Opini
Membudayakan Salam
RASULULLAH saw mengabarkan kepada kita bahwa satu di antara tanda-tanda telah dekatnya hari kiamat adalah salam
Maksudnya tentu untuk mempermudah penyampaian pesan. Tetapi, tanpa disadari, penyingkatan semacam itu justeru berakibat penodaan terhadap ucapan salam yang sejatinya bermakna doa. Kalimat “Ass”, misalnya, dalam kamus bahasa Inggris ternyata berarti keledai, orang yang bodoh, pantat. Pasti pemberi salam tidak bermaksud mendoakan lawan bicara dengan kata-kata buruk. Namun, apa susahnya mengucapkan salam sebagaimana ajaran Rasulullah saw.
Selain kata yang singkat dan tidak panjang dan mudah diucapkan oleh siapapun. Lagi pula tidak sepantasnya salam yang diucapkan itu berupa kalimat “selamat pagi” atau “selamat sore”. Namun tidak menjadi masalah apabila setelah mengucapkan salam diucapkan perkataan itu dengan sedikit perubahan, seperti misalnya “Semoga Allah berikan kebaikan padamu pagi ini”, sehingga ucapan itu mengandung makna dengan doa.
Inilah tuntunan Islam dalam mempererat hubungan persaudaraan di antara kaum muslimin. Tentunya, harus kita tinggalkan kebiasaan-kebiasaan yang jauh dari tuntunan ajaran Rasulullah saw. Sebagai gantinya, menghidupkan sunnah yang demikian benderang ini dalam kehidupan kita dan anak-anak kita dimulai dari sekarang dan di kemudian hari. Wallahu a’lam bishawab.
Dr. Murni, S.Pd.I, M.Pd., Dosen Prodi MPI Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Araniry, Darussalam-Banda Aceh. Email: murni166@yahoo.co.id
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/ribuan-umat-islam-shalat-berjamaah-di-masjid-namira-padang-arafah_20160831_100150.jpg)