Lipsus

Pemerintah Harus Mencari Solusi

Tak cuma nelayan di kawasan Lampulo merasakan ‘susah’ akibat melimpahnya

Editor: bakri
Pekerja menjemur sirip ikan hiu di kawasan Lampulo, Banda Aceh, Senin (2/9). Permintaan ekspor sirip hiu turun drastis dari Rp 800.000 menjadi Rp 250.000 per kilogram akibat larangan mengkonsumsi sirip hiu di beberapa negara seperti Jepang dan Korea. SERAMBI/M ANSHAR 

Tak cuma nelayan di kawasan Lampulo merasakan ‘susah’ akibat melimpahnya ikan. Sejumlah nelayan di Kuala Langsa juga mengalami nasib serupa.

Usman, nelayan di Kuala Langsa mengaku, selama ini saat tangkapan melimpah, ikan tersbut terpaksa dijual ke Medan dengan harga yang sangat murah. Sebagian lainnya dibuang karena membusuk. “Kondisi ini tentunya merugikan nelayan, karena hasil melimpah, tetapi nilai uangnya sedikit. Padahal, jika di Langsa ada pabrik pembuatan pakan ternak ikan dan udang, otomatis ikan geuregak itu bisa diolah menjadi pakan,” kata Usman kepada Serambi, pekan lalu.

Seorang penampung ikan di Langsa, Bustami menuturkan, masalah lain yang dihadapi nelayan adalah sulitnya memperoleh es batangan. Es-es ini digunakan untuk mempertahankan kesegaran ikan. Selama ini kebutuhan es batangan di Kuala Langsa sekitar 2.000 batang. Sementara yang mampu disuplai sekitar 1.000 batang. “Satu pabrik es batangan yang ada di Langsa tak mampu menyuplai sekitar 2.000 batang es yang dibutuhkan nelayan. Mau tidak mau kami harus memesan es ke Sumut dengan harga yang tinggi,” kata dia.

Dikatakan Bustami, jika kebutuhan es tinggi karena ikan sedang banyak-banyaknya, nelayan maupun agen terpaksa membeli atau memesan es batangan dari Medan, dengan harga rata-rata Rp 35.000/batang. Meskipun harga mahal, tidak selamanya stok es batangan tersedia. Akibatnya, sebagian ikan nelayan pun membusuk.

“Kami berharap pemerintah mencari sulusi lah, mungkin dengan mendirikan pabrik es batangan ini. Bisa juga menggaet investor yang mau menanamkan modal untuk mendirikan pabrik es itu. Karena kebutuhan es batangan memang sangat mendesak,” ujarnya.

Dikatakan Bustami, nelayan kawasan Kuala Langsa mungkin berada di posisi ketiga sebagai penghasil ikan tangkap terbanyak setelah Idi Aceh Timur, dan Banda Aceh yang berada di peringkat pertama.

Sebagian nelayan di kawasan itu, menjual kelebihan ikan ke luar daerah seperti Tebing Tinggi yang menjadi sentral penjualan untuk pemasaran. Selain itu, juga ke Belawan, meskipun dengan harga yang murah. “Mau tak mau kita harus menjual ikan kita ke sana, terkadang harga ikan dibeli di luar hanya Rp 2.000/kg, jauh dari modal yang saya beli dari nelayan. Bahkan ada ikan yang sampai membusuk, karena tidak tahu harus dijual kemana,” sebutnya.

Bustami mengatakan, jika di daerah Langsa ada pabrik pakan, maka nelayan tidak akan kesulitan memasarkan ikan. Namun, pihaknya tidak tahu mengapa pemerintah tidak berinisiatif mencari solusi. “Penghasilan dari melaut di Langsa merupakan penghasilan terbesar masyarakat. Oleh karenanya, pemerintah bisa membantu warga untuk mengembangkan sektor ini, karena peluang usaha lain masyarakat di Langsa sulit dilakukan dengan kondisi wilayah seperti ini. Pemerintah harus memikirkan dan membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya,” imbuhnya.(zb)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved