Cerpen
Kutu .
RUMAHKU dengan pasar hanya berjarak tiga ratus meter. Berada di sebelah timur,
Aku jadi sering lagi main ke pasar. Hari pekan, aku melihat empat mobil mewah parkir di depanhalte depan pasar. Mereka adalah orang yang pernah mengusir kutu di kampung sebelum merpati putih datang. Kini mereka yang memimpin daerah kami. Aku mengikuti rombongan itu saat menuju ke dalam pasar.
Sepertinya mereka mau blusukan. Di pasar tengah, mereka berhenti. Dua di antaranya mengambil peci di atas kepala, kemudian mengipas-ngipas muka yang berkeringat. Mataku lama tak berkedip, melihat kepala mereka. Kudekati lagi, agar tak salah lihat. Ternyata benar, kutu itu bagaikan belalang yang mengerak di tanggkai padi. Aku berlari pulang. Kuceritakanitu semua pada Ibu. Ibuku kaget.
Kemudian cepat masuk kamar. Saatkeluar, ditangannya sebotol minyak kelapa busuk dengan sisir kutu yang terbuat dari bambu. Diambilnya kelender yang tersangkut di dinding, di aruh dibawah mukaku. “Nunduk. Siapa tahu kutu di kepala mereka, naik ke kepalamu”.
* Fuadi S Keulayu, Penulis hikayat dan biasa melantunkannya bersama iringan biola. Mendirikan band indie Seungkak Malam Seulanyan. Bergiat di Komunitas Kanöt Bu, Banda Aceh. Sekarang berdomisili di Mampang, Jakarta Selatan.