Selasa, 19 Mei 2026

KUPI BEUNGOH

Apa Karya Memang Beda!

Apa Karya adalah bagian dari pada sosok sekaligus tokoh Aceh, apapun latar belakang dan tujuan yang ingin ia raih.

Tayang:
Editor: Amirullah
FACEBOOK
Ichsan Maulana 

Hanya saja, perbedaan pandangan dan lain-lain memaksa antara keduanya pisah ranjang. Jadi, bukan sesuatu yang mengherankan bila antara keduanya saling sindir. Dinamika politik di tubuh partai dan orang-orang di dalamnya (apapu partainya) sudah begitu lumrahnya.

Begitulah Apa Karya, keunikannya yang terkesan kram-krum dan branding dirinya yang seolah-olah boco haloh menjadi modal lain bagi Apa Karya guna mendongkrak popularitas yang ada.

Membaca Apa Karya adalah membaca antithesis tokoh politik Aceh yang mainstream, di saat yang lainnya nyaman dengan kewibawaan, kesan intelek, ataupun aura garang, Apa Karya malah seakan melabrak kekakuan tersebut dengan keunikannya yang nyentrik lagi humoris.

Hal ini bukan tanpa alasan, realitas membuktikan, bukankan satu statmen saja Apa Karya mengemukakan pendapat atau sepotong komentar yang keluar dari mulutnya, menjadi sebuah kehebohan? Walaupun memang lebih kepada kehebohan yang humoris.

Nyatanya, kehadiran Apa Karya telah berhasil menjadi brand baru yang Apa Karya banget-meminjam istilah anak muda. Ketika wajah perpolitikan Aceh terkesan horor, Apa Karya datang sebagai oase humor untuk mencairkan suasana yang terlanjur kaku, bahkan sering beku.

Apa Karya tidak bisa menyepelekan brand yang telah melekat padanya dengan segala hal-hal nyeleneh yang melekat pada dirinya dan telah membantu mengangkat popularitas Apa Karya itu sendiri.

Jika Apa Karya abai, dan tidak memanfaatkan modal ini, modal yang tidak kandidat lain miliki, maka sungguh Apa Karya telah menghianati langgamnya sendiri, sekaligus megecewakan fans-fans Apa Karya yang senantiasa setia menunggu gebrakan unik apa lagi yang akan keluar dari komentar ataupun sikap Apa Karya.

Apa Karya harus melihat peta politik jangka panjang, dengan kalkulasi yang taktis dan dinamis. Panggung calon Aceh 1 bukanlah satu-satunya panggung yang bisa dijadikan arena tempur.

Tentu Apa Karya paham, sejauh mana peluangnya untuk menang dan betapa ketatnya persaingan dengan kotestan lainnya. Apa Karya jika mampu terus merawat image, branding, dan popularitas yang khas sekali dan cuma Apa Karya seorang yang punya, terlalu banyak jalan dan cenderung mulus baginya untuk melanggang ke arena lainya, semisal menjadi DPD ataupun DPR-RI.

Mestinya Apa Karya paham, bagaimana kemudian ia harus merajut narasi ketokohannya dalam tenun politik yang saban hari makin tak menentu saja.

Jika mau jujur, sulit rasa-rasanya menafikkan bahwa Apa Karya memang beda!, bahkan jikapun orang-orang bersebrangan denganya, berat untuk menyangsikan kepopuleran yang Apa Karya miliki.

Bicaranya yang kerap menggunakan bahasa Aceh, hampir selalu ditulis oleh media-media sebagaimana apa yang Apa Karya sampaikan dengan bahasa Aceh pula, tanpa diubah ke dalam bahasa Indonesia.

Komentarnya hampir bisa dipastikan senantiasa menjadi tranding. Bahkan, kerap kali, kami terutama yang muda-muda berseloroh seraya bercanda: “sang ateuh nama na Apa Karya bak Koran, Koran-koran tiga lagot”. Tidak terlalu berlebihan rasanya, bila kita sebut fenomena ini dengan istilah “Apa Karya Efek”.

Kontroversi, humoris, blak-blakan, serta ke-Aceh-an yang kental adalah hal-hal yang merumuskan image, mengkontruksikan branding Apa Karya, yang kesemua itu bermuara pada tingkat popularitas yang kian hari kian menanjak.

Namun, patut diingat, jika Apa Karya abai, lalai dan tidak mampu memanfaatkan apa yang telah ia bangun dan miliki, serta keluar dari koridor yang ada, maka semua itu hanya akan menjadi bumenrang bagi Apa Karya sendiri.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved