Breaking News:

Cerpen

Maisarah

KUUTARAKAN isi hatiku pada Maisarah, betapa aku ikut prihatin atas nasib Bakong: Kusta merayap disekujur tubuh

Editor: bakri
Maisarah

“Pawan!” panggilan itu mengejutkanku. Spontan aku palingkan wajah ke arah datangnya suara. Telah berdiri seseorang tepat di tengah mulut jalan menuju kandang kambingku. Sebilah parang mengkilap dijinjingnya.

“Astaghf....Apa Tok. Pulang darimana?” tanyaku kaget.

“Pulang dari mengambil kayu untuk perapian kerbau dan telah kupotong tadi siang.”

“Batang dadap besar yang dililit akar pohon beringin itu kah?”

“Ya. Batang dadap mati itu.”

Aku tersentak mendengar jawaban Apa Tok. Batang dedap itu dulu berbunga pada musim tertentu. Warna bunganya cukup indah, merah kekuningan. Banyak tiung kecil yang singgah di antara bunga-bunga dedap untuk mengisap sari bunga. Rampeukeuk dan cicem pala juga kerap hinggap dan berkicau di dahanan dadap kering dan usang itu. Namun, kini telah sepi. Batang dadap pagar besar satu-satunya yang masih tersisa di kampung kamipun telah ditebang sekadar untuk dijadikan perapian kerbau. Padahal, pohon dadap besar itu bukanlah mati sebelum ditebang, tapi pohon itu sedang layu, meluruhkan dedaunan dan ranting-ranting beserta kulitnya untuk diganti dengan yang baru. Ketika musim bunga telah tiba,pohon dadap pagar besar itu akan menggantinya dengan tunas baru dan kuncup yang segar. Ingin kukecam perbuatan Apa Tok sekeras-kerasnya pada saat itu, tapi gejolak dalam diriku tertahan oleh sesuatu yang kulihat dijinjing tangan kirinya . Bungkusan itu seolah mencengkram lidahku untuk berkata. Karena sudah magrib, aku segera membakar perapian untuk kambingku. Api menyala menerangi seisi kandang. Tiba-tiba lelaki paruh baya itu melempar bungkusan itu ke hadapanku.

“Dengan inilah dendamku akan kubalas,”ApaTok menggenggam bungkusan itu dan mengacungkannya padaku.

“Jika kau membuka mulut. Maka ini akan kau terima.Bak muka keuh kutak,” ApaTok melempar parangnyadan tertancap pada tanah di ujung kakiku.

“Akan kubuat tubuhnya membusuk. Hidupnya akan tersiksa. Lambat-laun. Si Kong akan binasa. Dan Maisarah akan kukawini. Kelak saat dia telah kembali ke kampung ini.” Kuperhatikan gelagat lelaki itu, tampak jelas dendamnya membara diantara kobaran api yang melalap ujung suwa dalam kandang kambingku.

Aku sesungguhnya tak pernah bisa menerima siapapun yang mengancamku dengan dalih apapun. Jiwaku berkecamuk dan memendam amarah. Tapi tak ingin kuperturutkan. Tak pernah kubiarkan siapapun mengancam diriku. Dengan Ak47 sekalipun. Aku berusaha untuk bisa tenang. Kutunggu lelaki itu maju selangkah lagi untuk menghardikku saja. Pasti akan kulibas tanpa kuberi kesempatan. Namun, lelaki itu langsung memungut parangnya dan memikul tungonya. Dia segera pergi. Meninggalkan amarahku yang tersimpul kuat dalam diriku. Aku tersiksa dan melepaskan ujung simpul amarahku sendiri yang telah kurekat sendiri dengan kuatnya.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved