kotanya. Aura sebuah kota peradaban lintas zaman serta ibu kota kekaisaran yang silih berganti dari masa ke masa itu segera terasa begitu menyengat.
Lama sudah cita-cita dan keinginan saya berkunjung ke Istanbul. Magnet utama yang terus-menerus menarik saya agar berkunjung ke Turki, khususnya Kota Istanbul untuk melihat bukti dan jejak ramalan Rasulullah Saw dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad.
Dalam hadis itu dikisahkan bahwa Abdullah bin Amru bin Al-Ash berkata, “Ketika kami duduk di sekeliling Rasulullah SAW untuk menulis, tiba-tiba Nabi ditanya tentang kota manakah yang akan dikuasai terlebih dahulu oleh umat Islam: Konstantinopel atau Roma. Rasulullah SAW menjawab, “Kota Heraklius lebih dulu dikuasai.” (HR Ahmad bin Hanbal al-Musnad 4/335)
Heraklius adalah Raja Romawi Timur atau Byzantium yang ketika itu beribukotakan Konstantinopel. Kemudian Rasulullah saw berkata lebih lanjut, “Kalian pasti akan membebaskan Konstantinopel, sebaik-baik pemimpin (panglima perang) yang akan menguasai Konstantinopel adalah penakluknya dan sebaik-baik pasukan yang mengalahkan Kontantinopel adalah pasukannya.” (HR Ahmad, ad-Darimi, al-Hakim)
Konstantinopel dijadikan ibu kota Byzantium tahun 330 M oleh Raja Konstantin Agung. Konstantinopel bermakna Kota Raja Konstantin.
Saat berdiri di tengah Taman Taksim Gezi Istambul, saya seperti merasa halunisasi seakan-akan suara Rasul seperti dalam hadis di atas terngiang-ngiang di telinga saya, “Kalian pasti akan menaklukkan Konstantinopel!” Dan memang benar, Konstantinopel yang sekarang bernama Istanbul telah menjadi salah satu pusat aktivitas umat Islam dunia, bukan lagi sentral Kristen Ortodok Yunani seperti halnya di masa kejayaan Romawi Timur/ Bizantium (11 Mei 330-29 Mei 1453) dulu.
Ramalan Rasulullah di atas bahwa Konstantinopel/Istanbul akan ditaklukkan umat Islam menjadi kenyataan 825 tahun kemudian. Semasa Rasul hidup, tahun 6 H/627 M Rasulullah saw pernah mengirim surat ajakan masuk Islam kepada Heraklius, Raja Byzantium di Konstantinopel. Setelah membaca surat Nabi itu, Heraklius memang tak jadi masuk Islam. Namun, insting dia akan kebenaran Islam dan kerasulan Muhammad saw segera muncul. Dengan suara dan badan bergetar Heraklius berkata, “Dia (maksudnya Rasulullah saw) kelak akan mampu menguasai wilayah yang dipijak oleh kedua kakiku ini.”
Pascawafat Rasulullah saw, sejak masa Khalifah Bani Umayyah sampai Kekhalifahan Turki Usmani telah dilakukan penyerangan terhadap Konstantinopel selama 29 kali. Bahkan salah seorang sahabat Rasulullah, Abul Aiyub Al-Anshari, syahid dalam penaklukan dan kini kuburannya terdapat di kaki bukit bekas benteng Kontasntinopel yang sekarang menjadi wilayah Kota Istanbul. Menjelang kesyahidannya, dengan sadar ia meminta, “Kuburkan aku di sini, agar ada alasan umat setelah kukembali lagi untuk merebut kota ini.”
Dalam interval waktu 825 tahun kemudian Konstantinopel baru berhasil ditaklukkan umat Islam, tepatnya pada pukul 3 pagi hari Selasa, 20 Jumadil Awal 857 H/29 Mei 1453 M di bawah pimpinan panglima perang terbaik, Sultan Muhammad Al-Fatih, Khalifah Turki Usmani ke-7.
Begitu masuk Konstantinopel, Al-Fatih langsung menuju Aya Sofya, gereja terbesar di kota itu. Al-Fatih memerintahkan agar gereja itu dialihfungsikan menjadi masjid dengan nama Aya Sofya Camii Kabir, Masjid Besar Aya Sofya. Dia juga memerintahkan agar Konstantinopel diubah nama menjadi Islambul yang berarti Kota Umat Islam.
Ketika Kekhalifahan Turki Usmani runtuh akibat ekses Perang Dunia II dan gejolak internal Turki, kemudian kaum Turki muda di bawah kepemimpinan Kemal Attaturk pada tahun 1923 M mendirikan Republik Turki Modern dan menyatakan pembubaran Kekahlifahan Turki. Sejak itulah Masjid Besar Aya Sofya kemudian diubah statusnya menjadi Museum Aya Sofia sampai kini. Nama Kota Islambul diubahnya menjadi Istanbul. Perubahan nama ini secara psikologis diharapkan Attaturk yang sekuler itu dapat mengikis peran Islam di Turki secara umum. Ibu Kota Republik Turki pun dipindahkan dari Istanbul ke Ankara.
Sekalipun Turki kini bersatus republik sekuler, namun dari Kota Istanbul saya lihat cahaya kebangkitan kembali Islam di bekas wilayah Khalifah Turki Usmani ini sangat menggembirakan. Istanbul sebagaimana mayoritas kota lainnya di Turki adalah basis pendukung Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) yang berideologi Islam. Kini Presiden dan Perdana Menteri Turki, termasuk Wali Kota Istanbul adalah kader AKP.
Istanbul alias Konstantinopel adalah bukti kebenaran nubuwwah Rasulullah saw. Dalam hadisnya Rasulullah menjanjikan bahwa pada suatu masa umat Islam akan menduduki/menguasai Konstantinopel dan Roma--dua kota episentrum Kristen Ortodok Yunani dan Katolik Roma. Penguasaan atas Istanbul/Konstantinopel telah menjadi kenyataan. Kita tunggu janji Allah menjadi kenyataan pada masanya nanti umat Islam akan menguasai Kota Roma. Insya Allah. Semoga kejayaan dan kehormatan umat Islam di seantero dunia kembali terbuhul dari Istanbul dan Roma.
* Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas bersama foto Anda ke redaksi@serambinews.com
Kunjungi juga :
www.serambinewstv.com | www.menatapaceh.com |
www.serambifm.com | www.prohaba.co |