Minggu, 26 April 2026

Ketidakpedulian sebagai Kejahatan Sistemik (Bagian 2 dari 2 Tulisan)

LENGKAPNYA kondisi bebal dan berjarak ini distimuli oleh kombinasi empat faktor yang paralel satu sama lain,

Editor: bakri
Kompas.com

Oleh Bulman Satar

LENGKAPNYA kondisi bebal dan berjarak ini distimuli oleh kombinasi empat faktor yang paralel satu sama lain, yaitu ketiadaan etos kerja, mental oportunis berbalut watak manipulatif, minimnya radius kesadaran dan tanggung-jawab sosial, dan terakhir yang paling buruk, disorientasi mental akut khususnya di top level pengurus sistem dengan ciri-ciri watak ‘tidak tahu posisi diri’ seperti berikut: Bertanya justru pada saat ia seharusnya menjawab; bercerita justru ketika ia seharusnya bertindak; menggugat dan menyalahkan pihak lain atas ketidakberesan yang justru adalah tanggung jawabnya; mengumbar pidato, khutbah dengan omongan-omongan normatif justeru pada saat ia dituntut berpikir dan bertindak konkret; mengobral perintah dari belakang justru saat ia harus berdiri di depan memberi contoh-teladan, menjadi opinon-maker, pengamat, dan identifikator masalah justru dalam posisinya sebagai pengentas masalah; atau menjadi story-teller, tukang cerita yang habis waktu berkisah tentang ‘aku’, tentang apa yang dulu pernah ‘aku’ lakukan dan kerjakan, justru pada saat ia diberi mandat dan otoritas mengatasi dengan aksi-aksi konkret dan nyata persoalan-persoalan terkini.

Penuh kepalsuan
Berbeda dengan kejahatan individual atau kelompok yang terjadi secara direct dan sering di antaranya dengan wajah brutal penuh kekerasan, maka dalam kultur hegemonik kejahatan sistem semacam ini sebaliknya terjadi secara tidak langsung, laten, samar, kabur, bahkan sering tampak anggun dalam keindahan retorika, idealita --atau mungkin lebih tepatnya propaganda-- kedisiplinan, kesantunan dan basa-basi bahasa, serta kesalehan dan kemegahan kesan dan citra. Inilah kejahatan yang kadar dan kualitasnya tidak ditentukan oleh motif, melainkan efek dari ‘sikap-mental abai dan lebay yang menghancurkan dan membangkrutkan’.

Ia memang tidak langsung membunuh seperti racun sianida, namun tetap saja daya bunuhnya bekerja meski perlahan-lahan seperti efek narkoba. Ia langgeng dalam kontrol kuasa (kepentingan), sering bersembunyi di balik kebijakan resmi hingga sering tak tersentuh oleh logika hukum, karena diselubungi oleh ‘lendir-lendir’ politik dan otoritas serta diproteksi dengan mantra-mantra korsa dan solidaritas. Inilah kejahatan tipikal yang terjalin secara struktural dalam fungsi dan peran-peran sistem dalam kepemimpinan yang mengeksploitasi, bukan menginspirasi.

Antonio Gramsci dengan teori hegemoninya sebenarnya sudah lama mengingatkan kita akan potensi dan dampak serius kejahatan resmi dan legal seperti ini. Tapi sayang, kita tak kunjung ngeuh, konon lagi di tingkat pelakunya. Akibat terperangkap dalam individualitas dan dunianya yang kecil dan sempit, prilaku ini dalam praktiknya sering tidak dirasakan, dianggap, dan dipahami sebagai sebuah kejahatan. Bahkan celaka dan parahnya kejahatan ini sebaliknya justru mereka amini sebagai sesuatu yang lumrah, “memang sudah begitu”, lalu merasa tidak ada sesuatu yang salah hingga tak perlu merasa bersalah. Inilah sesat nalar yang membuat para pelakunya menjadi antikritik dan defensif ketika dikritik, digugat, dan dihukum di ruang-ruang publik. Kesadaran mereka mengkerut-ciut dalam psikologi penghindaran, “bukan salah dan tanggung jawab saya”.

Penuh kepalsuan
Full fake crime shaping full fake society. Inilah kajahatan yang pelakunya bukan orang-orang jahat, melainkan orang-orang yang sebagian besarnya bisa jadi adalah orang-orang yang terlihat baik dan necis. Inilah bentuk kejahatan penuh kepalsuan yang dilakukan oleh kelas elite: Bukan proletar, oleh orang-orang berdasi; bukan orang-orang bertatto, oleh orang-orang sekolahan yang pintar; bukan orang-orang udik yang awam dan bodoh, oleh orang-orang hebat; bukan kroco, oleh orang-orang normal; bukan orang-orang abnormal, oleh orang-orang apik dan terpandang; bukan orang-orang asal dan begal, oleh orang-orang santun; bukan orang-orang blak-blakan berkarakter koboy, oleh orang-orang yang ‘berpikir positif’; bukan orang-orang yang ‘berpikir negatif’. Inilah bentuk kejahatan yang menjadi penanda posisi sunsang moralitas dalam masyarakat kita saat ini yang jungkir-balik dan terbalik-balik: people are being hated when they are real, and being loved when they are fake!

Bukannya tidak ada insan-insan pengurus dan pengawas sistem yang berintegritas, berdedikasi, dan berkomitmen kuat mencurahkan tenaga dan pikirannya untuk menggerakkan perubahan, namun sebanyak-banyak mereka tetap saja hanyalah minoritas yang muak dan frustrasi dalam kesia-siaan dan kepalsuan yang tak berkesudahan ini. Sebagian mereka sesungguhnya memiliki posisi dan otoritas untuk berbuat namun terlalu lemah untuk mampu berjibaku sehingga akhirnya tenggelam dalam situasi jumud yang diciptakan oleh kelompok mainstream pecinta kemapanan. Sementara sebagian yang lain dibonsai, dikucil-pinggirkan, ‘dicopot gigi’ hingga terpental karena berani melawan arus; karena keukeuh menolak menjadi ‘anak manis’; karena keukeuh menjaga nurani dan mempertahankan akal sehatnya. (Habis)

* Bulman Satar, antropolog. Email: abul_03@yahoo.com

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved