Cerpen

Wanita dalam Sebuah Foto

AGUSTIAN merasa begitu lelah setelah seharian memindahkan barang – barangnya dari tempat tinggal yang lama

Senyumnya sinis. Wanita itu sama sekali tidak ramah. Selagi petir menggelegar, Agustian bertanya – tanya dalam hati mengapa foto tua wanita itu ada di kamarnya. Mengapa si pemilik rumah sampai lupa memindahkannya? Mungkinkah sengaja tidak dipindahkan atau ada sesuatu dengan foto itu? Agustian mulai menduga – duga, siapa tau wanita dalama foto itu adalah wanita jahat. Mungkin dia seorang pembunuhatau ... seorang psikopat! Bulu kuduk Agustian seketika berdiri. Hatinya tiba – tiba menjadi ciut. Pikirannya dipenuhi dengan hal – hal yang membuat ia semakin takut.

Bisa saja foto itu sengaja ditinggalkan pemiliknya untuk meninggalkan kenangan buruk. Bisa juga karena foto itu membawa kesialan bagi penghunirumah ini sebelumnya. Pikiran Agus semakin kalut. Malam itu menjadi malam yang sangat tidak mengesankan baginya. Tinggal sendirian ternayata tak selamanya menyenangkan. Pagi harinya, Agustian benar – benar tidak konsentrasi dalam menyelesaikan tugas kantornya. Selainkurang tidur, juga karena rasa penasaran terhadap foto wanita itu. Agus berencana mencari tahu, siapa esungguhnya wanita itu.

Maka, sepulang dari kantor, Agus segera mampir ke tempa kosnya yang lama untuk menemui Rusli. Mungkin Rusli bisa membantunya mencari tahu, begitu pikir Agus. “ Wajahnya menyimpan sejuta misteri, “ kata Agus ketika bertemu Rusli. “ Sorot matanya seolah menghujam ke jantung. “ “ Apakah ada foto lain selain foto dirinya? “ tanya Rusli ikut penasaran. Agus menggeleng cepat, “ Kalau ada, mungkin aku tak securiga ini. Pasti ada apa – apanya dengan wanita itu. “ Rusli mengurut – urut kening, “ Aneh juga. “ “ Aku khawatir kalau rumah itupernah terjadi pembunuhan, “ suara Agus parau. “ Harga sewa rumah itu tergolong murah dibandingkan rumah – rumah lain yang pernah kukunjungi. Rumah itu tidak buruk.

Makanya aku langsung tertarik. “ “ Apa kau pernah bertanya engapa rumah itu dikontrakkan pada pemiliknya? “ tanya Rusli penuh seledik bak detektif. “ Biasanya si pemilik rumah suka cerita alasan rumah mereka dikontakkan atau dijual. “ “ Tidak, “ jawab Agus. “ Dia hanya cerita kalau semua anaknya sudah menikah. Rumah itu rencananya akan dijual kalau ada yang berminat. Alasan dijual karena mereka ingin tinggal dirumah anak bungsunya. “ “ Hmmm.... “ Rusli tampak berpikir – pikir.

“ Mereka adalah sepasang suami istri yang sudah senja usianya, “ Agus melanjutkan. “ Mungkin mereka sudah tak mampu merawat rumah itu lagi. “ “ Siapa nama pemilik rumah itu, Gus? “ tanya Rusli setelah beberapa saat terdiam. “ Wahyu. Wahyu Sulaiman, “ jawab Agus.

Rusli terdiam lagi. Ia tampak berpikir – pikir namun seperti tidak menemukan titik terang. “ Aku ada ide, “ kata Rusli kemudian. “ Apa? “ tanya Agus sambil mendekatkan wajahnya. “ Kau bisa melakukan sedikit wawancara dengan tetangga rumahmu yang baru, “ jawab Rusli. “ Pastinya jangan sampai menimbulkan kecurigaan agar rahasia ini bisa terungkap. “ Agustian mengacungkan jempolnya. Rasanya ia sudah tak sabar lagi ingin segera melakukan wawancara itu. Agus sudah membayangkan bahwa betapa hebohnya dunia jika akhirnya seorang pembunuh yang sangat keji, yang telah menghilang berpuluh – puluh tahun berhasil ditemukan.

Meski hanya sebuah potret. Seminggu sudah berlalu. Agustian belum juga melakukan wawancara dengan para tetangga perihal wanita misterius dalam foto itu. Kesibukan kerja serta kegiatan ikut kelas catur membuat Agus menunda wawancara. Walau begitu, pikirannya tetap tak bisa lepas dari sosok wanita itu. Setiap bangun pagi dan menjelang tidur malam, Agus akan melihat kembali foto itu. Mengamati, meneniliti dan membayangkan apa yang terjadi dengan rumah yang sekarang ia huni.

Hingga tibalah suatu hari, sebuah motor Vespa warna abu – abu tua berhenti tepat di depan rumahnya. Dari jendela ruang tamu, Agustian melihat seorang pria paruh baya turun dari motornya. Agustian mengamati wajahnya dengan seksama. Siapa dia? tanya Agus dalam hati. Sungguh dia tidak mengenali pria itu sama sekali. Pria itu mengucapkan salam sebelum Agus membukakan pintu untuknya. Maaf... “ ucap Agustian. “ Bapak mencari siapa ya? “ Pria itu mengulurkan tangan sambil berkata, “ Saya Mirza, anak sulung apak Wahyu. “ Agustian menyambut uluran tangannya, “ Saya Agustian. Oh, bapak anak pak Wahyu pemilik rumah ini ya? “ Pria paruh baya itu kembali tersenyum, “ Ya, betul. “ Agustian segera mempersilahkan tamunya masuk.

Ruang tamunya hanya terdiri dari dua buah kursi rotan yang sudah lapuk akibat dimakan Rayap. Kursi yang ia beli saat pertama kuliah sebagai tempat duduk saat belajar di kamar kosnya. Setelah keduanya duduk, pak Mirza berkata: “ Begini dik... dik siapa tadi? “ Agustian, “ sambut Agus. “ Panggil saja Agus. “ Pak Mirza mengagguk, lalu melanjutkan, “ Begini dik Agus. Maksud kedatangan saya kemari adalah untuk mengambil barang rang tua saya yang ertinggal. “

Agustian tampak bingung. Ia merasa tak ada satu barang pun di rumah itu yang bukan miliknya kini. Rumah itu benar – benar kosong saat ia pertama kali masuk, kecuali... foto. Ya, foto. Hanya sebuah foto berbingkai kayu. Foto yang menyita perhatiannya elakangan ini. “ Ibu saya melupakan fotonya di kamar tidur, “ suara pak Mirza memecah keheningan. “ Waktu pindah, ibu tidak ingat ada foto yang tidak ikut terbawa. “

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved