Cerpen
Maisarah
KUUTARAKAN isi hatiku pada Maisarah, betapa aku ikut prihatin atas nasib Bakong: Kusta merayap disekujur tubuh
Aku tersentak mendengar jawaban Apa Tok. Batang dedap itu dulu berbunga pada musim tertentu. Warna bunganya cukup indah, merah kekuningan. Banyak tiung kecil yang singgah di antara bunga-bunga dedap untuk mengisap sari bunga. Rampeukeuk dan cicem pala juga kerap hinggap dan berkicau di dahanan dadap kering dan usang itu. Namun, kini telah sepi. Batang dadap pagar besar satu-satunya yang masih tersisa di kampung kamipun telah ditebang sekadar untuk dijadikan perapian kerbau. Padahal, pohon dadap besar itu bukanlah mati sebelum ditebang, tapi pohon itu sedang layu, meluruhkan dedaunan dan ranting-ranting beserta kulitnya untuk diganti dengan yang baru. Ketika musim bunga telah tiba,pohon dadap pagar besar itu akan menggantinya dengan tunas baru dan kuncup yang segar. Ingin kukecam perbuatan Apa Tok sekeras-kerasnya pada saat itu, tapi gejolak dalam diriku tertahan oleh sesuatu yang kulihat dijinjing tangan kirinya . Bungkusan itu seolah mencengkram lidahku untuk berkata. Karena sudah magrib, aku segera membakar perapian untuk kambingku. Api menyala menerangi seisi kandang. Tiba-tiba lelaki paruh baya itu melempar bungkusan itu ke hadapanku.
“Dengan inilah dendamku akan kubalas,”ApaTok menggenggam bungkusan itu dan mengacungkannya padaku.
“Jika kau membuka mulut. Maka ini akan kau terima.Bak muka keuh kutak,” ApaTok melempar parangnyadan tertancap pada tanah di ujung kakiku.
“Akan kubuat tubuhnya membusuk. Hidupnya akan tersiksa. Lambat-laun. Si Kong akan binasa. Dan Maisarah akan kukawini. Kelak saat dia telah kembali ke kampung ini.” Kuperhatikan gelagat lelaki itu, tampak jelas dendamnya membara diantara kobaran api yang melalap ujung suwa dalam kandang kambingku.
Aku sesungguhnya tak pernah bisa menerima siapapun yang mengancamku dengan dalih apapun. Jiwaku berkecamuk dan memendam amarah. Tapi tak ingin kuperturutkan. Tak pernah kubiarkan siapapun mengancam diriku. Dengan Ak47 sekalipun. Aku berusaha untuk bisa tenang. Kutunggu lelaki itu maju selangkah lagi untuk menghardikku saja. Pasti akan kulibas tanpa kuberi kesempatan. Namun, lelaki itu langsung memungut parangnya dan memikul tungonya. Dia segera pergi. Meninggalkan amarahku yang tersimpul kuat dalam diriku. Aku tersiksa dan melepaskan ujung simpul amarahku sendiri yang telah kurekat sendiri dengan kuatnya.
“Setan,” aku mengerang sedahsyat-dahsyatnya. Memukul pohon kelapa. Membabat rumput liar yang tumbuh di sekitar kandang kambingku. Membayangkan lelaki itu sedang mengancamku untuk kedua kalinya.
Maisarah semakin sesenggukan mendengar ceritaku. Ia sepertinya semakin larut dan terbuai dengan kepedihan hatinya. Maisarah telah termakan hasutan. “Bangkong. Kasihan nasibmu Bang,” isak Maisarah pelan. Kemudian raut wajahnya mendadak berubah. Bertambah merah dan panas.
“Bang Tok. Kau kejam. Seperti singa. Kau tega menerkam sahabat karibmu sendiri. Kau buas,” Maisarah mengecam lelaki yang kini telah sangat ia benci. Kebencian itu semakin mendidih dalam dirinya. “ Tidak!” Maisarah berteriak ngeri.
Kutatap wajah Maisarah dalam-dalam. Hatiku bergidik. “Andaikan kau tahu bahwa aku juga sangat mencintaimu. Aku tak rela orang lain mempersuntingmu. Aku cemburu. Aku ingin kedua lelaki yang menaruh hati padamu itu mati,” batinku memendam rasa yang kubungkam dalam relung dada dengan dengkinya.
“Sudahlah Mai. Lupakan semua yang telah terjadi. Kita bisa memulai dengan yang baru,” Tanpa kusadari kata-kataku membuat Maisara tersentak dan terhenyak.
“Kita?” Maisarah bertanya spontan, sepertinya ia tak mengerti. “Apa maksud kamu kita dengan yang baru?” lanjut Maisarah sambil menatap kedua mataku dengan raut muka yang penuh tanda tanya. Pertanyaan Maisarah membuat aku gugup, tapi segera kutenangkan diriku. Kuanggap ini semua adalah kesempatan dan aku harus memanfaatkan peluang ini sebaik mungkin. Tekad aku telah bulat. Kucurahkan segala rasaku selama ini pada perempuan yang paling kukagumi itu.
“Andaikan mungkin Mai bisa menerimaku ke pelaminan, kita akan membina rumah tangga. Kujual seratus ekor kambing jantan pada musim haji ini. Harga per ekornya dua jutaan. Cukup buat beli mahar tiga puluh mayam emas murni. Sisanya cukup buat kenduri pesta yang meriah dan juga cukup buat menyewa kamar hotel berbintang selama kita berbulan madu di Banda Aceh selama seminggu.”
Maisarah tertegun sejenak mendengar pernyataanku. Kulihat ia menghela nafas panjang beberapa kali. Sepertinya ia sedang mencoba untuk menenangkan dirinya. Maisarah menatap kedua mataku dengan kedua matanya yang masih berkaca-kaca. Perlahan, kedua pendar indah mata itu bagai sedang mengumpulkan harapan untuk diberikan padaku. Ya, sebuah harapan yang sangat aku harapkan, yaitu kata terima dari kedua bibir merah delima itu. Agak lama, tak mengapa. Aku terus menunggu sampai kapanpun. Hingga pada akhirnya, Maisarahpun memberikan jawabannya dan harus kuterjemahkan dengan caraku sendiri, meskilebih sulit daripada menghasutnya.
“Maaf!” sepotong kataterakhir yang keluar dari mulut Maisarah, membuat aku harus mencernanya sepanjang hayatku.
* Iswandi Usman, lahir di Matang Panyang Kecamatan Seunuddon Aceh Utara, 5 Februari 1981. Sehari hari bekerja sebagai guru PNS di SDN 8 Muara Batu Aceh Utara. Menetap di Blang Me Bireuen.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/cerpen-maisarah_20170903_072713.jpg)