Cerpen

Sang Penjilat

MALAM menggairahkan itu datang kembali. Tepat pukul 24.00 WIB, wajah Durjantiba-tiba kembali berubah

Editor: bakri

Dosen paling-paling juga tidakmelacak dari mana ia mencuri makalah orang. Banyak di antara mereka yang malah tidak tahu apa itu Internet. Apalagi anyak dosen di kampusnya yang juga gampang dibujuk. Dengan datang rutin ke rumahnya sambil membawa ingkisan, sudah bisa membuat hatinya luluh. Malah ada dosennya yang dengan senang hati menawarkan untuk membuatkan skripsinya. Pakai garansi lulus dan tidak dipersulit saat ujian. Amboi, dahsyat benar kekuatan fulus. Bisa membuat semua urusan jadi mulus. Kembali ke soal kerja. Entah ayahnya memakai jimat apa, yang jelas dengan teknik lobi tingkat tinggi, ia pun lolos jadi pegawai di instansi pemerintah.

Kariernya sebagai pegawai negeri sipil pun menanjak. Tidak sampai setahun ia sudah diangkat menjadi Kepala Sub Bagian, terus selanjutnya menjadi Kepala Bagian. Banyak orang yang rasanya tidak percaya kenapa begitu beruntungnya dia enjadi manusia.

***

“Durjan,” kata ayahnya suatu kali. “Buatlah atasan di kantormu layaknya raja. Jangan pernah kau bantah apa katanya. Kerjakan saja semua yang disuruh. Buat dia bagaikan orang yang tak pernah salah. Tutupi kekurangannya dengan pujian. Jangan kau cela, apalagi kritik,” lanjut ayahnya menasehati Durjan.

“Bukankah kau sudah kulatih menjilat sejak kecil?” tanya ayahnya. Durjan mengangguk. “Nah itulah fungsinya. Jilat dan sanjunglah semua pimpinan dengan pujian dan pujaan. Kalau perlu, katakan yang salah sebagai benar dan katakan yang benar sebagai salah. Bolak-balik saja tidak apa-apa, kalau itu mau mereka. Pasti mereka akan senang. Hati mereka pasti berbunga- bunga mendengar kepatuhanmu,” urai sang ayah lagi.

“Kalau kau sempat berfoto dengan bosmu atau orang-orang hebat, tampilkan fotomu bersama mereka di media-media sosial, facebook, Twitter, Instagram dan lain semacamnya. Itu akan mempengaruhi orang lain betapa posisimu sangat hebat. Biar tidak ada yang macam-macam. Bosmu juga pastinya akan senang melihatnya. Tidak perlu berkawan dengan orang-orang biasa.

Apalagi kau tampilkan foto-foto murahan dengan mereka di media sosial. Itu tidak akan mengangkat derajatmu. Malah justru akan menjatuhkan marwahmu.” “Tidak perlu malu dan takut. Biarkan saja teman-temanmu iri atau mencaci. Anggap saja itu angin lalu. Pakailah jurus budeg. Yang penting bos happy. Itu saja

Dan kalau ada yang macammacam, sikut dan tendang saja pelan-pelan. Hasut saja bosmu untuk memecatnya. Ingat, orang kritis bisa menjadi penghalang kariermu.”

Dan Durjan pun melaksanakan semua perintah ayahnya. Dalam hal berteman dia sangat memilih. Kalau dengan para pejabat, dia akan selalu tersenyum manis. Kata-kata yang keluar dari mulutnya bak madu. Tapi jangan berharap bersikap demikian untuk para bawahan. Di mata Durjan, para bawahan adalah kaum berkasta rendah, yang tidak perlu didekati karena akan menjatuhkan marwahnya.

Mereka adalah pekerja dan pesuruh. Cukup main telunjuk kiri saja kepada mereka. Sesekali dengan umpatan dan ancaman akan lebih baik. Jadi jelas perbedaan kastanya, siapa bawahan dan siapa atasan. Ada yang protes? Sikat dan injak saja. Titik. Durjan akan memotong habis karier si tukang protes. Kalau perlu dibangku panjangkan saja, biar kapok.

Hasilnya, resep sang ayahternyata sangat manjur. Karier Durjan moncer. Banyak membuat orang terkesima, meski untukprestasi kerja dia hanya emperalat potensi bawahannya. Yangpenting namanya yang muncul di mata pimpinan, bukan nama para bawahannya.

***

Malam menggairahkan itu datang kembali. Tepat pukul 24.00 WIB, wajah Durjan perlahan mulai berubah. Matanya mencorong. Perutnya agak membuncit. Di bagian belakang tubuhnya, perlahan mencuat sesuatu yang semakin lama emakin bertambah memanjang.

Moncongnya mengerucut maju. edua kupingnya berubah melancip. Kukunya yang biasa pendek, memanjang satu per satu. Pandangan matanya berubah membelalak tajam. Penciumannya juga semakin sensitif. Semua aromabisa ia tangkap, khususnya aroma angi uang.

* Anton Widyanto, dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry, Sekretaris Center for Area Studies (CfAS) UIN Ar- Raniry, dan peneliti ICAIOS

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved