Breaking News
Selasa, 9 Juni 2026

Opini

Persiraja Nasibmu Kini

KOMPETISI kasta kedua PSSI atau divisi utama tahun ini hanya tinggal tunggu waktu awal April 2017

Tayang:
Editor: bakri

Oleh Said Mursal

KOMPETISI kasta kedua PSSI atau divisi utama tahun ini hanya tinggal tunggu waktu awal April 2017. Belum ada tanda-tanda Persiraja Banda Aceh bakal ikut ambil bagian. Para pengurus tersisa Musri Idris dkk yang sudah berhasil ikut kompetisi ISC 2016 menjadi juara wilayah satu meski gagal di babak 8 besar, sudah lempar handuk. Apabila Persiraja tak ikut kompetisi divisi utama 2017 harus terima nasib terjun bebas ke Liga Nusantara.

Waktu tersisa untuk ikut kompetisi sekitar satu setengah bulan lagi. Siapa lagi berani tampil ke depan untuk menyelamatkan klub yang telah mengharumkan nama Aceh di persepakbolaan Nasional? Ada mengatakan nasib Persiraja, menunggu hasil pemilihan wali kota Banda Aceh 15 Februari 2017. Konon, semua calon wali kota sudah melemparkan janjinya dalam kampanye untuk membantu Persiraja. Kita tunggu, apa angin surga atau angin lalu saja.

Sepeninggal almarhum Wali Kota Banda Aceh Mawardy Nurdin, Januari 2014, banyak alasan dikemukakan oleh pemko Banda Aceh, bahwa Persiraja klub profesional tak bisa dibantu dengan dana APBD. Bahkan, Pemerintah Aceh lebih tak peduli lagi, dengan alasan Persiraja adalah berdomisili di Banda Aceh dan ada seribu satu alasan lainnya untuk lepas tangan membina dan membantu Persiraja.

Masa sulit dan pahit tersebut sudah saya hadapi sendiri langsung (2014) sebagai Sekretaris Umum Persiraja setelah meninggal Ketua Umum Ir Zahruddin dan Ketua Dewan Pembina Mawardy Nurdin. Tetapi jika Persiraja sukses dalam kompetisi dia membawa nama Kota Banda Aceh atau Aceh. Kedua-duanya melekat pada nama Persiraja. Semua orang merasa memiliki dan punya andil. Persiraja tak bisa hidup hanya dengan rasa memiliki saja. Persiraja butuh dana untuk ikut kompetisi.

Kita sebenarnya berharap Persiraja bermarkas di Banda Aceh, ibu kota provinsi, sudah semestinya Pemerintah Aceh juga harus punya perhatian pada Persiraja seperti masa Gubernur Syamsuddin Mahmud, sehingga meminta Wagub Zainuddin AG (alm) menjadi Ketua Umum Persiraja. Pada masa inilah nama Persiraja kembali mencuat jadi klub disegani, Liga Indonesia (LI) III 1997 masuk 12 besar. Lalu setelah itu, terombang-ambing antara hidup dan mati dan akhirnya pada masa Mawardy Nurdin (alm) Persiraja (2007-2011) bisa masuk ke Liga Super 2011.

Milik orang Aceh
Cerita Persiraja Banda Aceh adalah kisah tentang kejayaan sepakbola Aceh di era 1970-an dengan puncaknya juara PSSI pada 1980. Jadi juara disambut dengan rasa bangga oleh seluruh warga Aceh di mana saja berada. Persiraja pun nyaris identik dengan sepakbola Aceh. Lalu orang mengatakan Persiraja memang milik orang Aceh tak bisa dibantah. Tapi tragisnya, kini orang tak peduli lagi padanya. Apa yang salah?

Persiraja Banda Aceh, awalnya bonden atau perserikatan Kota Banda Aceh. Bonden diambil dari bahasa Belanda diartikan perserikatan. Dalam perserikatan ini bergabung klub-klub anggotanya. Jadi Persiraja wadah dari perserikatan klub-klub anggota kota Banda Aceh. Tak bisa klub yang berlokasi di Aceh Besar masuk menjadi anggota Persiraja. Jumlah anggota ditentukan sesuai kehendak pengurus. Status perserikatan adalah amatir.

Sejak 1975 karena banyaknya Perserikatan sekitar 400 lebih oleh PSSI dibagi dalam beberapa divisi. Untuk level kelas atas disebut Divisi Utama, ada Divisi Satu dan seterusnya di level bawahnya. Divisi Utama ada syarat untuk bisa masuk ke level ini, maka yang mampu berada di sini perserikatan besar yang punya nama seperti Persija Jakarta, Persebaya Surabaya, Persib Bandung dan PSMS Medan.

Tahun 1979 PSSI dibentuk sebuah wadah persepakbolaan semi-profesional yang diberi nama Galatama. Kompetisi Galatama digelar setiap tahun, sedangkan anggota PSSI dari perserikatan menggelar kompetisi sendiri dua tahun sekali. Pada 1995, PSSI menggabungkan perserikatan (amatir) dengan klub semi profesional (Galatama), bertanding dalam satu kompetisi yang disebut kompetisi Liga Indonesia. Pada saat penggabungan ini Persiraja Banda Aceh berada di Divisi Utama (level tertinggi). Status perserikatan tetap amatir sedangkan Galatama tetap semi-profesional. Jadi klub amatir dan semi-profesional berlaga dalam satu kompetisi.

FIFA pada 2007 meminta PSSI melakukan perubahan Anggaran Dasar/Aanggaran Rumah Tangga (AD/ART) menjadi Pedoman Dasar (PD) yang harus sama dengan Statuta FIFA. Dalam Kongres PSSI 2007 di Makasar disahkan PD, tapi dilakukan sejumlah perobahan atas arahan FIFA. PD PSSI baru diakui FIFA pada 2009 pada Kongres Luar Biasa di Jakarta.

Di sinilah terjadi perubahan mendasar dalam sistem persepakbolaan Indonesia. Jika pada AD/ART seluruh klub pada saat Kongres PSSI digelar empat tahun sekali punya hak suara sama. Tapi setelah berlaku PD, maka FIFA hanya meminta anggota yang punya hak suara tak lebih dari 100. Atas lobi pengurus PSSI di masa Nurdin Halid, akhirnya FIFA menyetujui yang menjadi anggota dan punya hak suara, tak boleh lebih 108.

Sementara tim eks perserikatan diganti sebutannya menjadi klub dalam PD PSSI. Persiraja Banda Aceh, PSMS Medan, PSAP Sigli dan seluruh anggota PSSI yang dibentuk sebelum berlaku PD menjadi status klub. Istilah perserikatan tak ada lagi. Sedangkan mereka yang ingin mendirikan klub setelah berlaku PD 2007 langsung disebut klub tanpa harus punya anggota dan wilayah seperti klub eks perserikatan.

Setelah terjadi kekisruhan sepakbola Nasional, adanya dua kompetisi sejak 2011, pada 2012 Persiraja berhasil masuk ke level Liga Super (level tertinggi). Aceh saat itu terbagi dua ada yang berkiblat ke Kompetisi IPL (Indonesian Premier League) yang dibentuk Arifin Panigoro dkk yang berhasil merebut PSSI dengan menempatkan Johar Arifin sebagai ketua umum. Sedangkan satu lagi yang lama ISL (Indonesian Super League).

Sebelum kisruh 2011, PSSI membagi klub anggota dalam beberapa level tertinggi ISL, di bawahnya Divisi Utama (keduanya diberi status klub profesional), Divisi Satu, Dua dan Tiga (diberi status amatir). Terhitung 2014, setelah kembalinya PSSI bersatu hanya dibagi ISL dan Divisi Utama (tetap profesional), sedangkan klub status amatir seluruhnya disatukan dalam wadah Liga Nusantara. Persiraja yang berada di divisi utama otomatis jadi klub profesional.

Setelah PSSI bersatu pada 2013, Persiraja Banda Aceh gagal ke Liga Super karena dari 12 klub eks hanya empat diterima untuk bergabung ke Liga Super ISL karena awalnya ada empat klub yang hengkang dari ISL ke IPL (Persiraja, Persiba Bantul, Persiku Kudus, dan Semen Padang). Dalam seleksi ini Persiraja gagal masuk ke Liga Super, sehingga tetap berada di level Divisi Utama.

Persoalan yang dialami oleh klub profesional di Indonesia adalah setelah pemerintah mempertegas aturan lewat Permendagri No.1 Tahun 2011, klub profesional dilarang menggunakan dana APBD. Sejak 2012, banyak klub mulai kelimpungan dan putoh rante, termasuk Persiraja yang tiap tahun morat-marit soal duit.

Badan hukum
PSSI menetapkan bahwa klub profesional ini harus punya badan hukum dalam bentuk PT (perseroan terbatas). Sementara Persiraja saat mengikuti kompetisi IPL 2012 oleh almarhum Mawardy Nurdin yang menjabat Ketua Umum saat itu didaftarkan dengan memakai badan hukum Aceh United. Badan Hukum ini hanya untuk kompetisi 2012 dan 2013. Setelah kisruh sepakbola Nasional usai dan tinggal satu kompetisi PSSI pada 2014, hingga kini Persiraja belum memiliki badan hukum. Tetapi sebenarnya Mawardy Nurdin (alm) sudah meminta saya agar merintis dan merealisasikan pembentukan PT untuk Persiraja, bahkan dia sudah memberikan nama PT Persiraja Lantak Laju.

Persoalan lain yang dihadapi Persiraja adalah citra buruk pengurus dihembuskan ke publik, seolah Persiraja adalah tempat orang-orang mencari nafkah. Kalau sebagian kecil pengurus mengatasnamakan Persiraja untuk mendapat proyek di pemerintahan, bisa jadi. Mereka ada yang dapat untung dan hanya memberikan sebagian kecil ke Persiraja. Itu memang ada. Demikian juga ada yang memanfaatkan dana Persiraja yang bersumber APBD Banda Aceh, sebagian di-mark up. Tapi perlu diingat banyak juga pengurus memfokuskan pada perkerjaan tak mendapat honor sama sekali.

Sejak 2012 ketika bergabung dengan IPL dan ISL lagi 2013 sampai sekarang, apabila ada tudingan pengurus Persiraja cari makan, itu adalah fitnah besar. Sebab sejak saat itu Persiraja tak pernah mendapat dana APBD lagi, pengurus sendiri harus banting tulang cari biaya untuk keperluan tim. Biaya yang diperlukan untuk mengurus sebuah klub tidak kecil.

Dalam satu musim kompetisi saja (jika sampai selesai, terdiri babak penyisihan, 16 Besar, 8 Besar, hingga final seperti ISC 2016 lalu, minimal butuh dana antara Rp 1,5 miliar sampai Rp 2 miliar.

Biaya tersebut untuk keperluan gaji pemain, pelatih, minimal Rp 150 juta per bulan. Jika kompetisi berjalan sampai selesai dan Persiraja masuk 4 besar atau semifinal, butuh waktu 6-7 bulan. Biaya laga tandang keluar daerah bisa sampai 5-6 kali, tergantung jarak kota yang dikunjungi dengan membawa mimimal 18 pemain dan 4 ofisial. Biaya penginapan, makan dan transportasi udara dan lokal selama diluar. Sedangkan di kandang jika tak keluar kota, juga harus disiapkan pemain latihan, makan minum, bisa mencapai 6-7 bulan untuk minimal 30 orang.

Kalaupun ada orang yang mengatakan keuangan Persiraja tak pernah jelas, sehingga jadi alasan tak mau membantu. Ini hanya alasan dicari-cari. Laporan keuangan tetap dibuat, tapi kondisinya terus minus. Persoalan utama dihadapi Persiraja saat ini adalah tidak adanya PT sehingga sulit mengajak kerja sama dengan pihak sponsor. Lalu, siapa yang akan turun tangan untuk mempertahankan Persiraja dalam persepakbolaan Nasional? Untuk eksis tak cukup hanya dengan rasa memiliki belaka. Nah!

* Said Mursal, wartawan di Banda Aceh. Email: saidmursal22@gmail.com

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved