Cerpen
Wanita dalam Sebuah Foto
AGUSTIAN merasa begitu lelah setelah seharian memindahkan barang – barangnya dari tempat tinggal yang lama
Rusli terdiam lagi. Ia tampak berpikir – pikir namun seperti tidak menemukan titik terang. “ Aku ada ide, “ kata Rusli kemudian. “ Apa? “ tanya Agus sambil mendekatkan wajahnya. “ Kau bisa melakukan sedikit wawancara dengan tetangga rumahmu yang baru, “ jawab Rusli. “ Pastinya jangan sampai menimbulkan kecurigaan agar rahasia ini bisa terungkap. “ Agustian mengacungkan jempolnya. Rasanya ia sudah tak sabar lagi ingin segera melakukan wawancara itu. Agus sudah membayangkan bahwa betapa hebohnya dunia jika akhirnya seorang pembunuh yang sangat keji, yang telah menghilang berpuluh – puluh tahun berhasil ditemukan.
Meski hanya sebuah potret. Seminggu sudah berlalu. Agustian belum juga melakukan wawancara dengan para tetangga perihal wanita misterius dalam foto itu. Kesibukan kerja serta kegiatan ikut kelas catur membuat Agus menunda wawancara. Walau begitu, pikirannya tetap tak bisa lepas dari sosok wanita itu. Setiap bangun pagi dan menjelang tidur malam, Agus akan melihat kembali foto itu. Mengamati, meneniliti dan membayangkan apa yang terjadi dengan rumah yang sekarang ia huni.
Hingga tibalah suatu hari, sebuah motor Vespa warna abu – abu tua berhenti tepat di depan rumahnya. Dari jendela ruang tamu, Agustian melihat seorang pria paruh baya turun dari motornya. Agustian mengamati wajahnya dengan seksama. Siapa dia? tanya Agus dalam hati. Sungguh dia tidak mengenali pria itu sama sekali. Pria itu mengucapkan salam sebelum Agus membukakan pintu untuknya. Maaf... “ ucap Agustian. “ Bapak mencari siapa ya? “ Pria itu mengulurkan tangan sambil berkata, “ Saya Mirza, anak sulung apak Wahyu. “ Agustian menyambut uluran tangannya, “ Saya Agustian. Oh, bapak anak pak Wahyu pemilik rumah ini ya? “ Pria paruh baya itu kembali tersenyum, “ Ya, betul. “ Agustian segera mempersilahkan tamunya masuk.
Ruang tamunya hanya terdiri dari dua buah kursi rotan yang sudah lapuk akibat dimakan Rayap. Kursi yang ia beli saat pertama kuliah sebagai tempat duduk saat belajar di kamar kosnya. Setelah keduanya duduk, pak Mirza berkata: “ Begini dik... dik siapa tadi? “ Agustian, “ sambut Agus. “ Panggil saja Agus. “ Pak Mirza mengagguk, lalu melanjutkan, “ Begini dik Agus. Maksud kedatangan saya kemari adalah untuk mengambil barang rang tua saya yang ertinggal. “
Agustian tampak bingung. Ia merasa tak ada satu barang pun di rumah itu yang bukan miliknya kini. Rumah itu benar – benar kosong saat ia pertama kali masuk, kecuali... foto. Ya, foto. Hanya sebuah foto berbingkai kayu. Foto yang menyita perhatiannya elakangan ini. “ Ibu saya melupakan fotonya di kamar tidur, “ suara pak Mirza memecah keheningan. “ Waktu pindah, ibu tidak ingat ada foto yang tidak ikut terbawa. “
Alis Agustian bertaut, “ Foto? Apakah foto hitam putih seorang wanita yang bapak maksudkan? “ Pak Mirza mengangguk, “ Iya,betul dik. “ Agustian menatap bola mata pak irza dalam - dalam dan bertanya lagi, “ Kalau boleh saya tahu, siapa wanita alam foto itu, pak? “ Pak Mirza menyunggingkan senyuman, “ Wanita itu adalah ibu saya. Itu foto waktu beliau memperoleh mendali Perunggu untuk cabang olah raga tenis meja pada kegiatan Pekan Olah Raga Nasional. Itu foto yang paling berkesan bagi beliau.
Makanya saya diminta untuk mengambilnya sekarang. “ Agustian masih belum percaya dengan ucapan yang dikatan pak Mirza barusan. Seminggu lalu dia telah menebak bahwa wanita yang ada dalam foto itu adalah seorang pembunuh. Bahkan, semenit sebelum pak Mirza berkunjung ke rumahnya pun, Agus belum merubah penilaiannya itu.
Namun kini ia dibikin terkejut. Wanita itu adalah ibu pak Mirza yang tak lain pemilik rumah yang sekarang ia sewa. Seorang mantan atlit tenis meja yang pernah berjaya di tahun enam puluhan. “ Inikah foto ibu anda, pak? “ tanya Agustian setelah menyerahkan foto berbingkai kayu itu kepada pak Mirza. “ Iya, dik Agus, “ jawab pak Mirza tenang. “ Dialah ibu saya. “ Agustian menelan ludah. Ia amati lagi foto yang kini ada di tangan lelaki paruh baya itu. Tatapan mata itu, ya... tatapan mata yang tajam itu bukanlah tatapan seorang yang bengis atau kejam seperti penilaiannya selama ini. Tapi tatapan seorang pemenang.
Tatapan seorang yang optimis dan penuh percaya diri. Lalu senyum yang menghiasi wajahnya, bukanlah senyuman sinis seperti pendapatnya dahulu. Melainkan sebuah senyum kebahagiaan. Senyum peraih mendali Perunggu! Agustian terduduk di kursi rotannya. Ia menyadari telah keliru menilai seseorang.
Bagaimana bisa ia terlalu cepat menilai foto istri pak Wahyusebagai seorang pembunuh. Seorang detektif profesional pun mungkin tak segampang itu menebak seseorang, apalagi dirinya yang hanya berprofesi sebagai pegawai kantor pos. Agustian enghela nafas. Hatinya kini lega. Rasa takut yang selama ini menghantui kemana pun ia pergi seketika lenyap. Tidak ada lagi bayang – bayang pembunuh di rumahnya kini. Segera ia merogoh ponsel untuk menelepon Rusli. Agustian membeberkan kisah pertemuannya dengan pak Mirza. Diujung sana Rusli pun berkata: “ Makanya Gus, jangan pernah lagi menilai orang dari fotonya.” Ya, betul sekali apa yang dikatakan Rusli. Jangan pernah menilai seseorang dari fotonya.
* Dina Triani GA, cerpenis tinggal di Banda Aceh