Cerpen

Kutu .

RUMAHKU dengan pasar hanya berjarak tiga ratus meter. Berada di sebelah timur,

Editor: bakri

***

Aku teringat Pawang Lem. Dulu diaorang yang sering mengajakku ngopi di pasar. Orangnya hitam. Telapak tangannya begitu kasar. Suaranya parau. Mata selalu merah terkena ngin laut. Dia suka berbicara kotor. namun para nelayan semua memuji kebaikannya. Jika mudah rejeki di laut, Pawang Lem sering bersedekah. Membawa beberapa ikan, dibagikan kepada orang miskin yang sudah tua di kampung. Di warung kopi, aku duduksemeja dengan kawan-kawan pawang Lem; Abu Yus, Bang Noh, Cek Ge, juga Pawang Lidan. Mereka berbicara dan tertawa besar-besar. Rokok tergeletak beberapa bungkus di atas meja. Hanya aku yang pesan bubur kacang hijau campur susu.

Mereka memesan telur setengah matang, dan segelas kopi. Kata Ibu, dulu Pawang Lem kawan dekat Ayah.

***

Di dalam rumah itu aku juga melihat Kak Sam. Terduduk mematungdi lantai ruang tengah. Mata jarang berkedip, seperti orang yang tidak tahu apa-apa lagi. Mukanya pucat seperti ayam tak lagi berdarah. Beberapa orang yang tidak kukenal, sudah menjadi mayat di sampingnya. Dulu, aku sering melihat Kak Sam merajang bawang, cabe merah, jeruk nipis, di atas terpal biru di depan pasar ikan. Kak Sam tidak memakai selendang. Jilbab juga tidak. Rambutnya keriting halus, berwarna agak kuning. Selalu diikat ke belakang dengan karet merah. Rambut yangdiikat ke belakang, ampak seperti bunga kol yang panjangnya sejengkal.

Pada ke dua daun telinganya, tergantung anting emas berbentuk bunga mawar. Memakai kaos lengan panjang dan bercelana jeans longgar. Saat itu, hanya Kak Sam yang kulihat satu-satunya perempuan perokok di pasar. Selesai menumpuk cabe menjadi beberapa tumpuk, dipanggilnya siapa saja yang lewat dengan suara parau. Kemudian dihisapnya rokok dalamdalam. Dihembus dengan cepat lewat samping mulutnya, seperti melepas beban di dada. Menurutku Kak Sam adalah kakak yang cantik. Wajahnya selalu berkeringat, segar seperti sayur Syik Insyah yang baru dipercikkan air. Orang yang berjualan di pasar, semua akrab dengan Kak Sam.

Nek Insyah adalah yang paling akrab dengannya. Nek Insyah duduk hanya beberapa langkah dari Kak Sam. Nek Insyah memakai selendang kuning, seakan ditumpuk di atas kepala. emakai baju yang kainnya sama dengan kain selendang. Berwarna hitam, berbunga merah seperti embang sepatu. Mulut yang keriput tidak pernah berhenti mengunyah sirih. Meleleh cairan merah pada kedua sudut mulutnya. Disekanya engan ujung jempol dan telunjuk. Getah sirih yang merekat pada dua jari itu, disapunya pada kain sarung erwarna coklat. Nek Insyah putih, ada kulitnya terdapat bintik-bintik coklat. Tangannya menonjol urat, seperti cacing tanah.

***

Tukang jual obat yang selalu ada dipasar setiap hari pekan, kulihat kukunya sudah tercabut semua. Tak berbaju. Di dada penuh lembam biru. Memakai celana pendek berwarna coklat. Pada paha penuh luka dengan bintik merah. Kutu-kutu di dalam rumah itu, mengangkat orang yang sudah jadi mayat menerbangkannya keluar. Aku tidak tahu mereka di bawa kemana. Saat mereka menuju ke arahku, aku berpura-pura pingsan lagi.

Kuucapkan doa dalam hati, meminta keselamatan dari Tuhan. Mereka mengangkat, menerbangkanku ke hutan. Sampai di tengah hutan, kulihat eribu bangkai manusia menumpuk di sana dalam satu liang. Ribuan kutu yang melemparku ke hutan terbang entah ke mana. Kupastikan mereka pulang ke rumah itu lagi.

Aku bangun dari liang dangkal itu, berlari tanpa tahu arah. Kuikuti jalan setapak. Berlari tak terkira jauhnya, sampai menemukan seorang yang sedang berkebun. Di sana, aku baru isa menangis sejadi-jadinya. Orang kebun yang mendengar tangisku mendekat, lantas bertanya. Dia membawaku pulang ke rumah. Di umah aku sakit selama tiga minggu. Teungku Ilyas, imam mesjid di kampungku, merajahku. Aku ditepungtawarinya dengan doa-doa, agar roh yang merasuki tubuhku pulang.

Berselang beberapa bulan, kutu mulai masuk ke kampung-kampung. Mereka masuk ke rumah-rumah penduduk. Kata orang mereka mencari lawannya. Ada kutu lain yang menjadi usuh mereka bersembunyi di kampung kami. Kutu-kutu itu memeriksa setiap kepala orang kampung.

Seperti tentara merazia orang yang dicurigai. Jika sudah begitu orang harus tenang. Membiarkan kutu bergerilya di atas kepala. Kalau ada yang panik, kemudian menghalau kutu dengan tangannya, saat itulah mereka menyerang orang tersebut. Mereka masuk kelobang telinga, ke hidung, ke dalam mata, sampai orang tersebut mati. Orang kampung banyak yang mengungsi ke kota. Mengosongkan rumah karena takut dengan kutu. Aku di bawa Ibu ke rumah paman Jabar, di kota.

***

Kini kutu sudah tak ada di kampungku. Setelah beberapa ekor merpati putih mengusirnya. Entah dari mana datang merpati itu, tidak ada yang tahu. Rumog Geudong yang pernah menjadi sarang kutu telah dibakar. Kata orang agar kutu tak lagi duduk di sana. Pasar sudah ramai kembali. Jalan yang dulunya kecil kini sudah besar.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved