Cerpen

Hantu Agam

SUDAH dua minggu lebih aku tak melihat sosok Agam. Terakhir ia berpamitan padaku untuk pulang

Sedangkan aku sudahberkali-kali keluar masuk WC untuk buang air kecil. Sepanjang hari ini Agam lebih banyak menghabiskan waktunya dengan berbaring, menghadap ke dinding. Sesekali kupandangi punggungnya. Dalam hati aku bertanya-tanya, mengapa temankuini menjadi begitu pendiam. pakah karena ada masalah dalam keluarganya? Atau hasil panen sawahnya di kampung mengalami kegagalan? Aku tidak berani bertanya. Takut memberatkan pikirannya. Malam telah berganti pagi. Akuterbangun ketika suara alarm handphoneku berdering-dering di bawah bantal. Dengan segenap kekuatan, aku angkat tubuhku.

Dalam keremangan cahaya lampu kamar, aku melihat tidak ada Agam di ranjang. Tempat tidurnya rapi,seperti belum pernah ditiduri. Selimutnya pun erlipat dengan baik. Sebagai teman sekamar selama hampir tiga tahun, aku tahu ersis kebiasaan sahabatku itu. Agam tak pernah bisa merapikan tempat tidurnya. Kusapu pandanganku ke sekeliling kamar. Tidak ada piring atau gelas bekas pakai di atas eja. Aku melihat ke belakang pintu, tidak ada pula baju miliknya i sangkutan, dan tidak ada baju kotornya di keranjang cucian. Ke ana dia? Tanyaku dalam hati. Aku melihat ke bawah meja belajar, tempat biasa Agam menyimpan tas ranselnya. Benda itu juga tidak adadi sana. Aku hanya mengangkat bahu. Pastilah ia sudah berangkat ke suatu tempat.

Hari itu aku punya kegiatan yang cukup padat. Ketika kembali ketempat kos, Agam belum jugapulang. Aku tidak melihat sepatu atau sandalnya di epan pintu. Mungkin ia menginap di rumahseorang teman, pikirku. Sebelum meraih handuk dari rak, ponselku bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tak kukenal. Semulaaku menduga pesan itu hanyalah iklan sebuah produk. Namun aku tersentak kaget ketika membaca pesan itu: ‘Dik Yandi. Saya Vira, kakaknya Agam. Agam meninggal kemarin karena kecelakaan. Maaf baru mengabarkan. Tolong sampaikan kepada dosennya dan juga bu Husna.’ Mataku terbelalak. Berkalikali ku usap mataku untuk menyakinkan bahwa aku tidak salah baca. Aku harap ini hanyalah gurauan.

Mana mungkin Agameninggal kemarin sementara seharian dia bersamaku di kamar ini. Jika memang benar adanya, lalu apakah Agam yang kemarin itu Agam palsu? Atau.. hantu? Aku bergidik. Ini pasti lelucon di bulan April. Pikiranku mendadak kalut. Tidak mudah rasanya menerima berita kematian. Apalagi dia seorang yangsangat kita kenal. Setelah lama terpaku, kuraih ponsel. Satusatunya cara untuk meyakinkan bahwa SMS itu bohong adalah dengan menghubungi Agam. Dalam beberapa menit aku hanya mendengar nada sibuk. Kuulangi memencet nomor hanphone Agam dan hasilnya masih tetap sama. Kutarik nafas panjang-panjang. SMS itu kubacalagi hingga berkali-kali.

Akhirnya aku punya ide untuk menelepon si pengirim berita yang mengaku Vira, kakaknya Agam. ku duduk gelisah di atas kasurku. Kuatur napasku agar lebih tenang. Setelah beberapa menit, aku menekan nomor asing itu. Sebuah uara wanita terdengar mengucapkan alam. Sejenak aku kehilangan kata-kata, namun akhirnya aku pun bersuara. Apakah ini Vira, kakaknya Agam? “ tanyaku dengan suara ergetar. “Ya, betul, “ sahut Vira. “ Ini dik Yandi ya? “ “Eh.. iya, ya, “ jawabku gugup. “ Eng... “ “SMS saya sudah sampai kan? “ tanya Vira. “Apakah SMS itu benar ? “ aku balas bertanya. Vira membisu sesaat sementara etak jantungku semakin memburu. “Benar dik... “ Vira mulai terisak. Seketika aku terlonjak. “Tolong katakan, jam berapa kecelakann itu terjadi, “kataku panik.

“Sekitar jam sembilan atau sepuluh pagi,” kata Vira, masih terisak. “Semula ibu melarangnya balik ke Banda Aceh dengan mengendarai epeda motor karena diakurang begitu sehat. Tapi Agam tidak mematuhinya.” Perutku seketika terasa mulas dan penglihatanku menjadi berkunang-kunang. Aku berdiri sempoyongan untuk meraih botol minuman. “Kami mendapat berita dari Polres setempat setelah dua jam kejadian,” lanjut Vira. “Tidak ada luka yang berarti di badannya, namun Agam mengalami geger otak yang parah.” Selagi Vira berbicara, kuteguk minumanku untuk menenangkan diri. Setelah mengatur napas, aku pun berkata, “ Sebenarnya saya tidak percaya dengan berita ini.

Masalahnya kemarin dia bersama saya. Dia muncul pagi-pagi, kami mengobrol dan tidur bersama.” Untuk beberapa saat aku tidak mendengar suara di seberang sana. “Hanya saja, “ lanjutku. “ Ketika bangun pagi tadi, Agam sudah tidak ada di kamar. Semula saya pikir dia keluar sebentar untuk mencari sarapan atau ada kegiatan lain.” “Dia bertemu denganmu? “ tanya Vira keheranan. “ Kemarin pagi? “ “ Ya... “ sahutku. “Dia hidup. Hanya saja wajahnya sangat pucat. “ “Ya Tuhan... “ desis Vira. Setelah lama tak ada suara, baru aku tahu bahwa wanita itu telah pingsan.Tanganku gemetar. Handphoneku pun jatuh ke lantai. Aku eringat kata-kata Agam kemarin bahwa bu Husna pasti akan mengikhlaskannya. Baru aku tahu maknanya sekarang...

* Dian Triani GA, penulis tinggal di Banda Aceh

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved