Selasa, 5 Mei 2026

Kisah Pilu WNI Korban Perbudakan Seks di Amerika

Saya harus mengangsur utang senilai 100 dolar setiap kali melayani seorang pria.

Tayang:
Editor: Faisal Zamzami
BBCNews/Getty Images
Shandra berbicara dalam sebuah konferensi pers bersama anggota Kongres Ted Poe dan Carolyn Maloney. 

SERAMBINEWS.COM, NEW YORK - Saat Shandra Woworuntu menginjakkan kakinya di Amerika Serikat (AS), ia berharap bisa memulai karir baru di industri perhotelan.

Namun, ia justru dijerumuskan ke dunia prostitusi dan perbudakan sek, dipaksa mengkonsumsi obat-obatan dan mengalami kekerasan.

Setelah berhasil kabur, polisi mengabaikan laporannya. Konsulat RI juga menolak memberinya bantuan hingga ia jadi gelandangan. Kisah ini mungkin akan tak tertahankan bagi sebagian pembaca.

Saya tiba di AS pada minggu pertama Juni 2001. Bagi saya, Amerika adalah sebuah tempat yang menjanjikan dan memberikan peluang.

Saat saya melangkah menuju imigrasi, saya merasa senang berada di sebuah negara baru, meskipun secara ganjil terasa akrab juga karena sudah mendapat gambaran dari yang dilihat di televisi dan film-film.

Di bagian kedatangan, saya mendengar nama saya dipanggil. Saya melihat seorang pria yang tengah memegang sebuah plakat dengan foto saya. Bukan soal foto yang saya pedulikan.

Agen penyalur kerja di Indonesia menyuruh saya mengenakan pakaian yang terbuka, tank top atau kaus tanpa lengan. Orang yang memegang plakat itu tersenyum hangat. Namanya Johnny, dan saya menyangka ia akan mengantarkan saya ke hotel tempat saya akan bekerja nanti.

Pada kenyataannya hotel itu berada di Chicago. Sementara saya tiba di Bandara John F Kennedy (JFK) di New York yang jaraknya hampir 1.250 kilometer, ini menunjukkan betapa naifnya saya.

Analis keuangan

Saya berumur 24 tahun kala itu dan tidak tahu dunia apa yang saya masuki ini. Usai lulus universitas di bidang keuangan, saya bekerja pada sebuah bank internasional di Indonesia sebagai seorang analis keuangan dan perdagangan.

Pada tahun 1998, Indonesia dilanda krisis keuangan yang menerjang Asia, dan tahun berikutnya Indonesia jatuh ke dalam kekacauan politik. Lalu, saya pun kehilangan pekerjaan.

Saya mulai mencari pekerjaan di luar negeri untuk menghidupi putri saya yang berusia tiga tahun. Waktu itu saya melihat sebuah iklan di sebuah surat kabar yang mencari peminat untuk bekerja di industri perhotelan di hotel-hotel besar di AS, Jepang, Hongkong, dan Singapura.

Saya memilih tujuan AS, dan melamar. Persyaratan yang harus saya penuhi adalah bisa berbicara sedikit bahasa Inggris dan membayar biaya sebesar Rp 30 juta (tahun 2001). Proses perekrutan begitu panjang dengan banyak wawancara.

Sebagai persyaratan lain, mereka juga meminta saya untuk menunjukkan cara berjalan, naik turun tangga, dan tersenyum.

"Layanan pelanggan adalah kunci untuk pekerjaan ini," saya diberitahu saat itu.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved