Selasa, 5 Mei 2026

Kisah Pilu WNI Korban Perbudakan Seks di Amerika

Saya harus mengangsur utang senilai 100 dolar setiap kali melayani seorang pria.

Tayang:
Editor: Faisal Zamzami
BBCNews/Getty Images
Shandra berbicara dalam sebuah konferensi pers bersama anggota Kongres Ted Poe dan Carolyn Maloney. 

Saya menjalani semua tes dan lulus, lalu saya mengambil pekerjaan itu.

Rencananya ibu dan kakak saya yang akan merawat gadis kecil saya saat saya bekerja di luar negeri selama enam bulan, dengan penghasilan 5.000 dolar AS per bulan (atau sekitar Rp 66 juta). Setelahnya, saya akan pulang untuk membesarkan putri saya.

Segalanya mulai aneh

Saya tiba di Bandara JFK di New York bersama empat perempuan lainnya dan seorang pria, lalu kami dibagi menjadi dua kelompok. Johnny mengambil semua dokumen saya, termasuk paspor saya, lalu ia membawa saya dan dua wanita lainnya masuk ke dalam mobilnya.

Itu adalah saat ketika segalanya mulai tampak aneh.

Sopir menempuh jalan pintas ke Flushing di Queens sebelum kemudian mengarah ke sebuah tempat parkir dan menghentikan kendaraannya. Johnny mengatakan kepada kami bertiga untuk keluar dan masuk ke mobil lain dengan sopir yang berbeda pula.

Kami melakukan apa yang diperintahkan. Melalui jendela mobil, saya melihat Johnny memberi uang kepada sopir yang baru. Saya pikir, “Ada yang tidak beres di sini.”

Saya kembali berkata pada diri sendiri sendiri untuk tidak khawatir. Itu mestinya merupakan cara jaringan hotel berbisnis dengan perusahaan yang mereka gunakan untuk menjemput orang dari bandara.

Sopir baru pun tidak membawa kami terlalu jauh. Ia malah memarkir kendaraan di halaman sebuah restoran, dan lagi-lagi kami harus keluar dari mobil dan pindah ke mobil lain, setelah memberi uang kepada sopir lain.

Kemudian sopir ketiga membawa kami ke sebuah rumah, dan kami diserah-terimakan lagi.

Sopir keempat ini membawa pistol. Ia memaksa kami untuk masuk ke dalam mobil dan membawa kami ke sebuah rumah di Brooklyn, lalu ia mengetuk pintu, memanggil "Mama-san! Gadis baru!"

Pada saat itu saya langsung panik, karena saya tahu 'Mama-san' berarti mami-mami germo rumah bordil. Tapi kami tidak bisa apa-apa, karena ditodong pistol.

Pintu terbuka dan saya melihat seorang gadis kecil, mungkin usia 12 tahun atau 13 tahun, tergeletak di lantai.

Ia berteriak saat sekelompok pria menendangnya bergantian. Darah terlihat mengalir dari hidungnya, ia melolong, ddan menjerit kesakitan. Salah satu pria tersenyum dan mulai memainkan tongkat baseball di depan saya, seolah-olah itu adalah peringatan.

Sangat ketakutan

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved