Cerpen
Sepasang Kaki
SEJAUH pandangan JalanDelhi lurus ke depan. Mobil, angkutan kota, motor, tak berhenti lalulalang
Karya Nurhidayati
SEJAUH pandangan Jalan Delhi lurus ke depan. Mobil, angkutan kota, motor, tak berhenti lalulalang, silih berganti. Suara klakson memenuhi telinga. Sementara matahari membara, memanaskan gedung-gedung tinggi, atap mobil, bahkan aspal di sepanjang trotoar yang kupijak. Lelah sekali. Haus sekali. Aku mulai kebingungan tanpa tujuan.
Polusi udara begitu menyesakkan. Bahkan isakku tenggelam dalam suara hiruknya berbagai kendaraan itu. Aku ingin berjalan sedikit lagi ke bawah pohon di depan sana, satusatunya pohon yang kutemui sejak aku berjalan tadi. Selebihnya tampak sama, gedung-gedung yang entah apa namanya. Mungkin nanti aku akan tahu setelah mampu membaca. Di gang berikutnya aku berhenti. Sempit dan lembab, tak ada celah masuk bagi sinar matahari. Gang ini sepertinya penghubung dua jalan besar yang terpisah pertokoan.
Di sinilah aku rehat sejenak, berjongkok dengan kepala di atas lutut. Naluriku mengatakan ada mobil hitam berkaca hitam yang ikut berhenti tidak jauh dari gang. Hari ini aku memakai baju terusan rok berenda. Dengan gabungan warna biru dan pink muda, akan menarik siapa saja untuk mengatakan aku ‘manis’.
Penampilanku memang harus manis dan cantik, itu yang selalu dikatakan aman. Makanya aku harus memastikan pakaian dan dandananku yang terbaik, aku bahkan mematut diriku lama di cermin. Sepasang muda-mudi melewatiku tanpa menoleh. Lalu lelaki lanjut usia juga lewat begitu saja. Aku pun mengabaikan mereka yang berlalulalang dengan barang belanjaan.Rasanya ini tempat yang cocok untuk berdiam diri beberapa menit. Peluh berjatuhan dari kening dan leherku,sementara rasa penat mencengkeram erat. Rambutku yang tergerai sebahu masih terasa sepanas api. Kini aku tak merasa cantik lagi, sebaliknya sungguh kumal dan dekil. Tampangkumulai diliputi cemas dan takut, air mata pun mengalir kembali di kedua pipiku. Aku terus jongkok memeluk lutut di gang jalan ini sembari berharap ada yang datang menawari bantuan.
Tepat ketika aku tak sanggup lagi menghirup udara busuk lembab,kulihat sepasang kaki berhenti. “Dek? Sedang apa di sini?” tanyanya. Kudongakkan kepalaku untuk melihat wajah pemilik sepasang kaki itu. Seorang perempuan muda tersenyum ramah, menjulurkantangan kanannya untuk membantuku berdiri. Segera kusambut tangan itu. “Sesat Kak,” isakku. kedua bibir si kakak itu manyun, seakan membantunya berpikir. “Memangnya tadi Adek ke sini naik apa?” tanyanya lagi. Aku sudahterbiasa mendapat pertanyaan seperti ini, seperti makanan seharimobil hari saja. “Naik itu,” kataku sembari menunjuk sebuah angkutan kota.
“Tapi karena nggak punya uang, diturunin sama sopirnya,” ujarkudengan wajah memelas. Aku mengambil kertas yang ditulisi alamat rumah paman dari dalam saku, “Padahal ada alamat rumah paman, tapi nggak diantar sama sopir.” Kakak baik hati itu mengamati kertas yang kuberikan. Mataku melirik ujung ujung gang, ternyata mobil hitam berkaca hitam berada di sana. Aku bisa merasakan orang didalam mobil itu sedang mengamati kami dengan seksama. “Ayo ikut Kakak saja,” ia menggandeng tanganku.
Aku berusaha mengikuti langkahnya ke luar gang. Ketika kutoleh kepalaku ke belakang, perlahan mobil hitam berkaca hitam itu mengikuti. Kuabaikan saja mobil itu. “Kakak mau antar aku ke alamat paman, kan?” akuingin kepastian darinya. Di luar dugaan, jawabannya mengecewakanku. “Tidak, tidak Dek. Kakak bawa Adek ke kantor polisi. Nanti polisinya bisa menghubungi pamanmu, atau mengantarmu langsung ke rumahnya.” Meski aku dongkol setengah mati, tak kuperlihatkan wajah masam pada kakak ini. Sebaliknya aku berpurapurasenang dan mengatakan kenapa tak terpikir olehku untuk meminta bantuan polisi. Ia hanya tertawa.
Setibanya di depan kantor polisi aku mengatakan terima kasih padanya. Aku ingin meyakinkannya untuk tidak mengantarku hingga ke dalam kantor itu. Bisa repot urusannya. Dengan sungguh-sungguh kukatakan padanya tak perlu membantuku lebih jauh, aku sudah besar. Aku bisa meminta bantuan polisi sendiri. Untungnya ia percaya. Setelah kakak baik hati itu menghilang di balik tikungan, mobil hitam berkaca hitam menghampiriku, pintunya membuka persis di hadapanku.
***
Hari ini aku menangis lagi di trotoar jalan. Tentu di jalan yang berbeda dengan yang kemarin. Di tanganku masih ada alamat rumah paman. Kali ini paman mengatakan, aku tal boleh gagal lagi. Harapanku juga sama. Sungguh gertakan pamansangat menyeramkan. Sepasang kaki berhenti di hadapanku, “Kenapa Dek?” tanya pemilik sepasang kaki yang ingin tahu itu.
Rupanya pemilik sepasang kakiitu seorang lelaki dewasa. Dia menggenggam lenganku. Kini aku berdiri dan dengan terisak kuberikan alamat rumah paman pada lakilaki itu. “Mau Bapak antar ke alamat ini?” tanyanya. Aku menganggukangguk penuh semangat. Ia berjalan ke motor yang rupanya tadi diparkir sebelum menanyaiku. Aku membonceng di belakang, kedua tangan kecilku memeluk erat pinggang lelaki baik hati itu. Ketika kuputar kepalaku, di belakang ada seharimobil hitam berkaca hitam mengikuti engan menjaga jarak dari kami.
Alamat yang kami tuju sebenarnya sangat mudah dicari. Rumahnya berada di tengah-tengah perumahan mewah namun seakan tak berpenghuni. Biasanya orang-orang hanya membeli rumah di komplek ini hanya untuk status atau investasi. Padahal kalau saja ada banyak orang yang tinggal di sini, tentu barangkali aku memiliki banyak teman bermain. Motor berhenti di depan sebuah rumah bertingkat tiga. Aku sangat mengenal rumah ini dengan segala seluk beluk di dalamnya. Diam-diam aku telah menjelajah ke semua ruangannya, tentu jika paman tahu ia akan marah besar. Aku yakin banyak orang yang terpesona dengan rumah ini, tapi aku takkan tertipu dengan kemewahan yang ditampilkan dari interior luar.
Terutama karenadi sini ada ruangan khusus yang selalu dikunci dengan gembok. Di sana paman menyimpan banyak akuarium yang diisi bukan dengan makhluk hidup. Di rumah inilah pertama kalinya aku terpaksa bergabung dengan pamanku yang keji. Paman membawaku ke kota ini saat kedua orangtuaku meninggal, terpanggang saat rumah kami terbakar. Tak ada yang tersisa untukku, kecuali ingatan ketika ayah membawaku keluar dari api yang berkobar.
Saat diketahuinya ibu masih berada di dalam, ia masuk kembali ke rumah api itu dan tak pernah kembali lagi. “Nah, sudah sampai,” kata lakilaki itu mengagetkanku. Aku berpura-pura sangsi padanya, “Benar ini rumahnya Pak? Ayo coba kita lihat dulu ke dalam,” pintaku.