Cerpen

Kita Memang Sendiri

PADA suatu pagi di bulan Februari 2015, ketika udara masih sejuk, sesosok laki-laki tua menapaki jalan raya Setui, lalu berbelok ke jalan

“Karena aku cinta kepadamu! Cinta dengan segenap hati nuraniku!” jawab Mira.

Nuswar dapat merasakan, betapa menyentuh dan dramatisnya adegan itu. Lebih-lebih kalau menyimak ekspresi Jamilah dan tekanan kata-katanya saat mengucapkan dialognya. Terasa begitu pekat dia menghayati adegan itu.

Bukan hanya Nuswar yang terkesan dengan laku Jamilah. Ahmad Kacong, salah seorang senior ISMU, yang menyutradarai pementasan itu, ikut terkesan juga. “Belum pernah kusaksikan si Milah bermain begitu ekspresif, Nuswar. Begitu penuh dia menghayati perannya sebagai Mira itu. Kalau kuingat, dia itu masih murid SGKP, sukar kubayangkan, dia bisa seperti itu. Aku jadi curiga, Nuswar, jangan-jangan apa yang dia ucapkan itu bukanlah sekadar dialog antara Mira dengan Awal, tetapi sepenuhnya pernyataan Jamilah kepada Nuswar, he-he-he!”

“Janganlah bilang begitu, Bang! Awak kira, itu hasil akting sepenuhnya Jamilah sebagai Mira. Bukankah Abang sendiri yang pernah bilang, Jamilah itu besar bakatnya dalam seni peran. Mudah dia menghayati, lalu masuk ke dalam peran yang sedang dilakoninya. Kemudian diejawantahkannya dalam akting.”

“Betul itu! Tetapi sepenuh apa pun penghayatan seseorang itu, masih dapat dilihat bedanya dengan apa yang dilakukannya karena gerak hati. Paling sedikit, itulah yang kulihat pada si Milah saat dia mengucapkan dialognya itu.”

“Mengapa pula Abang nampak memaksa?”

“Aku tak memaksa. Aku hanya mau ingatkan kau, Nuswar, supaya tak kau abaikan isyarat itu. Kau yang akan rugi nanti, he-he-he!”

“Bang, awak kira, awak ini termasuk orang yang tahu dirilah!”

“Apa pula urusannya dengan soal tahu diri itu!?”

“Abang kan dapat melihat sendiri, awak ini siapa, Jamilah itu siapa.”

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved