Kisah Pilu WNI Korban Perbudakan Seks di Amerika
Saya harus mengangsur utang senilai 100 dolar setiap kali melayani seorang pria.
Hanya beberapa jam setelah kedatangan saya di AS, saya dipaksa untuk melakukan seks.
Saya sangat ketakutan, tapi sesuatu terbersit di pikiran saya – semacam naluri untuk bertahan hidup. Saya mempelajarinya saat menyaksikan tindak kekerasan pertama.
Keesokan harinya, Johnny muncul dan meminta maaf panjang lebar atas segala yang telah terjadi pada kami setelah berpisah. Ia mengatakan pasti ada kekeliruan.
Hari itu kami akan difoto untuk kartu identitas. Kami akan dijemput untuk membeli seragam dan kemudian kami akan pergi ke hotel di Chicago untuk mulai bekerja.
"Kita akan baik-baik saja," katanya, sambil mengusap punggung saya. "Hal ini tidak akan terjadi lagi." Saya percaya padanya.
Setelah hal-hal buruk yang baru saja saya alami ia seperti malaikat bagi saya. "OK," kata saya. "Mimpi buruk sudah berakhir. Sekarang saya akan pergi ke Chicago untuk memulai pekerjaan saya."
Seorang pria datang dan membawa kami ke sebuah studio foto, untuk difoto, kemudian ia mengantar kami ke sebuah toko untuk membeli seragam. Tapi itu sebuah toko lingerie, yang dipenuhi pakaian-pakaian seksi yang terlihat minim, berenda, sesuatu yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Pakaian-pakaian yang bukanlah 'seragam.'
Lucu juga mengingat kembali kejadian itu. Saya tahu saya sedang dibohongi dan situasi saya penuh bahaya. Saya ingat saat melihat sekeliling toko itu, bertanya-tanya jika saya bisa menyelinap pergi, menghilang.
Namun, saya takut dan saya tidak kenal siapa pun di AS. Saya pun enggan untuk meninggalkan dua perempuan Indonesia lainnya. Saya kembali dan melihat mereka cukup menikmati kesempatan berbelanja itu.
Lalu saya menoleh kepada pengawal saya. Ia menyembunyikan senjatanya dan tengah memperhatikan saya. Gerakan tubuhnya mengisyaratkan kepada saya untuk tidak coba-coba melakukan sesuatu.
Pada hari itu kelompok kami berpisah dan hanya sesekali saya melihat dua perempuan itu lagi. Saya dibawa pergi dengan mobil, bukan ke Chicago, tapi ke sebuah tempat di mana para sindikat penjualan orang memaksa saya untuk melakukan seks.
Pakai lencana polisi
Para penyelundup manusia itu berasal dari Indonesia, Taiwan, Malaysia Cina dan Amerika. Hanya dua dari mereka yang bisa berbicara bahasa Inggris. Sebagian besar mereka hanya akan menggunakan bahasa tubuh, mendorong-dorong, dan menggunakan kata-kata kasar.
Satu hal yang paling membuat saya bingung dan ketakutan malam itu, dan terus membebani saya di minggu-minggu berikutnya, adalah bahwa salah satu dari mereka memiliki lencana polisi. Sampai hari ini saya tidak tahu apakah ia benar-benar seorang polisi.
Mereka bilang saya berutang kepada mereka sebesar 30.000 dolar (sekitar Rp 400juta dengan kurs sekarang). Saya harus mengangsur utang senilai 100 dolar setiap kali melayani seorang pria.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/shandra-berbicara-dalam-sebuah-konferensi-pers_20160403_121130.jpg)