Cerpen

Air Terjun Perawan

BEGITU melihat dua mata air yang dipacangkan bambu, ingatan Zidar kembali ke masa lima tahun yang lalu

Editor: bakri

            Bocah lelaki yang berdada telanjang dan memakai celana selutut itu terdiam sejenak. “Kata Ibu Fatimah, kakakku harus dibawa ke rumah sakit. Aku diminta memanggilmu untuk menyupir.”

            “Baiklah,” ujar Zidar tapa sedikit pun penolakan. Mungkin dengan menolong kakaknya Wen Dana, bisa memupuskan sedikit rasa bersalahnya pada Awa. Ah, gadis berambut panjang itu akan segera menjadi milik lelaki lain. Rasa panas sedikit menoreh hatinya. Sepertinya ia tak rela membiarkan gadis berambut sepinggang tersebut bersama lelaki lain. Apakah cinta telah merasuk ke dalam hatinya? Ah, ia juga tidak mungkin selamanya hidup di tempat ini. Tempat yang sama sekali belum disinggahi sinyal handphone.

            Zidar mempersiapkan ambulance untuk mengantar Salamah ke rumah sakit kabupaten. Menurut Ibu Fatimah, persalinannya tidak ada kemajuan. Bayi tak kunjung turun lebih jauh. Setelah Salamah dinaikkan ke ambulance, seorang warga datang tergopoh-gopoh memberitahukan jika istrinya akan segera melahirkan juga. Jadilah Ibu Fatimah ke rumah warga tersebut, sementara Zidar mengantarkan Salamah ke kota. Toh janin dalam rahim Salamah tak kunjung turun, pasti tidak akan apa-apa hingga sampai di rumah sakit nanti.

***

Bidan lelaki hanya ada di Bali, tetapi ketika berhadapan dengan dua nyawa, maka bidan lelaki pun bisa berada di mana saja, bahkan di pedalaman Serambi Mekah yang dipenuhi berbagai norma adab kesopanan sekali pun. Bukankan dalam situasi tertentu, bangkai anjing saja halal untuk dimakan?

            Melihat pembukaan Salamah sudah lengkap. Tak ada hal lain yang terlintas di pikiran Zidar, kecuali ibu dan calon bayi yang berada di depannya harus selamat. Mungkin ia memang lelaki brengsek yang membiarkkan kekasihnya menjadi milik lelaki lain. Tapi tidak dengan nyawa dua manusia yang kini berada di hadapannya. Sebrengsek-brengseknya seorang lelaki, mereka tetap terlahir dari rahim seorang perempuan.

            Zidar mengingat-ingat proses persalinan yang pernah ia ikuti ketika sekolah dulu. Walau tak pernah menolong secara mandiri, ia pernah ikut membantu proses persalinan dan harus menghapal tahap-tahapnya jika ingin lulus mata kuliah kebidanan.

Mulut lelaki itu komat-kamit membaca doa, berharap proses berlangsung dengan baik. Keringat mengucur deras dari dahi lelaki itu. Mungkin bayi merangsek ingin keluar akibat terguncang-guncang di jalan tidak beraspal dan menanjak itu.

Zidar meminta suami Salamah untuk mencari kayu bakar, kemudian memanaskan air pancuran yang berada di sebelah kanan jalan dalam baskom cuci tangan yang berada di ambulance. Tak banyak alat kebidanan yang bisa ditemukan dalam mobil. Beruntung ia mendapatkan gunting, kasa dan dua buah klem kecil. Alat yang akan sangat berguna saat memotong tali pusat bayi.

            Menolong proses persalinan, sendirian tanpa bisa menghubungi siapa pun, ternyata sepuluh kali lebih menyeramkan dibandingkan menghadapi pasien kecelakaan dan harus menjahit kepala yang bocor. Ada dua nyawa yang harus dipikirkannya. Bahkan salah satunya, jiwa bayi merah tanpa dosa. Beban jiwa Zidar telah sampai ke ujung rambutnya. Kenapa ia harus berada di situasi ini? Mungkinkah Awa yang mengutuknya?

            Kelegaan terpancar jelas dari wajah Zidar begitu kepala bayi muncul sepenuhnya dari jalan lahir. Setelah putar faksi luar, bahu dan badan bayi pun keluar perlahan. Satu masalah telah selesai. Zidar menggunakan gunting yang telah direndam dengan air yang dipanaskan suami Salamah untuk memotong tali pusat. Tinggal satu masalah lagi yang harus dihadapi pemuda itu. Ari-ari tidak boleh lengket, ari-ari harus segera ikut lahir. Dan tidak boleh ada perdarahan pasca persalinan.

Dua puluh menit berlalu, bayi sudah diletakkan di atas perut ibu. Tapi tak ada tanda-tanda jika ari-ari akan lahir. Kecemasan kembali melanda tempat itu. Di dekat air mancur yang keluar dari batang-batang bambu yang ditancapkan ke tanah.

Zidar merangsek turun dari pintu belakang ambulance. Ia menuju air mancur yang terus saja keluar tanpa rasa lelah atau mengeluh. Tuhan telah memberi titah pada mata air itu untuk menjalankan sunahnya. Setelah membersihkan tangan dari percikan darah dan air ketuban, lelaki itu membuka kaosnya yang juga kotor terkena air ketuban. Bau anyir sudah dari tadi menyelimuti kaos bewarna coklat itu. Leaki itu mulai membasuh taangan kemudian mulut dan wajahnya.

Setelah itu, ia menghamparkan selembar kain yang dipinjamkan pada ibunya Salamah di tanah. Ia menduga-duga arah barat. Pemuda itu memohonkan pertolongan Rabb-nya. Setelah selesai shalat sunat dua rakaat, ia mohon ampun untuk segala kesalahannya selama ini. Dan berjanji untuk tidak meninggalkan Tuhan-nya. Ia juga akan mendatangi orang tua Awa untuk menikahi gadis tersebut. Ia memohonka placenta Salamah segera terlepas dan keluar.

Hutan, batu, burung dan suara air yang jatuh bergemericik telah mengaminkan doa pemuda itu, begitu ia menoleh ke kiri, Ibunya Salamah memanggil. Pemuda tersebut bergegas dan melihat segumpal jaringan merah berbungkus sudah berada di jalan lahir. Ibu dan bayinya selamat. Zidar bernafas lega, mengemudikan ambulace menuju rumah sakit kabupaten. Lusa, setelah kembali ke Selamat, ia akan mendatangi orang tua Awa. Dan kisah mereka pun akan berakhir bahagia, seperti halnya kisah Salamah dan bayinya.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved