Cerpen

Suara Siluman

MALAM merangkak perlahan di antara terpaan cahaya rembulan yang dingin dibalut embun

Editor: bakri

“Akulah saksi satu-satunya atas pembunuhan Nirmala. Dengan mata kepalaku sendiri. Aku meyaksikan bagaimana sadisnya Nirmala disembelih kemudian tubuhnya dilemparkan ke liang sumur tua ini. Di sini. Dua puluh tahun silam Nirmala dibunuh setelah diperkosa.”

“Kau tau siapa pelakunya?”

“Tentu. Tapi aku tak tau pasti apa penyebabnya. Yang jelas. Malam ini kalian berambisi untuk memburu Siluman. Tanpa menghiraukan Si Pembunuh bejat sialan itu berkeliaran diantara kalian. Kalian ke hutan ini dikomandoi oleh si pembunuh Nirmala. Dan pembunuh itu kalian dewakan selama ini!”

“Menurutmu?”

“Yang aku tahu sepintas dari yang dapat kudengar Shubuh itu. Nirmala menyebut-nyebut tanggung jawab, karena salah seorang dari bajingan itu telah menghamilinya. Tapi si lelaki itu tak mau bertanggung jawab pada perbuatannya. Laki-laki itu tak mau jadi seorang ayah dari anak yang dikandung ibu yang malang itu. Bayi yang dikandung Nirmala saat itu adalah bayi dari ramjadah hina itu sendiri. Si pembunuh tak punya hati.”

“Tapi Nirmala terus menyebut-nyebut tanggung jawab. Pada akhirnya…Suara Nirmala tak lagi kudengar. Hanya suara pembunuh itu yang sesekali sayup kudengar dihembus angin ke telingaku di balik persembunyianku di balik batang rakapong besar itu, “Orang itu menunjuk ke arah sebatang pohon raksasa yang menjulang bak mencakar langit.

“Terus… suara itu?”

“Itu suaraku yang kubuat-buat. Kulakukan demi Nirmala!”

“Jadi?”

“Ya. Akulah siluman pengecut yang kalian buru. Siluman yang dianggap meresahkan warga kampung kita. Setelah sekian lama warga kampung kupancing dengan suara-suara anehku. Baru kali ini mereka datang kemari. Sampai ada yang menemukan sumur tua yang ditumbuhi bebatang keladi yang sesungguhnya menyimpan misteri. Tugasku usai sudah!”

Lamuda terperangah mendengar pengakuan laki-laki jangkung itu. Ia sungguh tak menyangka kalau Syahluman, sahabatnya sendiri bungkam selama ini. Syahluman seorang laki-laki gaduh yang terkenal memiliki watak blak-blakan di kampungnya. Ternyata, dialah satu-satunya saksi di balik pemerkosaan dan pembunuhan yang jejak pelakukunya hilang bagai ditelan bumi.

“Tapi kenapa?”

“Mungkin hanya itu caraku satu-satunya yang dapat aku lakukan demi mengungkap tabir kematian Nirmala. Sekian lama aku terus berharap semoga suatu saat tabir itu tersingkap dengan rapi. Tanpa menjerumuskan diriku sebagai saksi tunggal. Aku terus berharap semoga suatu saat warga kampung kita tahu bahwa Nirmala yang hilang dulu ternyata dibunuh di tempat ini!”

“Lamuda. Kumohon padamu. Tolong jaga rahasiaku baik-baik. Jangan kau katakan pada siapapun. Aku menyesal, karena sebelum mereka membunuh Nirmala aku tak bertindak sebagai pelindung Nirmala, gadis yang aku kagumi dalam hidupku selama ini. Aku hanya jadi penonton yang konyol, hingga ia tewas. Penyesalanku takkan pernah habisnya. Meskipun pembunuhan biadab itu terungkap!”

“Aku akan pergi jauh dari kampung kita. Menghilang kemana saja. Aku takut pada hukum di kampung kita. Aku lelaki pengecut. Lelaki bodoh yang tak berguna!”

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved