Citizen Reporter
Menengok Kehidupan Muslim di Finlandia
FINLANDIA tidak asing bagi rakyat Aceh. Penandatanganan perjanjian damai antara Pemerintah Indonesia
Oleh Sahlan Hanafiah, Staf Pengajar Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar Raniry, melaporkan dari Tampere, Finlandia
FINLANDIA tidak asing bagi rakyat Aceh. Penandatanganan perjanjian damai antara Pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka di Helsinki, Finlandia, 15 Agustu 2005, telah membuat nama Finlandia akrab di telinga rakyat Aceh. Namun bagaimana dengan perkembangan Islam dan muslim di sana? tentu belum banyak yang tahu.
Tuomas Martikainen (2009) dalam artikelnya Islam in Finland, orang-orang Islam (muslim) sudah ada di Finlandia sejak tahun 1870. Ketika itu Finlandia masih berada di bawah kekuasaan Rusia. Sebagian tentara Rusia yang dikirim ke Finlandia merupakan pemeluk agama Islam. Mereka berasal dari etnis Tatar sehingga dikenal dengan sebutan Muslim Tatar.
Setelah Finlandia merdeka dari Rusia tahun 1917, sekitar 1000 tentara Rusia, termasuk Muslim Tatar, memilih tetap tinggal di Finlandia, mereka tidak mau kembali ke Rusia dengan alasan yang tidak jelas.
Kehidupan Muslim Tatar di Finlandia lambat laun mulai menyatu dengan masyarakat di sana. Misalnya mereka ikut bertempur dalam perang dunia kedua di bawah bendera Finlandia. Keterlibatan Muslim Tatar dalam perang dunia kedua merupakan simbol penerimaan dan menyatunya orang-orang Islam dalam masyarakat Finlandia.
Keberadaan Muslim Tatar semakin legal ketika pemerintah Finlandia pada tahun 1925 memberi pengakuan resmi kepada mereka sebagai komunitas penganut agama Islam. Pengakuan pemerintah terhadap orang-orang Islam dan penganut agama lain di Finlandia diatur dalam konstitusi sejak Finlandia merdeka.
Dalam konstitusi tersebut Finlandia memberi tiga pilihan model pengelolaan kehidupan beragama. Pertama, model komunitas yang sifatnya formal. Kedua, model asosiasi atau perkumpulan yang sifatnya semi formal. Dan ketiga, boleh juga bebas, tidak mengikuti dua model di atas.
Karena aturan tentang kebebasan beragama diatur dengan jelas, maka kehidupan keagamaan berjalan dengan tertib dan damai. Misalnya komunitas muslim Finlandia yang telah terdaftar secara formal dengan mudah menyewa tempat yang dijadikan sebagai masjid. Bahkan di beberapa kota, umat Islam telah membeli gedung untuk dipakai sebagai masjid.
Hingga saat ini jumlah masjid di Finlandia diperkirakan mencapai 40-an masjid yang tersebar di beberapa kota seperti Helsinki, Tampere, dan Turku. Sementara populasi muslim yang terdaftar secara resmi sebagai pengguna masjid kurang lebih berjumlah 10.000 orang, sementara yang tidak terdaftar diperkirakan mencapai 60.000 orang. Dengan jumlah populasi muslim sebanyak itu, Islam termasuk agama keempat terbesar di Finlandia setelah Kristen Lutheran (82.5 persen), Kristen Ortodok (1.1 persen), Kristen Pantekosta (1 persen), dan Islam (0,9 persen).
Bertambahnya populasi muslim di Finlandia secara perlahan dalam skala kecil paska kehadiran Muslim Tatar mulai terjadi pada akhir tahun 1980an. Mereka berasal dari Afrika Selatan dan Timur Tengah. Tahun 1990, barulah terjadi migrasi besar-besaran umat Islam ke Finlandia.
Sejak itu, Finlandia dikenal luas sebagai negara tujuan pencari suaka. Pola migrasi menjadi lebih beragam dan komplek. Selain alasan mengungsi, mencari suaka atau berkumpul dengan keluarga, juga alasan-alasan lain seperti studi, bekerja, dan pernikahan antaretnis.
Berdasarkan data statistik 2006, kelompok muslim terbesar yang bermigrasi ke Finlandia berasal dari Somalia (9.000), kemudian diikuti Arab (7.500), Kurdi (5.500), Kosovo Albania (5.500) dan Turki (4.000). Selain itu terdapat juga kelompok imigran dalam jumlah yang kecil. Mereka berasal dari Iran, Bosnia, India. Sementara itu, warga Indonesia yang menetap di Finlandia diperkirakan sekitar 300 hingga 400 orang.
Jumlah populasi muslim di Finlandia diperkirakan akan terus meningkat seiring gejolak konflik yang terjadi akhir-akhir ini di Timur Tengah, terutama dari Afganistan, Syria, Irak, dan Libya.
Namun kehadiran imigran dari negara-negara muslim yang didera konflik tersebut sedikit banyak mulai memunculkan kekhawatiran di kalangan rakyat Finlandia, terutama generasi tua. Ancaman keamanan melalui aksi terorisme merupakan satu-satunya alasan di balik kekhawatiran itu. Apalagi baru-baru ini aksi teror marak terjadi di beberapa negara Eropa yang dulunya dikenal aman seperti Swedia, Prancis, dan Inggris.
Pemerintah Finlandia dengan berbagai program telah berusaha mengurangi resiko atas kehadiran para imigran muslim tersebut. Salah satunya melalui program integrasi sosial. Setiap imigran diharapkan dengan cepat menyatu dalam kehidupan sosial masyarakat Finlandia. Mereka diberikan semacam uang jaminan sosial, jaminan kesehatan, kursus bahasa, dan berbagai macam pelatihan yang akan memberi dampak ekonomi terhadap mereka.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/sahlan-hanafiah_20170616_085105.jpg)