Breaking News:

Opini

Guru, Belajar dari Kebangkitan Jepang

ENAM hari setelah bom atom dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki pada 1945, yang menyebabkan Jepang

Editor: bakri

Oleh Jamaluddin

ENAM hari setelah bom atom dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki pada 1945, yang menyebabkan Jepang menyerah tanpa syarat pada Perang Dunia II (1942-1945), Kaisar Hirohito (bertakhta 1926-1989) berupaya membangun kembali bangsanya yang sudah porak-poranda itu. Ia memerintahkan menteri pendidikannya untuk menghitung jumlah guru yang tinggal dan masih hidup. Satu sumber menyebutkan bahwa jumlah guru yang tersisa di Jepang pada saat itu adalah sebanyak 45.000 orang. Sejak itu, Kaisar Hirohito gerilya mendatangi para guru yang tinggal itu dan memberi perintah juga arahan. Rakyat Jepang sangat menjunjung titah dari Kaisar ini dan dilaksanakan dengan penuh komitmen dan konsekuen.

Ada lima perintah atau arahan yang harus dilaksanakan oleh para guru dan dipercaya dapat membangkitkan serta memajukan negara Sakura ini kelak: Pertama, guru harus melaksanakan pendidikan yang bermutu. Hal ini tentunya perlu menjadi pemikiran kita, sebab dalam konsep yang lebih luas, mutu pendidikan mempunyai makna sebagai ukuran sebuah proses dan hasil pendidikan secara keseluruhan. Proses pendidikan merupakan suatu keseluruhan aktivitas pelaksanaan pendidikan dalam berbagai dimensi baik internal maupun eksternal.

Faktor-faktor yang menentukan mutu pendidikan terletak pada unsur-unsur dinamis yang ada di sekolah dan lingkungannya sebagai suatu kesatuan sistem. Satu unsurnya ialah guru sebagai pelaku terdepan dalam pelaksanaan pendidikan di tingkat institusional dan instruksional. Oleh karena itu, Guru harus mampu membuat dirinya bermutu agar pendidikan itu bermutu, pemerintah dan masyarakat juga harus mendukung untuk bermutunya guru.

Kedua, guru harus disiplin dari murid. Disiplin sangat penting artinya bagi guru dan siswa. Ada indikasi bahwa orang-orang yang berhasil dalam bidangnya masing-masing, umumnya mempunyai kedisiplinan yang tinggi. Sebaliknya orang yang gagal, umumnya tidak disiplin. Para Guru perlu menyadari dan menanamkan nilai-nilai yang terkandung dalam berbagai pengetahuan, dibarengi dengan contoh dan teladan, serta disiplin. Guru sebagai penegak disiplin, baik di dalam maupun di luar kelas, harus membimbing muridnya sebagai anggota masyarakat yang disiplin. Bak kata pepatah kalau guru kencing berdiri anak kencing berlari.

Sekolah-sekolah yang maju dan favorit dengan berbagai julukan seperti sekolah efektif, sekolah model juga sekolah unggul, dipercaya sangat ketat dalam penegakan disiplin sehingga berkorelasi dalam meningkatkan mutu pendidikan sebab dengan adanya disiplin semua ketentuan dan tindakan, terutama mengenai proses belajar-mengajar di sekolah dapat berjalan dengan baik dan lancar. Guru di sekolah memegang peranan yang sangat menentukan kelancaran proses belajar mengajar, karena tanpa guru tidak mungkin proses belajar-mengajar dapat berjalan.

Ketiga, guru harus lebih pintar dari murid. Guru memang semestinya dipilih dari orang-orang pilihan, di beberapa Negara maju yang penulis kunjungi, pendidikan guru memang menjadi favorit. Korea Selatan sebagai contoh, Fakultas Pendidikan (Teacher Training) menjadi favorit dan sangat kompetitif setelah Fakultas Kedokteran, pendidikan guru masuk sangat ketat. Ini membuktikan bahwa untuk menjadi guru memang harus lebih pintar. Tapi sebaliknya di negera kita betapa mudahnya kriteria menjadi seorang guru.

Ironisnya lagi untuk memenuhi UU No.14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen kita rela melaksanakan pendidikan guru yang tidak bermutu memenuhi selembar ijazah Strata Satu (S1) yang merupakan syarat administratif untuk menjadi guru. Bahkan ada lembaga pendidikan tinggi yang terang-terangan membuka kelas-kelas di pelosok daerah dengan proses yang tidak bermutu. Alhamdulillah Kopertis wilayah XIII Aceh telah menyosialisikan aturan-aturan agar LPTK tidak melakukan pendidikan kelas-kelas jauh karena dapat merusak sistem pendidikan di daerah ini menjadi tidak bermutu.

Kualitas pendidikan sangat ditentukan oleh kualitas guru. Jadi, guru itu haruslah orang-orang pilihan, tidak boleh sembarangan. Guru itu harus cerdas, mengajar dengan hati dan bersemangat. Juga yang paling penting adalah, guru harus punya keperibadian yang baik, tidak boleh asal-asalan. Ada ungkapan mengatakan “Jika ingin muridnya pintar, guru harus lebih pintar. Jika ingin gurunya pintar, kepala sekolah harus lebih pintar. Jika ingin kepala sekolah pintar, kepala dinas harus lebih lebih pintar. Sesungguhnya air itu akan mengalir ke bawah dan memengaruhi kualitasnya”.

Keempat, pendidikan itu harus bisa menuntun industri. Berdasarkan data Survei Angkatan Kerja Nasional, pada 2013, dari jumlah 114.021.189 orang, tenaga kerja dengan pendidikan SD ke bawah menempati posisi terbanyak yaitu 54,62 juta orang (48%), disusul yang berpendidikan SMP sebanyak 20,29 juta orang (18%). Secara keseluruhan, dari 2008 sampai 2013, terjadi peningkatan penyerapan tenaga kerja menurut pendidikan tertinggi yang ditamatkan. Sedangkan tenaga kerja dengan pendidikan SD ke bawah justru mengalami penurunan dari 55,33 juta orang menjadi 54,62 juta orang.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved