Cerpen

Negeri yang Tenggelam

SIANG itu adalah hari yang menyengat ketika aku mendapati diriku di atas balok kayu seukuran semeter, tanpa sehelai pakaian

“Mungkinkah hari ini kiamat?” aku kembali membatin.”Entahlah! Yang kutahu hari ini adalah bencana. Tetapi kenapa aku yang tersisa?Aku hanyalah manusia bebal yang hidup ongkang-ongkang kaki saja di negeri yang mulia ini. Kenapa Tuhan selalu menyisakan manusia-manusia bodoh dan bebal sepertiku di negeri ini? Atau Allah memang sengaja menenggelamkan negeri ini sebagaimana negeri-negeri yang telah ditenggelamkan-Nya?” Kemudian menyisakan manusia-manusia dungu sebagai penghuninya?” Begitu hatiku bertanya namun tak ada satu pun jawaban yang terjawab.

Pikiranku telah buntu, aku tidak bisa berpikir, dan hanya bisa duduk terpaku seraya memeluk lutut. Angin berhembus, meriakkan air, menggerakkan arus, yang perlahan mengombang-ambing balok kayu yang kududuki. Matahari semakin terlihat jauh begitu aku dikejutkan oleh teriakan orang-orang minta tolong di kejauhan. Tampak olehku sejumlah orang sedang terombang-ambing di bagian lautan lain, melambai-lambaikan tangan minta bantuan.

“Oh, masih ada juga manusia bebal yang tersisa.” Seuntas senyum tersungging di wajahku. Senyuman yang sering aku lepas ketika menyaksikan orang lain sengsara. Ketika sadar bahwa bumi ini masih dalam kutukan, lekas-lekas aku memperbaikinya kemudian menangis menyesal. Aku kembali menyeret balok kayu itu mencari muasal suara, dengan tanganku yang kurus aku mendayung dengan sabar.

Aku tercengang dan bingung melihat semua ini.Banyak sekali manusia terdampar, tangan dan kakiku gemetaran, aliran darahku terasa terhenti menyaksikan pemandangan di depan mataku.

“Oh Tuhan, apa yang sebenarnya sedang terjadi di sini?” gumamku lirih. Orang-orang negeri ini sedang tenggelam. Cuma aku seorang yang tersangkut di atas balok kayu, sedangkan banyak manusia lainnya terombang-ambing tanpa ada suatu benda pun untuk bergelayut, yang menahan tubuh mereka agar tidak terbenam. Mereka semua menangis, menjerit-berenang kesana-kemari dalam hiruk-pikuk mencari tumpangan, ada dari mereka yang bergelayutan pada tubuh saudaranya hanya demi mempertahankan hidup tanpa perduli bala yang menimpa orang lain karena ulahnya. Ada yang berputus asa membiarkan saja tubuhnya tenggelam. Aku tercengang tidak berani mendekat, balok kayu ini hanya bisa menampung seorang lagi.Jika aku memilih salah satunya, bagaimana dengan yang lain?

Salah seorang dari mereka-entah lelaki atau perempuan, aku tidak bisa mengenalinya dengan baik karena jarak yang jauh-mencoba berenang mendekatiku, ia mengayuh dengan tenaganya yang tersisa, berusaha berenang seperti seekor hiu yang terdampar. Sedangkan beberapa lagi di belakangnya, mengikuti gerakan yang sama.Aku terduduk lemas menanti mereka mendekat. Dari jarak sekitar sepuluh meter, aku sudah cukup mengenalinya, ternyata ia seorang perempuan. Ia tampak begitu tua dan kelelahan berenang, berkali-kali kepalanya terbenam,tersedak, mulutnya mengap-mengap dengan wajah pucat memerah, berkali-kali terbatuk-batuk—buhuk--lantaran terminum air.

Sekuat tenaga yang kian berkurang dan gerakan yang melemah, ia tak kuasa lagi mendekatiku yang hanya termangu-mangu memandangi tanpa berbuat apa-apa. Ia pun menangis melambai-lambaikan tangan yang kian melemah, sebelum akhirnya ujung tangan itupun menghilang tenggelam. Akupun tersadar kemudian, tersentak, dan tergesa-gesa mengayuhkan balok kayu mendekatinya, namun terlambat. Aku hanya dapat menyaksikan bayangan hitam merambat cepat ke bawah, dan hanya mendapati gelembungan terakhir dari sisa napasnya yang menyembul ke permukaan. Seluruh urat nadiku terasa putus aku seperti lumpuh tidak bisa bergerak. Melihat pertaruhan hidup yang sedang berlangsung di depanku, Aku tidak mampu lagi menahan air mataku yang tumpah.

Aku menoleh ke arah yang berlawanan, ke kiri juga ke kanan. Di sana aku melihat masih ada berapa lagi manusia yang masih bertahan. Namun sepertinya mereka tak sanggup lagi berenang jauh, hampir seluruh tenaga mereka terkuras. Aku tidak tahu berapa lama sudah mereka terdampar di sini. Selama ini aku telah hidup hanya mementingkan diriku sendiri tidak ambil peduli akan kesusahan yang menimpa orang lain.

Aku mengayuh lagi, bergerak ke arah kiri, mendekati salah seorang lainnya yang tak jauh dariku. Aku berusaha tidak melakukan kesalahan kedua kalinya. Balok yang membawaku terombang-ambing-timbul tenggelam di atas air. Ketika tiba di hadapannya aku menahan laju dengan kedua tanganku. Ia adalah seorang perempuan, dan memang lebih banyak perempuan, semuanya telanjang. Sejenak aku tercenung melihat makhluk cantikyang seperti duyung itu berenang-renang kesusahan. Tak ubahnya serupa makhluk dalam cerita tentang negeri dongeng. Ia seorang gadis berambut hitam, rambutnya basah terburai. Kulitnya putih dan warna matanya cokelat. Bila aku perkirakan umurnya tidak lebih dari dua puluh tahun, beda jauh sepuluh tahun dari umurku.

“Tuan, tolonglah aku,” dia memohon lirih dengan napas yang tersenggal-senggal.” Aku sangat letih. Aku tidak sanggup bertahan lagi,” lanjutnya memelas.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved