Lipsus
Segudang Masalah Sekolah Berasrama
KINI, ada kecenderungan orangtua di Aceh menyekolahkan anak mereka ke sekolah berasrama
KINI, ada kecenderungan orangtua di Aceh menyekolahkan anak mereka ke sekolah berasrama (boarding school). Namun, sebagian sekolah tersebut punya fasilitas memprihatinkan. Hingga kini tidak ada pula standar fasilitas fisik dan nonfisik yang harus dimiliki oleh sebuah sekolah unggul berasrama. Pemerintah seakan tidak mau tahu dengan hal ini. Sementara si empunya sekolah terkesan ‘komersial’ dan ogah peduli dengan fasilitas yang mendukung kegiatan belajar-mengajar. Sebagian sekolah lagi tak mampu mengontrol kekerasan yang dilakukan siswa di lingkungan sekolah. Berbagai fenomena seputar sekolah berasrama di Aceh dirangkum Serambi untuk liputan khusus edisi ini.
Sebanyak 8 kasur menumpuk di sudut ruangan. Letaknya berserakan. Di atas kasur springbed berwarna hijau inilah belasan siswa merebahkan badannya. Mereka mengenakan sarung.
Jumat sore pekan lalu itu, semuanya tampak tertidur pulas. Di beberapa sudut yang lain, pakaian, sepatu, dan buku-buku berserakan. Di pojok yang lain, beberapa handuk yang baru saja dipakai dibiarkan saja di lantai. Di ruangan berukuran sekitar 10x10 meter inilah, sekitar 20 siswa jenjang madrasah tsanawiyah ini menghabiskan waktu dengan beragam suka-dukanya. Sedangkan untuk belajar bersama, ada ruangan lain yang disediakan madrasah.
Begitulah sekilas salah satu potret sekolah berasrama yang terletak di kawasan Aceh Besar itu.
Kebersihan tampaknya belum menjadi komitmen bersama. Di sebuah kamar yang lain, misalnya, merebak bau menyengat. Maklum, jumlah penghuninya bisa mencapai 20 orang dengan beragam perilaku. Di seberang sana dekat tangga, beberapa galon air minum diselimuti debu tebal. Air menggenangi kaki dispenser. Beberapa potongan kain basah karena sebagian air tumpah dari galon—buat mengepel lantai, dibiarkan saja tergeletak dan terinjak-injak. Siswa madrasah hilir mudik menuangkan minum dari galon aqua besar ini.
Kecuali pekarangan sekolah yang memang amat luas, kondisi dalam ruangan agak memprihatinkan. Sanitasi yang buruk ini menjadi salah satu penyebab penyakit-penyakit infeksi di sekolah berasrama ini. Penyakit tipes misalnya, yang disebabkan bakteri Salmonella Thypti, kerap menyerang siswa yang tinggal di sanitasi yang buruk. Dengan sanitasi yang demikian, satu orang kena penyakit bervirus, bisa menginfeksi seisi ruangan, bahkan lokal-lokal lainnya.
Di samping sejumlah keunggulan, sekolah berasrama juga rawan kekerasan jika tidak dibarengi dengan pengawasan yang maksimal. Bahkan tidak mengherankan, kalau kekerasan tersebut justru terjadi sekolah unggul terkenal.
***
Sekolah berasrama (boarding school) adalah suatu sistem sekolah di mana siswa, guru, maupun pengelola sekolah tinggal di asrama yang berada dalam lingkungan sekolah, dalam jangka waktu tertentu. Biasanya siswa mengikuti pendidikan umum pada siang hari dan pendidikan agama pada malam hari. Tentu butuh fasilitas pendukung untuk terlaksananya proses belajar-mengajar yang baik, mulai dari ruang tidur, ruang belajar, tempat berolahraga, perpustakaan, laboratorium, dan sebagainya.
Di Aceh, ada kecenderungan orangtua menyekolahkan anaknya ke sekolah dengan sistem berasrama. Selain lebih terkontrol lingkungannya, kesibukan orangtua jadi sebab lainnya. “Saya kan PNS, istri saya PNS juga. Kalau sekolah di umum, saya tidak sempat antar jemput setiap hari,” kata seorang pria yang bekerja di kantor gubernur Aceh.
Dengan pengeluaran rata-rata sekitar Rp 1 juta/bulan, kata dia, dirinya sudah sangat puas bisa menyekolahkan anaknya ke sebuah sekolah berasrama.
Anggota DPRK Banda Aceh, Farid Nyak Umar mengatakan, pemerintah seharusnya membuat standar sekolah berasrama. Standar ini harus diikuti dan menjadi acuan setiap sekolah yang mau membuat boarding school. “Saya sudah lihat sejumlah sekolah berasrama, sebagiannya punya fasilitas yang kurang layak. Kata kurang layak tidak pas juga disematkan, soalnya tidak ada standarnya kok. Mungkin bisa disebut berfasilitas sangat minimlah,” kata Farid Nyak Umar kepada Serambi, kemarin.
Sejalan dengan menjamurnya boarding school, Farid berharap Dinas Pendidikan dan Kanwil Kemenag Aceh sudah waktunya membuat standar yang membawahi institusi pendidikan masing-masing. “Kalau tidak ada standar minimal, nanti jadi suka-suka pengelolanya. Kasihan anak-anak. Kita berharap tidak hanya berorientasi komersiallah,” kata dia.
Untuk melatih kedisiplinan, Farid berharap dilibatkan pihak luar untuk melatih anak didik secara profesional, bukan melalui orientasi setiap tahun ajaran, yang malah bisa memunculkan aksi kekerasan jika tidak dibarengi pengawasan ketat.(sak)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/asrama-btrg_20151116_112555.jpg)