Cerpen

Hujan

SUDAH lima hari hujan mengguyur bumi dengan lebat, sehingga nenekmemutuskan

Editor: bakri

Hujan masih deras saat semua perempuan tiba di sawah. Kami berdiri dengan barisan panjang di tanggul menghadap sawah. Hujan belum akan mereda. Tapi hanya beberapa meter di hadapan kami hamparan sawah telah tenggelam. Semua melihat dengan cemas. Debit air telah bertambah begitu cepat. Di beberapa sudut sawah padi hanya terlihat pucuknya saja. Panen tak mungkin kami lakukan. Tak mungkin kami menyelam memotongnya.

Tapi kecemasan semakin besar manakala sekelompok tentara tiba-tiba muncul di balik hutan yang berbatasan dengan sawah. Berbalut mantel loreng anti hujan, mereka berjalan menuju kami. Jumlahnya jauh lebih banyak dari kami.Sayup-sayup terlihat seseorang sedang digiring. Semakin dekat semakin jelas terlihat orang yang digiring. Ia hanya mengenakan kolor, iaterlihat cukupkedinginan, begitu lemah dan pucat sekali.

“Siapa di antara kalian yang mengenal bajingan ini?!” Tanya pajurit berbadan tinggi sambil menunjuk muka orang itu dengan ujung M16 miliknya.

Tak ada yang menjawab. Meskipun sebenarya tak ada dari kami yang tak kenal dengannya. Dialah Rahim. Rahim yang dalam ketakutannya berusaha melirik jilbab cokelat yang kukenakan

Entah kenapa tiba-tiba bibirku bergetar, ada rasa sayang yang teramat besar. Semua perempuan di sini tahu, Rahim akan ditembak mati, beberapa saat lagi, atau Rahim akan disika hingga berhari-hari sampai ia menunjukkan markas teman-temannya. Aku menyesal, sejak SMA tak ada suratnya yang kubalas. Andai waktu bisa berulang.

* Ibnoe Hadjare, seorang wartawan. Bergiat di Komunitas Kanot Bu

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved