Opini
Tjut Nyak Dhien ‘The Queen of Aceh Battle’
MOMENTUM memperingati Hari Pahlawan 10 November 2015 ini, saya teringat kisah Tjut Nyak Dhien
Oleh M. Adli Abdullah
MOMENTUM memperingati Hari Pahlawan 10 November 2015 ini, saya teringat kisah Tjut Nyak Dhien yang dibuang ke Sumedang, Jawa Barat, karena tidak mau menggadaikan negerinya kepada bangsa Asing. Spirit Tjut Nyak Dhien menjadi inspirasi bagi siapa saja yang mengikuti rekam jejaknya. Keberadaan Aceh dewasa ini, tidak luput dari peran besar pada syuhada yang telah berjuang tempo doeloe. Satu di antara syuhada tersebut adalah Tjut Nyak Dhien.
Alkisah, pada 11 Desember 1906, Bupati Sumedang, Pangeran Aria Suriaatmaja kedatangan tiga orang tamu. Ketiganya merupakan tawanan titipan pemerintah Hindia Belanda. Seorang perempuan tua renta dengan indera penglihatan yang telah rabun serta menderita sakit tulang, yang belakangan setelah wafatnya baru diketahui bahwa beliau adalah Tjut Nyak Dhien. Sedangkan dua lainnya, yaitu seorang laki-laki berperawakan tegap dengan usia sekitar 50 tahun, dan seorang remaja tanggung berusia 15 tahun. Walau tampak lelah mereka bertiga tampak tabah.
Bupati Sumedang tidak menempatkan mareka di penjara, melainkan dititipkan pada satu rumah tokoh agama setempat H Ilyas. Belanda tidak mengungkap siapa perempuan tua ini, sampai ia wafat pada 6 November 1908. Jasadnya dimakamkan di Gunung Puyuh, tak jauh dari pusat kota Sumedang, Jawa Barat. Sampai wafatnya, masyarakat Sumedang sendiri belum tahu siapa nama sebenarnya wanita tua tersebut. Bahkan hingga Indonesia merdeka baru dikenali setelah dilakukan penelitian berdasarkan data dari pemerintah Belanda.
Selama hidup dalam pengasingan di Sumedang itu, Tjut Nyak Dhien tidak pernah keluar rumah, kegiatannya hanya berzikir atau mengajar mengaji ibu-ibu dan anak-anak setempat. Masyarakat Sumedang memanggilnya Ibu Perbu karena keluasan pengetahuan agamanya. Waktu itu tak ada yang menyangka bila perempuan yang mereka panggil Ibu Perbu ini adalah The Queen of Aceh Battle dari Perang Aceh (1873-1904) bernama Tjut Nyak Dhien.
Melawan penjajah
Sewaktu Tjut Nyak Dhien di belantara hutan Aceh sebelum dibuang ke Sumedang, dia sering membakar semangat bangsanya untuk terus melawan penjajah, mempertahankan negeri Aceh tercintanya, beliau mengungkapkan: “Rakyatku, sekalian mukmin orang-orang Aceh. Lihatlah, saksikan dengan matamu masjid kita dibakar. Tempat ibadah kita dibinasakan. Mereka menentang Allah. Camkanlah itu, jangan pernah lupakan dan jangan pernah memaafkan para kaphe (kafir) Belanda!” (Szekely Lulofs, 1951:59).
Perang Aceh adalah cerita keberanian, pengorbanan dan kecintaan terhadap tanah lahir. Begitu juga Tjoet Nyak Dhien. Bersama ayah dan suaminya, setiap hari, setiap waktu dihabiskan untuk berperang dan berperang melawan kaphe-kaphe Belanda. Tetapi perang juga lah yang mengambil satu-persatu orang yang dicintainya, ayahnya lalu suami pertamanya Tgk Chik Ibrahim Lamnga gugur dalam pertempuran pada malam tanggal 29 Juni 1878 di Glee Taroen Montasik. Dua tahun kemudian, Tjoet Nyak Dhien menerima pinangan Teuku Umar sebagai isteri ketiga sebagai bagian dari strategi perang. Teuku Umarpun gugur dalam serbuan mendadak yang dilakukan Belanda di Meulaboh, 11 Februari 1899.
Bagi Tjoet Nyak Dhien, perang melawan Belanda bukan hanya milik Teuku Umar, atau Teungku chik Ibrahim Lamnga tetapi perang mempertahankan marwah dan martabat Aceh dan nilai nilai kemerdekaan yang dinyakininya. Bertahun-tahun kemudian, segala energi dan pemikiran Tjoet Nyak Dhien dicurahkan kepada perang mengusir penjajah. Berpindah dari satu tempat persembunyian ke persembunyian yang lain, dari hutan yang satu ke hutan yang lain. Namun, kehidupan yang berat dihutan dan usia yang menua membuat kesehatan perempuan pemberani ini mulal menurun. Ditambah lagi, jumlah pasukannya terus berkurang akibat serangan Belanda. Walau kondisinya demikian ketika Pang Laot Ali, tangan kanan sekaligus panglimanya, menawarkan untuk menyerah, beliau marah. Akhirnya, Pang Laot Ali yang tak sampai hati melihat penderitaan Cut Nyak Dien terpaksa berkhianat. la melaporkan persembunyian Cut Nyak Dien dengan beberapa syarat, di antaranya jangan melakukan kekerasan dan harus menghormatinya. Akhirnya pada tanggal 16 November 1905 Kaphe Belanda menyerbu ke tempat persembunyiannya. Dengan usia yang telah menua, rabun dan sakit-sakitan, Tjoet Nyak memang tak bisa berbuat banyak. Rencong pun nyaris tak berguna untuk membela diri. Tjoet Nyak tertangkap dan dibawa ke Koetaradja (Banda Aceh). Namun,walau pun di dalam tawanan, Cut Nyak Dien masih terus melakukan kontak dengan para pejuang yang belum tunduk. Tindakannya itu kembali membuat pihak Belanda berang sehingga beliau akhirnya dibuang ke Sumedang, Jawa Barat, pada 11 Desember 1906.
Pejuang wanita
Perjuangan Tjoet Njak Dhien menimbulkan rasa takjub para pakar sejarah asing hingga banyak buku yang melukiskan kehebatan pejuang wanita ini. Zentgraaff mengatakan, para wanitalah yang merupakan de leidster van het verzet (pemimpin perlawanan) terhadap Belanda dalam perang besar itu. Pengakuan Zentgraaff berlandaskan penelitian, karena memang Tjut Nyak Dhien memiliki peran besar dalam dinamika perang Aceh-Belanda ketika itu.
Aceh mengenal grandes dames (wanita-wanita besar) yang memegang peranan penting dalam berbagai sektor, jauh sebelum dunia barat berkoar tentang persamaan hak yang bernama emansipasi. Wanita-wanita besar itu lahir karena basis pemahaman agama yang kuat. Bagi yang memiliki pemahaman agama yang kuat, mereka tidak akan menjadi pencundang. Mereka melakukan pemberontakan dan perlawanan terhadap penjajah dan ketidakadilan. Perlawanan mengatakan yang benar harus dibela.
Belakangan, beberapa universitas di dunia telah mempelajari teori-teori perlawanan. Kita berharap, mereka tidak melupakan Tjut Nyak Dhien. Tokoh perempuan dari Aceh yang menjadi benteng perlawanan Aceh pada masanya. Di balik itu, Tjut Nyak Dhie dalam beberapa referensi disebutkan bahwa ia termasuk perempuan yang lembut, agamis, penyabar, berkomitmen tinggi. Sangat kontras perbedaannya dengan tipikal suaminya Teuku Umar yang juga seorang pahlawan Nasional, yang keras, pejuang yang unik dengan alur pemikiran yang tak terduga-duga. Jelas bahwa pasangan pejuang ini menampilkan hubungan yang komplit dalam perjuangan membela marwah Aceh.
Untuk mengenang jasa Tjoet Njak Dhien, pemerintah telah menerbitkan Keppres No.106 Tahun 1964 tanggal 2 Mei 1964 dan menetapkan Tjoet Njak Dhien sebagai Pahlawan Nasional. Memang The Queen of Aceh Battle ini adalah wanita perkasa dari Tanah Rencong. Pahlawan yang hidupnya berakhir sepi di negeri seberang, dan arwahnya terus memantau perilaku anak bangsanya di bumi Serambi Mekkah. Tjut Nyak Dhien, jasamu selalu kami kenang, titahmu selalu kami ingat. Selamat Hari Pahlawan!
* M. Adli Abdullah, Dosen Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Banda Aceh. Email: bawarith@gmail.com