Lipsus
Duh, Para Istri Tertular HIV
SEJUMLAH perawat coba melepaskan selang oksigen dan selang infus
Sejak kasus HIV-AIDS pertama kali ditemukan di Bireuen tahun 2004, peningkatan kasus virus mematikan ini makin mencengangkan. Orang yang terinfeksi atau disebut ODHA (Orang dengan HIV-AIDS) terus bertambah tiap tahunnya. Hingga medio November 2015, tercatat 388 kasus. Sebanyak 117 di antaranya telah meninggal. Lebih ironis, sebagian penderita AIDS/HIV itu ibu rumah tangga yang tanpa sadar tertular virus dari suaminya. Sebagiannya lagi anak-anak. Benarkah pengetahuan masyarakat akan bahaya AIDS masih minim? Lalu apa yang seharusnya dilakukan Pemerintah Aceh?
SEJUMLAH perawat coba melepaskan selang oksigen dan selang infus. Laki-laki warga Myanmar itu sudah tergolek kaku. Perawatan intensif di unit penanganan penyakit infeksi di sebuah rumah sakit ternyata tak mampu menyelamatkan lelaki tersebut.
Virus HIV yang sudah lama bersarang di tubuhnya menggerogoti seluruh organ pentingnya. Sejak dibawa napasnya sudah tersengal-sengal. “Penyakit ini tak mengenal bangsa dan jenis kelamin. Semunya berisiko. Dia dirujuk dari daerah,” kata seorang perawat yang ikut menangani pasien tersebut kepada Serambi.
Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi (KPAP) Aceh, dr Ormaia Nja’ Oemar MKes, Selasa (8/12) mengatakan, hingga kini Aceh masih termasuk golongan C. Aceh berada pada peringkat dengan kasus yang terbilang sedikit penderita HIV/AIDS dibanding sejumlah kota besar seperti Jakarta dan Papua.
Begitupun, jumlah ini tak boleh dianggap remeh karena penyebaran HIV-AID bersifat laten (tersembunyi), bagai sebuah gunung es yang hanya tampak permukaannya saja. Penyebaran HIV-AIDS sungguh mencemaskan, seorang ODHA berpotensi menularkannya kepada 20 orang lain. Bahkan di kota besar, sesorang berpotensi menulari seratus orang lainnya. Keberadaan virus ini juga menjadi mengkhawatirkan karena perkembangannya takkan pernah diketahui sebelum seseorang memeriksakan darahnya.
Dengan kata lain, dari 388 kasus yang sudah positif HIV-AIDS, kemungkinan ribuan orang bisa saja tertular, namun belum diketahui secara jelas karena tak semua orang sudah melakukan tes darah.
Berdasarkan data yang diperoleh Serambi dari KPAP Aceh, kasus HIV-AIDS di Aceh dari tahun ke tahun terus meningkat. Kasus pertama kali ditemukan tahun 2004 di Bireuen. Tahun 2005 bertambah menjadi dua kasus. Jumlah ini bertambah lagi di tahun 2006 menjadi tujuh kasus.
Kemudian 2007 sebanyak sepuluh kasus, 2008 sebanyak sebelas, tahun 2009 sebanyak 15 kasus, tahun 2010 sebanyak 25, tahun 2011 ada 60 Kasus, 2012 sebanyak 33 kasus, 2013 sebanyak 74. Jumlah ini meningkat tajam di 2014 sebanyak 85 kasus. Kini di pengujung 2015 terdapat 65 kasus. Dengan demikian, secara keseluruhan telah mencapai 388 kasus.
Menurut dr Ormaia, kasus di Aceh dialami ODHA dari berbagai kalangan dan profesi, tak terkecuali ibu rumah tangga yang justru tak pernah berbuat serong dan tak pernah tahu tentang narkoba.
“Walau tak pernah menyeleweng, ibu rumah tangga berpotensi tertular dari suami. Kasus seperti ini banyak terdapat di Aceh. Kemungkinan sang suami punya mobilitas tinggi ke luar daerah. Trennya memang kebanyakan ODHA di Aceh berkaitan dengan orang atau pasangan yang pernah tinggal di luar atau tingkat mobilitasnya tinggi. Kita berharap kasus tak bertambah. Bertobatlah kepada Allah, jangan menyimpang, dan setia kepada pasangan,” katanya.
Selain itu, HIV-AIDS juga bisa ditularkan ibu hamil kepada bayinya. Namun, ada ditemukan beberapa kasus, sang bayi belum tertular karena sang ibu ternyata masih dalam tahap HIV atau belum mengalami AIDS. Persentase potensi penularan ibu yang positif HIV kepada bayi yang dikandungnya adalah 70 persen. Untuk itu, semua warga dianjurkan memeriksakan diri agar bisa mencegah penularan ke orang lain. Proses dari mulai terjangkit HIV ke AIDS biasanya berlangsung mulai lima hingga sepuluh tahun. Jadi, makin cepat seseorang diperiksa darahnya makin ada peluang mencegah penularan. Walau penyakit ini belum ada obatnya, setidaknya orang dengan HIV masih mudah merawatnya dan masih punya kekuatan tubuh yang lumayan. Namun, ketika sudah tahap AIDS, seseorang akan sangat lemah dan dengan mudah terserang segala penyakit. (sak/gun)