Cerpen

Abu Berpakaian Kantoran

BUNYI suara bel sepeda membuatku langsung melihat ke belakang. Beberapa meter daritempatku

Abu Berpakaian Kantoran

Di usianya yang sudah hampir 60 tahun, memang agak aneh kalau orang seperti Abu masih tertarikkerja kantoran. Dari ceritanya kepadaku, sejak neneknya, tidak pernah satu pun dari keluarga mereka yang kerja sebagai pegawainegeri atau pegawai swasta. Semuanya petani. Jadi tidak ada atupun dari keturunan mereka yang pernah merasakan suasana kerja di kantor.Abu Nas tentu tidak terpikir mendapatkan jabatan tinggi. Baginya, dapat merasakan irama kerja di kantoritu sudah syukur.

Ia ingin sekali berpakaian rapi saat berangkat ke kantor dengan sepeda tuanya pada hari kerja. Abu mengaku punya beberapa pakaian ala kantoran tersimpan rapi di lemarinya. Selama ini pakaian itu paling dipakai kalau adapesta atau pertemuan di kantor desa. Sehari-hari ia lebih sering erpakaian layaknya tukang kebun. Baju kaus oblong berwarna pudardan celana panjang satu jengkal di bawah lutut yang terbuat dari kain belacu. Sebilah sabit selalu tersangkut di pinggang kanannya. Setiap pagi ia mengayuh sepeda menuju piinggiran sungai, memotongrumput untuk dibawa ke umah sebagai pakan bagi enam ekor sapinya.

Entah sejak kapan Abu menekuni pekerjaan itu. Sejak aku mengenalnya lima tahun lalu, hari-harinya sudah seperti itu, mencari rumput dan memelihara sapi. Makanya aneh ketika pagi ini Abu mengaku kerja kantoran. Sore menjelang magrib, seperti biasa, aku menunggu Abu untuk berjalan bersama ke musala. Tak disangka Abu rupanya datang lebihcepat. Mungkin ia ingin berbicang lebih lama denganku. Setelah bercerita sedikit tentang perjalanan selama di luar kota, aku balik bertanya soalkegiatan kantoran yang tengah dilakoninya.

“Sekarang Abu berpakaian rapi yasetiap pagi. Gimana rasanya kerja di kantoran?” tanyaku. Abu sedikit menarik nafas panjang. Sepertinya ada yang berbeda dibanding pagi tadi saat ia menunjukkan wajah ceria. “Si Razak yang mengajak Abu kerja di kantor. Cuma bantu antar surat dan urus kebersihan kantor,” ujarnya. Razak adalah pemuda desa yang aktif dalam gerakan politik lokal.

Pemuda bertubuh tegap itu dulunya terlibat gerakan politik menentangpemerintah. Belakangan setelah hiruk pikuk politik mereda, ia dan beberapa temannya mendirikan perusahaan kontruksi seraya aktif di partai politik.“Jadi Abu sekarang kerja di perusahaan Razak?” tanyaku lagi. “Bukan. Abu diminta kerja di kantor partainya. Tugas Abu, ya buka kantor setiap pagi, bersihkan ruangan, menyediakan kopi untuk tamu, antar surat, lalu menutup kantor di sore hari.”

“Wah, doa Abu terkabul ya.Akhirnya bisa kerja kantoran. Abu senang?” Abu sejenak terdiam. Sesaat ia menarik nafas panjang, kali ini bercampur desahan kecil. “Ya, begitulah. Abu sebenarnya menikmati pekerjaan itu. Gajinya tidak besar, tapi banyak teman dan jadi tahu situasi politik lokal.” Perbincangan kami berhenti ejenak karena sebuah motor dengan knalpot blong melintas di jalan raya tak jauh dari tempat kami duduk. Semua orang yang mendengar suara sepeda motor itu pasti akan mengumpat si pengendaranya.

Berisik! Setelah suara motor itu menghilang, Abu melanjutkan lagi. “Tapi tadi Abu sempat berbincangdengan tetangga sebelah kantor, katanya kantor itu tak lama lagi tutup. Itu yang mau Abu tanyakan padamu. Apa benar kantor partai itu uka tutup buka tutup?” Kali ini gantian aku yang menarik nafas. Baru tahu kalau Abu ternyata bekerja di kantor partai. Yang namanya kantor partai, semua orang tahu aktivitasnya pasti angin-anginan.

Jika musim Pemilu atau Pilkada tiba, sibuk tak keruan. Terkadang buka sampai larut malam. Di musim-musimseperti itu, orang-orang partai kerap menyebut kantor mereka sebagai rumah rakyat, pusat perjuanganrakyat, rumah sahabat pejuang, markas rakan si anu dan berbagai istilah lain yang selalu dikaitkan dengan rakyat.Begitu selesai Pilkada, kantorkantor itu lebih banyak tutup.

Dibiarkan tak terurus sehingga tampak kumal, kotor, bagaikan rumah hantu. Jangankan komputer,meja dan kursi di ruang tamu pun tak ada lagi. Sudah dibawa pulang oleh masing-masing pemiliknya. Menjelang Pilkada berikutnya, kesibukankembali terlihat di kantor itu. Ingin rasanya aku menyampaikan gambaran itu kepada Abu, tapi tidak tega. Kasihan orang tua ini. Sepertinya ia mulai menikmati pekerjaanbarunya. Sayang, cerita ari ini membuat Abu agak patah semangat.

Pantas wajahnya tidak ceria sepertipagi tadi saat kami bertemu. “Tapi Abu, “ aku mencoba menghibur, “Mungkin saja kantor partai ang satu ini tidak seperti yang lain. Lagi pula cerita teman Abu itu kan belum pasti benar.” “Bagaimana Abu tidak percaya,dia dulu bekerja di kantor itu. Dia menangani semua tugas yang Abu tangani sekarang.” Ucapan itu membuat aku sedikit erdesak. Rasanya tidak ada lagi cara untuk meyakinkan abu bahwa ketakutanya itu tidak benar. “Ya, sudahlah Abu. Ayuk, azantelah memanggil. Yuk jalan. Lagi pula kan sapi-sapi masih ada,” Kataku seraya elangkah ke arah musala. “Itulah masalahnya. Abu sudah menjual semua sapi itu karena sulit mengurusnya. Selama dua bulan iniwaktu Abu banyak ersita urusan kantor itu. Kalau nanti kantor tutup, apalagi yang bisa Abu lakukan?

”Wah, ceritanya tambah rumit. Sapi sudah terjual , kantor bakal tutup. Kasihan pak tua itu. Usai sunat magrib, aku melihat dia berdoa cukup lama. Mudah-mudahan doanya terkabul dan ada kantor yang menerimanyabekerja. Semoga itu bukan kantor yang buka angin-anginan.

Banda Aceh, Agustus 2016

* Ahmady Meuraxa, jurnalis, tinggal di Banda Aceh

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved