Penyergapan Din Minimi
Din Minimi Janji Serang Balik
Nurdin bin Ismail Amat alias Din Minimi untuk pertama kalinya mengakui bahwa empat pria yang tewas dalam kontak tembak di wilayah
* Akui 4 Anggotanya Tewas Tertembak
Din Minimi, sosok paling dicari aparat keamanan di Aceh saat ini. Hampir semua kejahatan bersenjata di Aceh belakangan ini dikaitkan dengan namanya. Ia memang aktif merekrut anggota dan menghimpun senjata api dan amunisi. Tapi buat apa semua itu? Wawancara eksklusif Serambi ini akan menjawab apa yang ingin dicari sosok yang masih setengah misteri ini.
BANDA ACEH - Nurdin bin Ismail Amat alias Din Minimi untuk pertama kalinya mengakui bahwa empat pria yang tewas dalam kontak tembak di wilayah Pidie pada Rabu (20/5) malam dan Minggu (24/5) dini hari lalu merupakan anggota komplotannya.
Ia meminta Pemerintah Aceh bertanggung jawab atas meninggalnya empat orang anak buahnya itu dalam dua kali kontak tembak dengan aparat TNI/Polri, masing-masing di kawasan Gampong Gintong, Kecamatan Grong-Grong dan di Blang Malu, Kecamatan Mutiara Timur, Kabupaten Pidie.
Din Minimi menyebutkan, keempat anggotanya yang meninggal dalam kontak tembak itu adalah Yusliadi (Mae Pong), Marzuki, Ibrahim, dan M Rizal. Mereka punya keluarga, punya ayah, ibu, abang, dan adik. “Apabila Pemerintah Aceh tidak bertanggung jawab dan tidak menyelesaikan persoalan ini dengan baik, maka akan ada keluarga mereka yang balas dendam,” ujarnya saat menghubungi Serambi, Senin (25/5) kemarin kurang lebih 20 menit.
Ia juga berjanji akan melakukan serangan balik ke pihak-pihak yang sudah menyerang kelompoknya. Berikut kutipan wawancara dengan eks kombatan GAM yang masih mengangkat senjata dan punya sekitar 42 pengikut ini.
Apa yang Anda rasakan tiap kali terjadi kontak tembak?
Saya sedih, karena saya tidak melawan TNI/Polri. Tapi kalau sudah seperti ini saya pun bakal melawan, di mana dapat, akan saya tembak. Kalau selama ini saya menghindar karena saya tak punya urusan dengan TNI/Polri, tapi kalau sekarang di mana pun saya jumpa mereka akan saya tembak. Mungkin suatu saat pos-posnya pun akan saya serang.
Apa tujuan Anda mengangkat senjata di masa damai ini?
Tujuan saya untuk menuntut hak masyarakat Aceh, kesejahteraan bagi mantan kombatan, fakir miskin, anak yatim, dan janda korban konflik, serta turunan UUPA dalam bingkai MoU Helsinki harus segera diselesaikan. Semua itu demi keadilan. Perjuangan GAM dulu untuk kesejahteraan masyarakat Aceh. Saat ini masyarakat Aceh dilanda kemiskinan. Lihatlah yang kaya makin kaya. Sepuluh tahun sudah perdamaian Aceh, tapi tidak ada bukti yang memihak rakyat. Kalau seperti ini, musibah juga terus terjadi, tidak ada artinya perdamaian.
Kalau tuntutan saya ini tidak ditanggapi Pemerintah Aceh, Gubernur dan Wakil Gubernur, juga DPR Aceh, maka saya akan terus bertindak menuntut keadilan.
Kalau tuntutan sudah terpenuhi, Anda akan menyerahkan diri?
Menurut saya, kalau belum ada kesejahteraan bagi masyarakat Aceh saya tidak akan menyerahkan diri. Tapi, kalau Pemerintah Aceh sudah komit menyelesaikan dan merealisasikan sesuai tuntutan saya, maka saya siap menyerahkan diri dalam bingkai NKRI. Tapi kalau Pemerintah Aceh tidak komit menyelesaikannya, maka sampai titik darah penghabisan pun saya tetap bertahan memperjuangkan tuntutan saya.
Meskipun saat itu Anda tinggal sendirian?
Ya, meskipun saya tinggal sendiri.
Sampai saat ini berapa anggota Anda yang meninggal akibat kontak tembak?
Sudah empat orang, yaitu Yusliadi, Marzuki, Ibrahim, dan M Rizal. Kami yang tersisa ini tetap akan berjuang sampai habis umur, kecuali sudah mati.
Dalam beberapa kali kontak tembak apakah Anda ada ikut serta?
Saya ada ikut. Yang saya tidak ikut cuma pada waktu pengejaran dan penembakan Komeng dan Tgk Plang (di Desa Limpok, Aceh Besar -red).
Apakah Anda yang eksekusi dua TNI di Nisam Antara, Maret lalu?
Bukan, Abu Radak yang menembak TNI itu. Abu Radak sudah ditangkap, tapi kenapa didiamkan, tidak ditampakkan ke media? Orang dia yang eksekusi TNI, tapi kenapa kami terus yang dikejar-kejar? Apakah mau lanjut terus konflik di Aceh? Kalau mau lanjut, saya beserta anggota saya siap sampai titik darah penghabisan.
Panglima TNI Moeldoko mengimbau kelompok bersenjata di Aceh menyerahkan diri. Kapan Anda akan menyerah?
Saya mau menyerah apabila Pemerintah Aceh berkomitmen untuk menyelesaikan semua tuntutan saya. Tapi kalau belum, saya tidak mau menyerah, karena saya tidak ada salah pada TNI dan Polri.
Kontak tembak di Aceh mengingatkan orang kembali ke masa konflik. Apakah Anda ingin membuat Aceh kembali berkonflik?
Saya hanya menuntut hak kesejahteraan kepada Pemerintah Aceh, hak mantan kombatan, fakir miskin, anak yatim, dan janda korban konflik, serta agama Islam jangan tergoyahkan oleh agama Kristen. Itu saja yang saya mohon kepada Pemerintah Aceh.
Apabila tuntutan Anda tak dipenuhi, apakah Anda akan tetap angkat senjata?
Seterusnya dan selamanya sampai titik darah penghabisan saya tetap bertahan dan angkat senjata. Saya terus berjuang meskipun Yusliadi (terkadang Din Minimi menyebutnya dengan nama Yusrizal -red) telah meninggal tertembak di depan mata saya. Waktu dia terkena tembakan, saya berusaha menggendongnya. Setelah tak sanggup lagi, barulah saya tinggalkan. Ingat, kepemimpinan Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf hanya lima tahun, kalau tuntutan saya tidak direspons, maka nanti setelah habis masa jabatannya ke rumahnya saya ambil mereka.
Kalau TNI/Polri terus memburu Anda dan kelompok, apakah Anda akan melawan?
Saya siap melawan, saya berjuang menuntut hak demi keadilan. Saya sudah rela habis nyawa. TNI/Polri jangan gagah kali memburu kami, jangan berondong kami, biarkan kami selesaikan dulu urusan kami dengan Pemerintah Aceh. Pemerintah Aceh harus bertanggung jawab terhadap anggota saya yang menjadi korban. Mereka punya keluarga, punya ayah, ibu, abang, dan adik. Sampai kapan pun kalau tidak dibereskan masalah ini, pasti akan ada keluarganya yang balas dendam. Kalau perang di Aceh seperti orang makan pulut, tidak akan pernah muak. Jadi, saya minta kepada Pemerintah Aceh jangan mencetak perang, jangan mencetak konflik.
Kalau konflik dicetak, saya pun siap berperang melawan Pemerintah Aceh, karena selama ini anggota saya terus terbunuh. Saya selama ini tak pernah menembak TNI/Polri, tapi tunggu saatnya nanti saya akan serbu pos-pos. Di Grong-Grong, Pidie, sudah pernah dinaikkan GLM (mesin pelontar granat -red) dari pukul 12 malam hingga pukul 7 pagi TNI/Polri kontak tembak dengan saya, tapi insya Allah, saya masih dilindungi Allah. (tim)