Senin, 11 Mei 2026

Limbah Batu Bara Jadi Racun Berbahaya

Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Aceh, Ir Faizal Adriansyah MSi mengingatkan masyarakat

Tayang:
Editor: bakri

* Jika Dibakar di Alam Terbuka

BANDA ACEH - Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Aceh, Ir Faizal Adriansyah MSi mengingatkan masyarakat agar tidak sembarang membakar lahan, karena apabila di bawah lahan tersebut terdapat gambut/batu bara, maka bisa terjadi musibah besar, seperti yang terjadi di hutan Kalimantan.

Bukan saja karena apinya sulit dipadamkan, tapi juga yang paling berbahaya adalah limbah pembakarannya jika terjadi di alam terbuka. “Limbah pembakaran tersebut bakal menjadi racun yang sangat berbahaya bagi kehidupan manusia maupun ternak, karena menghasilkan karbon monoksida (CO) dan hidrogen sulfida (H2S) seperti yang kini muncul di Gampong Lam Apeng, Kemukiman Lamteuba, Aceh Besar, setelah pembakaran lahan terjadi pada 23 November lalu,” kata Faizal Adriansyah menjawab Serambi di Banda Aceh, Senin (28/11) pagi.

Secara teknis geologis, lanjut Faizal Adriansyah, kebakaran deposit baru bara jauh lebih besar risikonya dibandingkan terbakarnya hutan yang terlihat secara kasat mata. Itu karena, batu bara berada di bawah permukaan tanah, sehingga tak bisa terkontrol jika terbakar.

Bisa saja kelihatan di permukaan sudah tak ada lagi api. Tapi sebetulnya di dalam tanah, api yang membakar batu bara itu masih merayap bagaikan “api dalam sekam” yang bisa tiba-tiba muncul ke permukaan dan menjadi sumber kebakaran hutan atau apa saja yang ada di atasnya.

Ahli geologi ini mengingatkan, meskipun hamparan batu bara di Gampong Lam Apeng, Kemukiman Lamteuba, Aceh Besar, itu masih tergolong muda, tapi tetap saja mudah terbakar. “Jadi, jangan coba-coba bermain api di sana,” kata Faizal.

Setidaknya saat ini, akibat terbakarnya deposit batu bara di kawasan Lamteuba itu limbahnya telah memunculkan dua gas beracun, yakni karbon monoksida dan hidrogen sulfida yang bisa berakibat fatal jika terhirup oleh manusia maupun hewan ternak.

Menurutnya, menjadi penting untuk mengetahui seberapa luas sebaran cadangan batu bara di wilayah Lamteuba, sehingga dapat diprediksi potensi bahayanya jika ada lagi warga yang nekat melakukan pembakaran lahan di atasnya, seperti terjadi Rabu (23/11) lalu. “Oleh karenya, perlu penelitian geologi lebih lanjut,” saran Faizal.

Batu Bara Muda
Deposit batu bara yang belakangan ini diketahui terdapat di Gampong Lam Apeng, Kemukiman Lamteuba, Aceh Besar, masih digolongkan ke

dalam tingkatan gambut hingga lignit, sehingga orang awam menyebutnya “batu bara muda”.

Hal itu dinyatakan Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Aceh, Ir Faizal Adriansyah MSi menjawab Serambi di Banda Aceh, Senin (28/11) pagi, tentang kadar batu bara yang terdapat di kawasan Lamteuba, Aceh Besar itu.

Menurutnya, kualitas batu bara dibagi dalam lima kelas, mulai antrasit yang tertinggi, disusul bituminus, subbituminus, dan lignit, hingga gambut sebagai kelas terendah.

* Antrasit adalah kelas batu bara tertinggi, dengan warna hitam berkilau (luster) metalik, mengandung antara 86%-98% unsur karbon (C) dengan kadar air kurang dari 8%.

* Bituminus mengandung 68-86% unsur karbon (C) dan berkadar air 8-10% dari beratnya. Ini kelas batu bara yang paling banyak ditambang di Australia.

* Subbituminus mengandung sedikit karbon dan banyak air. Oleh karenanya, menjadi sumber panas yang kurang efisien dibandingkan dengan bituminus.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved