Lipsus

Boarding School Masih Harus Berbenah

Direktur Pembinaan Guru Pendidikan Menengah Kementerian Pendidikan RI, Drs Anas M Adam MPd

Editor: bakri
Siswa-siswi Fatih Bilingual School Banda Aceh berfoto bersama guru usai meraih tiga medali emas, dan dua perak dalam International Engineering Invention and Innovation Exhibition (i-ENVEX) 2015 yang diadakan selama tiga hari (17-19 April), di Universiti Malaysia Perlis. 

BANDA ACEH - Direktur Pembinaan Guru Pendidikan Menengah Kementerian Pendidikan RI, Drs Anas M Adam MPd, menyatakan kualitas boarding school di Aceh tidak bisa disamaratakan. Ada yang mutunya sudah bagus, tapi banyak pula yang masih perlu berbenah.

SMA Modal Bangsa di Aceh Besar dan Fajar Harapan di Banda Aceh, menurutnya, adalah contoh lembaga pendidikan yang sukses menjadikan sekolah sesuai dengan hakikat yang melekat padanya, yaitu sekolah unggulan. Sementara di Meulaboh, meskipun menyandang nama yang sama, yaitu SMA Wirabangsa, namun kualitasnya berbeda.

Begitu juga yang lainnya, seperti sekolah di pesantren belum menunjukkan keunggulan dalam bidang pendidikan umum sebagai sebuah lembaga pendidikan berlabel boarding school.

“Standar boarding school ada pada jam belajar yang lebih tinggi, kurikulumnya berbeda, kompetensi guru, dan fasilitas. Peserta didik juga berpengaruh apakah dia mau atas keinginan sendiri atau bukan,” ujar Anas, Selasa (24/11) via telepon menanggapi liputan eksklusif Serambi berjudul Segudang Masalah Sekolah Berasrama yang dipublikasi, Senin (23/11).

Menurut mantan kepala Dinas Pendidikan Aceh ini, penting bagi orang tua atau wali siswa mempersiapkan anaknya yang akan menempuh pendidikan ke boarding school. Hal ini mengingat standardisasi yang ada di tempat itu lebih tinggi dibanding sekolah reguler.

Selain menjaring siswa secara selektif, kompetensi guru yang mengajar di boarding school juga harus di-upgrade. Hal ini karena metode mengajar yang seharusnya lebih modern.

Ia tambahkan, sebetulnya ada banyak model pendidikan yang ditawarkan dan bisa dijadikan pilihan. Salah satunya adalah boarding school atau sekolah berasrama. Seyogianya model pendidikan seperti ini mempunyai keunggulan dibanding pendidikan reguler. Namun, dalam kenyataan hanya sebagian dari pengelola yang sukses menjadikannya sebagai sekolah unggulan. Sebagiannya lagi masih harus banyak berbenah agar boarding school tidak sekadar papan nama.

“Jika dikelola dengan baik, dibanding sekolah reguler lebih bagus boarding school. Sekolah berasrama memungkinkan anak-anak lebih mudah terpantau, baik belajarnya maupun lingkungan pergaulan,” kata Anas.

Sayangnya, menurut Anas M Adam, belum ada standardisasinya. Masing-masing sekolah masih jalan sendiri. Ada yang lumayan bagus, banyak pula yang masih memprihatinkan. “Saya menilai perlu dibuat tim standardisasi mutu. Harus ada standar minimal yang harus dipenuhi,” demikian Anas. (rul)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved