Cerpen
Hujan
SUDAH lima hari hujan mengguyur bumi dengan lebat, sehingga nenekmemutuskan
Semenjak perang berkecamuk, hidup memang menjadi serba sulit. Ketakutan senantiasa mengiringi setiap tarik-hembus nafas kami.Sebulan lalu saat aku pergi bersama nenek menjenguk sawah, sempat-sempatnya kami berpas-pasan dengan Ampon Tayeb. Baik nenek dan aku tahu, berjumpa dengan Ampon adalah kesialan terbesar. Dia pengikut panglima. Beberapa orang kampung tak pernah kembali setelah diambil tentara pemerintah karena katahuan berinteraksi dengannya. Dia sendiri warga meurandeh, yang berbatasan dengan sungai kampung ini.
Saat itu Ampon berjalan mengendap, persis di perbatasan sawah dengan perkampungan. Beberapa orang juga berjalan di belakang dan di depannya. Salah satunya Rahim, teman SMA-ku. Mereka memang kian aktif menyerang tentara di meurandeh. Mengincar pos-pos mereka dari jarak yang tak dekat, bahkan terlalu jauh. Setelah menyerang,Ampon bergegas berlari berenang ke kampung ini. Setiap orang di sini, bahkan bayi yang belum lahir akan tahu, setiap terjadi satu penyerangan, maka beratus-ratus tentara akan menyeberang ke sini untuk mengejar kelompok Ampon Tayeb. Dan warga sekampung akan menjadi bulan-bulanan kekejaman mereka.
***
Di langit, awan hitam masih menebal. Hujan terasa kian deras mengguyur. Kubetulkan posisi terpal anti hujan buatanku. Kami berjalan berbaris di jalan lintas desa kami. Puluhan perempuan lain juga masing-masing memakai satu terpal anti hujan buatan mereka. Semua perempuan telah sepakat memotong padi lebih awal, karena jika hujan sampai mengguyur hingga delapan hari sawah kami akan tenggelam dan padi akan membusuk.
Kami berjalan beriringan berempat. Selain aku dan nenek, Mi Saudah dan Ma Rabiah juga telah sepakat untuk saling ‘menghutangkan tenaganya’ untuk kami.Mereka juga punya sawah masing-masing, karena itu kami harus berkongsitenaga untuk saling membantu. Jika tak begitu jangan harap padi di sawah akan terselamatkan.Berkongsi tenaga juga dilakukan oleh semua perempuan di kampung ini.Karena menunggu kaum lelaki datang membantu sama saja mengharap mereka berhasil memerdekakann negeri ini setelah perang berlangsung selama berpuluh tahun.
Para lelaki dewasa kami telah lama pergi ke Malyasia atau ke Banda Aceh. Hanya beberapa yang memilih tinggal. Sebagian bergabung dengan pemberontak, sebagian lagi adalah remaja tanggung dan tetua kampong serta bilal meunasah; keberadaan mereka memang tak bisa ditawar. Jika mereka ikut pergi, siapa lagi yang akan memandikan jenazah dan memimpin tahlilan, padahal memandikan jenazah akhir-akhir ini adalah kegiatan sehari-hari. Setiap tiga harimesti ada mayat mengapung di sungai yang tak mungkin kami biarkan hanyut begitu saja.
Namun sesekali, baik pemberontak maupun mereka yang bekerja ke Malaysia dan Banda akan pulang menjenguk keluarga.
Mereka memilih Bandakarena katanya tentara disana tak seganas yang kampung. Tentara di kota tak sampai seberani Letkol Subroto yang empat tahun lalu memaksa lelaki sekampung berjalan telanjang sambil mengangkat tangan ke atas kepala.
Betapa kejadian itu sebuah aib yang akanterus menghantui meski suatu hari nanti kami benar-benar merdeka. Perempuan dan anak-anak dipaksa datang ke meunasah mengiringi parade telanjang para lelaki. Teungku Imum bahkan tersungkur jatuh karena penyakit jantungnya kambuh. Ia yang paling alim telah dipaksa berparade telanjang ditonton wanita sekampung.Padahal kesalahan mereka nyaris tak ada, kecuali hanya duduk berkumpul di warung kopi dengan jumlah yang banyak.Letkol Subroto jelas berbohong ketika katanya para lelaki kami mengadakan rapat untuk mendukung pemberontak.
Di meunasah, ayah yang saat itu tak kuasa menahan malu mencoba menurunkan tangannya untuk menutup bawah pusarnya; di saat itulah anak buah Letkol Subroto menariknya dari barisan. Ayah diseret ke depan. Sesaat mata ayah sempat berpaling berusaha menemukan kami, selanjutnya beliau ditendang hingga terjatuh dan dipaksa berbaring. Sangat jelas kulihat ujung M16 ditempel pada jidat ayah, dan itulah saat terakhir ayah...
Sejak peristiwa itu dan puluhan peristiwa lain sebelumnya, para lelaki memilih eksodus meninggalkan kampung. Hanya beberapa yang memilih tinggal; mereka pula yang kerap dianiaya setiap saat setiap kali tentara beroperasi di kampung.
Sebenarnya di kampung ini tidak ada tempat persembunyian pemberontak, namun jalan yang mereka pakai keluar-masuk persembunyian jelas dari kampung ini. Yang paling menyusahkan kami, sekali tentara masuk kampung, keadaan mencekam bisa berlangsung selama berminggu-minggu. Kami sudah cukup hafal bagaimana mereka bergerak. Bahkan tentara betah tiarap di pinggir jalan hingga berhari-hari demi menjebak pemberontak. Namun sialnya yang sering terjebak justru warga kampung.
“Kau tahu berapa lama beras kita akan bertahan jika panen ini gagal?” Tanya nenek pada Ma Rabiah.
Baik Ma Rabiah dan Mi Saudah tak menjawab. Nenekku pun sepertinya tak butuh jawaban kedua temannya itu. Kami terus berjalan. Karena semua perempuan di sini tahu persediaan beras hanya cukup barang seminggu dua minggu lagi.
“Jika hujan raya begini, banyak sekali pun beras di rumah mau kita masak pakai apa?” gerutu Mi Saudah setengah frustasi. Cadangan kayu bakarnya sudah habis sejak kemarin. Mi Saudah bukannya tidak mengumpulkan kayu bakar saat musim kemarau, tapi semua cadangan kayu miliknya habis terendam dalam semalam. Rumahnya terlalu dekat dengan bibir sungai. Tak mudah menghadapi air yang meluap tiba-tiba di malam buta.