Cerpen

Air Terjun Perawan

BEGITU melihat dua mata air yang dipacangkan bambu, ingatan Zidar kembali ke masa lima tahun yang lalu

Editor: bakri

***

Manusia hanya bisa berencana, tapi Tuhan-lah sang pemegang kendali. Setelah sampai ke kabupaten, hujan lebat melanda. Jalan ke kecamatan Jernih terputus total. Zidar tak pernah bisa kembali pada waktunya. Sebulan setelah banjir besar, akses ke sana baru terbuka kembali. Dan Zidar mendapati Awa telah menjadi istri orang. Pemuda itu tak punya alasan lagi untuk tetap bertahan di daerah tersebut. Ia tak pernah menduga, Awa menggoreskan luka yang begitu dalam di hatinya.

Dan hari ini, ia kembali ke daerah yang sekian lama telah ditinggalkannya itu. Bersama tim Pelayanan Kesehatan Daerah Terpencildari kabupaten. Ia ingin melihat bayi perempuan yang dulu lahir di dekat air terjun perawan. Yang terpenting lagi, ia ingin melihat Awa. Berharap perempuan itu hidup bahagia bersama anak dan suaminya. Namun apa yang didapati? Zidar hanya bisa terpekur di depan sebuah nisan. Awa telah mati. Perdarahan hebat pasca persalinan. Tak ada sopir ambulance yang mengantarnya kerumah sakit kabupaten, tak ada pendonor darah. Sejenak Zidar terpekur, haruskah ia kembali mengabdi di tempat terisolir ini?

Aceh, 26 Desember 2015

* Ida Fitri, lahir di Bireuen 25 Agustus. Sekarang menjadi Penyuluh Kesehatan Masyarakat di Aceh Timur.

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved