Damai Aceh
Ketika Kehangatan Menyapa para Aktor Damai
DOTO Zaini Abdullah tampak tersenyum sumringah. Tangannya menyalami erat beberapa lelaki berpenampilan necis
Perjanjian damai antara RI-GAM dilandasi atas niat untuk membawa perubahan bagi masyarakat Aceh. MoU Helsinki lahir karena cita-cita untuk kemajuan Aceh, dan melawan ketidakadilan.
Menurut Doto Zaini peringatan 10 tahun MoU Helsinki menjadi momentum untuk mengenang masa lalu, dan menyongsong masa depan. Masa lalu adalah cermin, masa depan adalah harapan. Kini hanya ada satu kata lagi yang dinanti rakyat setelah perdamaian, yaitu pembangunan.
“Tak ada perdamaian tanpa pembangunan,” ujar Doto Zaini yang pernah aktif sebagai dokter di sejumlah rumah sakit di Swedia (1982-2005).
Momentum ini tentu harus berlanjut. Cita-cita damai tidak boleh berhenti, meski banyak aral melintang di depan mata.
“Saya akui, belum semua janji perdamaian itu sudah terlaksana dengan mulus. Masih ada beberapa hal yang tersendat,” ujar Doto.
Namun tidaklah dapat dipungkiri, perdamaian yang telah menanjak 10 tahun ini telah membawa banyak perubahan besar bagi rakyat Aceh.
Mantan Ketua AMM Pieter Fieth juga ikut merasakan buah dari perdamaian Aceh setelah 10 tahun lalu ia bersama timnya terlibat langsung mengawal proses itu.
Menurut Pieter sebuah kesempatan istimewa ia dapat kembali ke Aceh melihat perkembangan damai dan pembangunan di Bumi Serambi Mekkah.
Bahkan lelaki asal Belanda itu juga merasa terharu dan bangga karena rakyat Aceh mampu merawat damai hingga direntang waktu 10 tahun ini.
“Perdamaian telah membawa harapan baru bagi masyarakat Aceh. Saya merasa amat terhormat berada dalam proses ini,” ujar Perwakilan Khusus Uni Eropa di Kosovo itu. (*)