Cerpen
Sepasang Kaki
SEJAUH pandangan JalanDelhi lurus ke depan. Mobil, angkutan kota, motor, tak berhenti lalulalang
Kami memasuki pintu gerbang yang tak terkunci, pria itu meninggalkan saja motornya di pinggir jalan. Dikiranya takkan lama ia singgah. Lantas ia memencet bel, menimbulkan samar-samar bunyi ‘ting tong’ dari dalam rumah. Ia memencet lagi dua kali. Akhirnya pintu terbuka, pamanku keluar dari balik pintu. “Paman!” panggilku.
“Ya kerja bagus, kamu berhasil,” sahut pamanku santai. Lelaki itu menatap heran pada kami, tapi keheranannya segera terkubur. Sebuah mobil hitam berkaca hitam memasuki pelataran rumah. Aku tahu pria itu takkan pernah keluar dari rumah ini, kecuali barangkali jantung atau ginjalnya jika masih sehat. “Lain kali pilih yang muda, seperti biasanya,” nasihat paman adalah perintah. Kuiyakan perintah itu. Tentu aku merasa kasihan pada laki-laki itu, juga lima korban lainnya.
Tapi aku lebih takut pada pamanku, yang mungkin saja akan melakukan hal-hal mengerikan padaku. Bayangan itu selalu mampu membuatku bekerja untuknya.
* Nurhidayati, mahasiswa FKIP Bahasa Inggris Unsyiah