Opini

Misteri Angka 17 dan 1.000

SETIAP memasuki Ramadhan, kita selalu dikaitkan dengan angka 17 dan 1000. Kedua angka itu selalu disebut-sebut

Editor: bakri
NET
Ilustrasi malam lailatul qadar 

(Dalam Rangka Nuzulul Quran)

Oleh Adnan

SETIAP memasuki Ramadhan, kita selalu dikaitkan dengan angka 17 dan 1000. Kedua angka itu selalu disebut-sebut oleh para penceramah di atas mimbar. Memang keberadaan angka itu merupakan misteri bagi kita. Bahkan, banyak orang yang sering menyebut angka tersebut. Tapi, tidak paham sebenarnya darimana angka tersebut berasal. Sebab itu, penulis akan mencoba mengungkapkan misteri di balik dua angka yang penuh misteri tersebut. Misteri yang dimaksud adalah angka yang sangat menakjubkan dan membahagiakan orang-orang yang berpuasa.

Dalam kajian Ulumul Quran, bahwa ada beberapa fase Allah Swt menurunkan Alquran (nuzulul quran). Fase pertama, penurunan Alquran dari Allah Swt ke Lauhul Mahfudz (Al-Buruj: 21-22). Yakni sebuah tempat yang terjaga dan terbebas dari intervensi makhluk. Keberadaan Alquran di Lauhul Mahfudz, menurut Ibnu Katsir, ini menunjukkan kemuliaan Alquran, berada pada tempat yang tinggi, dan terpelihara dari penambahan, pengurangan, pemalsuaan, dan perubahan.

Selain itu, pada fase ini Alquran diturunkan secara sekaligus. Menurut Az-Zarqani, bahwa keyakinan Alquran diturunkan secara sekaligus pada fase ini, karena: Pertama, tidak ada teks ayat sendiri yang menunjukkan bahwa Alquran diturunkan bertahap, dan; Kedua, tidak ada kepentingan Alquran diturunkan secara bertahap pada fase ini (Yunahar Ilyas, 2014: 35). Sedangkan tentang kapan dan bagaimana proses penurunan Alquran pada fase ini tidak ada petunjuk dari Alquran maupun hadis. Artinya, ini perkara ghaib yang harus diyakini oleh umat Islam.

Angka 1.000
Di samping itu, fase kedua, Alquran diturunkan dari Lauhul Mahfudz ke Baitul Izzah (langit dunia). Menurut Az-Zarqani dan Ibnu Abbas, bahwa diturunkannya Alquran pada fase ini terjadi pada malam Qadar atau Lailatul Qadar (QS. Ad-Dukhan: 3, Al-Qadar: 1, dan Al-Baqarah) secara sekaligus. Sebab itu, Lailatul Qadar merupakan malam yang diberkahi dan keberadaannya lebih baik dari 1.000 bulan (QS. Al-Qadar: 3). Dari sinilah muncul misteri angka 1.000. Bahkan, keberadaan malam 1.000 bulan ini sangat ditunggu oleh umat Islam yang melaksanakan ibadah puasa pada bulan Ramadhan.

Dalam banyak petunjuk, bahwa malam ini berada pada 10 akhir dari malam yang ganjil-ganjil (antara 21, 23, 25, 27, 29) dari bulan Ramadhan. Diyakini, seseorang yang dapat beribadah pada malam tersebut, maka ibadahnya laksana seperti telah melaksanakan ibadah 1.000 bulan. Sehingga umat Islam tidak menyia-nyiakan keberadaan malam ini. Tentu, malam ini hanya diperoleh oleh orang-orang yang serius dalam melaksanakan ibadah puasa. Sedangkan orang-orang lalai akan melewati malam 1.000 bulan ini dengan penuh kesia-siaan.

Lebih lanjut, jika kita lebih kritis, maka akan muncul pertanyaan mengapa yang digunakan angka 1.000, bukan 2.000, atau 3.000, dan seterusnya? Rupanya satu misteri angka ini terjawab ketika dijumlahkan, bahwa 1.000 bulan itu laksana 83 tahun 4 bulan. Artinya, 1.000 bulan menunjukkan tentang ukuran umur manusia pada fase kenabian Muhammad saw. Sebab itu, ketika seseorang dapat beribadah pada malam tersebut, maka laksana telah beribadah seumur hidup. Karena itu, sungguh merugi orang-orang yang menyia-nyiakan malam 1.000 bulan ini.

Sedangkan pada fase ketiga, penurunan Alquran dari Baitul Izzah kepada Nabi Muhammad saw melalui malaikat Jibril. Pada fase ini Alquran diturunkan secara berangsur-angsur (bertahap). Menurut Manna Al-Qattan, penurunan Alquran pada fase ini memakan waktu selama 23 tahun (Manna Khalil Al-Qattan, 2010: 151). Proses penurunannya pun di samping karena kehendak Allah Swt yang tanpa sebab (asbabun nuzul), juga karena sebab tertentu. Semisal, ada persoalan umat atau pertanyaan dari umat, lalu Alquran (baik perayat, kelompok ayat, maupun persurat sekaligus) diturunkan sebagai jawaban.

Menurut pakar Ulumul Quran, banyak hikmah Alquran diturunkan bertahap pada fase ini. Pertama, untuk menguatkan atau meneguhkan hati Rasulullah saw (QS. Al-Kahfi: 6). Sebab, ketika Alquran diturunkan bertahap, maka Rasulullah akan lebih intens bertemu dengan Jibril. Kedua, sebagai tantangan dan mukjizat (QS. Al-Furqan: 33). Karena, ketika sejumlah pertanyaan dialamatkan kepada Nabi saw sebagai Rasul, maka perlu diperlihatkan kepada umat tentang keajaiban dan kemukjizatannya dalam menjawab seluruh persoalan tersebut.

Ketiga, mempermudah hafalan dan pemahaman (QS. Al Jumu’ah: 2). Sebab, Alquran diturunkan pada Rasul dan umat yang ummi, yakni tidak dapat membaca dan menulis. Bagi mereka akan sulit menghafal dan memahami jika Alquran diturunkan secara sekaligus. Sehingga dengan Alquran diturunkan secara bertahap akan memudahkan umat Islam dalam menghafal, mencatat, dan memahaminya. Keempat, mempermudah proses dakwah. Karena, merubah perilaku dan kebiasaan buruk manusia memerlukan waktu. Sehingga ada ayat yang diturunkan secara bertahap dalam penetapan hukum (tadarruj fi tasyri’), semisal pentahapan dalam pengharaman khamar.

Dalam banyak petunjuk, bahwa ayat dari Alquran yang pertama kali diturunkan pada fase ketiga ini yaitu Al-‘Alaq: 1-5. Menurut Manna Al-Qattan dalam kitabnya Mabahis Fi Ulumil Quran, bahwa penurunan ayat tersebut tidak memiliki sebab turun (asbabun nuzul). Ayat ini diturunkan berdasarkan kehendak Allah Swt untuk memberikan panduan hidup bagi umat manusia. Perintah membaca (iqra’) pada ayat ini sangat berkorelasi dengan kondisi umat Islam yang buta huruf (ummi) saat itu. Sehingga ayat ini mengajarkan kepada umat akan pentingnya baca-tulis, sebagai medium untuk memperoleh pengetahuan.

Angka 17
Menurut para pakar Ulumul Quran, bahwa Al-Alaq: 1-5 tersebut diturunkan pada 17 Ramadhan (Yunahar Ilyas, 2010: 39). Secara eksplisit (tersurat) tidak ditemukan petunjuk bahwa Alquran diturunkan pada 17 Ramadhan. Akan tetapi, kesimpulan tersebut diambil berdasarkan keterangan tersirat dalam Al-Anfal: 41, yaitu, “Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnussabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Para ulama tafsir, semisal Ibnu Katsir, menjelaskan makna hari furqan dalam ayat di atas sebagai hari bertemunya dua pasukan di perang Badar. Yakni sebuah peperangan heroik dan mendebarkan dalam sejarah peperangan umat Islam saat itu. Sebab, sejarah mencatat bahwa kuantitas pasukan perang kaum musyrikin tiga kali lebih banyak dari pada pasukan perang kaum muslimin. Dan, hari bersejarah tersebut diyakini terjadi pada Jumat 17 Ramadhan tahun kedua Hijriah. Dari sanalah misteri angka 17 muncul dan dinobatkan sebagai hari diturunkan pertama kali Alquran dari Baitul Izzah ke Nabi Muhammad saw.

Sebab itu, sudah sepatutnya umat Islam kembali mengkaji dan menelaah kandungan Alquran pada Ramadhan ini. Karena, Ramadhan merupakan bulan pertama kali Alquran diturunkan oleh Allah Swt, baik dari Lauhul Mahfudz ke Baitul Izzah pada malam 1.000 bulan, maupun dari Baitul Izzah kepada Nabi Muhammad saw pada 17 Ramadhan. Banyak kandungan Alquran yang belum tergali secara maksimal, baik sebagai sumber ajaran maupun sebagai sumber ilmu pengetahuan. Semoga!

* Adnan, S.Kom.I., M.Pd.I., Dosen Prodi Bimbingan Konseling Islam (BKI) IAIN Malikussaleh Lhokseumawe, Aceh. Email: adnanyahya50@yahoo.co.id

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved