Cerpen

Suara Siluman

MALAM merangkak perlahan di antara terpaan cahaya rembulan yang dingin dibalut embun

Editor: bakri

“Jaaangaaannn…,”jerit suara itu bagai menghiba, seolah-olah bagai sedang bersimpuh dan bersujud di telapak kaki sang raja durjana.

Geuchik Matnoh terus menyemangati warganya. Bermacam cara ia berikan supaya warganya tak terasuki energi dari suara itu. Tampaknya Geuchik Matnoh tak ingin warganya lemah diselimuti rasa takut.

“Kita tak boleh gentar. Tekad kita sudah bulat. Kita ringkus Siluman itu malam ini juga.Bagaimanapun caranya. Kita tak ingin suaranya itu mengusik warga kampung kita lagi. Perempuan di kampung kita sudah sekian lama menderita gara-gara mendengar suara Siluman sialan itu. Perempuan kita selama ini hidup dalam ketakutan. Perempuan kita telah berpuluh-puluh tahun tak berani keluar rumah pada malam hari. Perempuan kita juga sudah berpuluh-puluh tahun tak berani mencari kayu bakar di sekitar hutan ini!”

“Ya, Siluman itu harus kita hancurkan malam ini juga,” salah seorang warga tersulut lidah Geuchik Matnoh yang bagaikan obor Petro Dolar.

“Ya, kita tak boleh menyerah. Kita akhiri penderitaan dan ketakutan perempuan kita selama ini. Harus malam ini juga!”

“Setuju!”

Geuchik Matnoh mulai mengarahkan warganya untuk memasuki hutan. Mereka berjalan dengan sangat hati-hati. Mereka juga menggunakan bermacam teknik penyergapan, mulai dari tali-temali, senjata tajam, pembakaran menyan, bahkan sampai senapan api dan suar yang dinyalakan meubura-bura untuk menerangi malam yang kian buta.

“Tolooonnngggg…tolong akuuu…,” suara itu muncul lagi.

Lamuda, seorang anak muda kampung itu yang turut hadir dalam penyergapan Siluman malam itu menyimak arah datangnya suara dengan seksama. Ia terus memasang kupingnya dengan tajam. Tampaknya ia ingin memastikan jenis suara yang ia dengar, suara perempuan ataukah suara laki-laki.

“Suara itu terdengar kasar, tidak melengking dan tidak halus. Namun menyerupai suara perempuan muda. Seperti dalam tanah. Bukan di atas tanah. Bukan juga di langit,” Lamuda menerka-nerka.

“Bang Matnohhhhh….Jangan bunuh aku...bayimuuu…kasihannn….” Suara itu mendesah lagi. Kali ini suara itu menyebut nama seseorang, disusul isak tangis yang terdengar sesenggukan mendayu-dayu. Bang Matnoh. Tapi siapa?

“Dalam perutku ada  bayimu.”

“Syahlumann…Tolong aku. Tidaakkk…jangannn…aaaauuuu…aakkkhhhsss….” lanjut suara itu terdengar begitu mistik.

Lamuda terus menyimak. Ia berjalan selangkah demi selangkah, menghampiri arah datangnya suara yang dibawa bayu. Lamuda terus melangkah menyusuri semak rotan seumali yang belukar. Ia bergegas menyelinap di balik tumpukan keladi yang tumbuh mengelilingi sumur tua yang tergenang air. Lamuda tersentak. Ia kaget manakala ia merasakan pundaknya seperti ada yang menyentuh. Reflek Lamuda menepis pundaknya dan menghalau sesuatu yang melekat di bahunya.  sesosok bayangan itu terjerembab ke tanah, kemudian bangkit, lalu bersimpuh.

“Kau tak perlu repot-repot lagi untuk mengungkap tabir ini Muda. Kau akan segera menemukan jawabannya malam ini,” ujar sosok bayangan itu sembari menyapu embun di pucuk rerumputan dengan ujung jemarinya.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved