Khazanah Aceh
Tradisi Meugang Di Kesultanan Aceh
Catatan mameugang di Kesultanan Aceh tidak dicatat lengkap oleh Snouck. Ia menyinggung sekilas fenomena meugang di Aceh dan keberagamannya di masyarak
SETIAP menjelang Ramadhan, masyarakat Aceh akan menyambut bulan penuh berkah dengan cara khas, yakni tradisi mameugang atau meugang.
Tradisi ini dipercaya telah melekat sejak era Kesultanan Aceh, sebuah tradisi yang dijalankan oleh Sultan dan Sultanah di wilayahnya menjelang Ramadhan sebagai rasa syukur dan senang menyambut Ramadhan.
Cerita sejarah inilah yang diinvetarisir melalui teks-teks tertulis (manuskrip) masa lampau, guna melacak khazanah Aceh masa lampau dan direviitalisasi kembali menjadi sebuah paduan, dan tidak menjadi mitos belaka.
Tidak mudah untuk menemukan tradisi-tradisi tahunan yang berlaku di Aceh seperti meugang, meulaot, tradisi blang, hari Asyura, ataupun acara lainnya dalam catatan-catatan lokal. Hal ini banyak menyulitkan peneliti asing untuk melihat Aceh seacra komrehensif masa lampau. [Lihat VIDEO TRADISI MEUGANG DI ACEH]
Tradisi meugang di era kesultanan Aceh tercatat dalam naskah Adat Aceh yang dikoleksi di Verhandelingen di London di India Office Library, dan dua salinan lainnya ada di Perpustakaan Leiden. Kemudian Koninklijk Instituut voor Taal-, Land-, en Volkenkunde, (KITLV) Jilid XXIV, Den Haag-Belanda mengoleksinya.
Pada tahun 1850, Braddell menerjemahkan beberapa bagian teks. Dan G.W.J Drewes dan P. Voorhoeve pada tahun 1958 menerbitkan sebuah faximile yang direproduksi dalam bentuk foto memungkinkakn teks berhuruf Arab-Jawi itu bisa langsung dibaca. Pada tahun 1976 ditranskripsi kembali oleh Teungku Anzib Lamnyong.
Pada tahun 1985, melalui Departemen P dan K, Ramli Harun dan Tjut Rahma MA Gani mengalihaksara kembali teks “Adat Aceh” yang sama.
Di sinilah diketahui bahwa teks “Adat Aceh” tertanggal 3 Desember 1815 berasal dari W.E Philips yang menemukannya di Pulau Pinang (Penang) ketika ia menjadi gubernur di koloni Inggris sampai tahun 1824.
Oleh karena itu, sepertinya agak sulit menemukan varian lain di Aceh saat ini, walaupun di sisi lain kita masih bersyukur, khazanah indatu Aceh masih terselematkan dan tersimpan di banyak negara di luar negeri.
Teks bagian meugang diawali pada saat para petinggi Kesultanan Aceh bermufakat tentang awal puasa dan meugang.
“Maka orang kaya Seri Maharaja Lela duduk musyawarah sekalian majelis Raja, Majelis Hulubalang, Majelis Tabal pada hari mameugang Puasa, dan Majelis berangkat yang kedua Hari Raya dan Majelis Junjung Duli dan Majelis berangkat hari Jumat, dan Majelis berangkat bulan Safar dan Majelis jaga-jaga dan Majelis Bandar Darussalam sekalian tersurat.”
Majelis Tabal merupakan lembaga kerajaan yang mengurus meugang puasa.
“Alkisah maka tersebutlah perkataan Majelis Tabal pada hari mameugang puasa. Maka datanglah syahbandar dari Seri Rama Setia membawa antatan [hantaran] pada malam 30 hahri Sya’ban ke hadapan Biram serta menantikan bulan [hilal]. Jikalau tiada keliahatan bulan, maka bermalamlah dihadapan Biram serta dengan antatannya.”
Masih dalam sumber yang sama, adat hantaran mameugang disertai dengan bumbu masakannya yang diserahkan kepada Tun Diwa Berani berupa kerbau satu ekor, bawang putih satu cupak, jintan putih 1 cupak, ketumbar 1 cupak, dan kunyit kering 1 cupak.
Pada masa menunggu hilal para petinggi Kerajaan akan dijamu oleh Sultan Aceh di Istananya. Hadiah bawaan tersebut menjadi bagian dari hadiah jamuan nantinya selama satu atau dua hari.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/makmeugang_20150615_214537.jpg)