Puisi

Palmerah

di stasion ini hujan begitu gegas seperti rindu sepasang kereta saling memburu namun tak pernah bertemu

Palmerah
Penyair LK Ara saat baca puisi dalam Jambore Susastra Jawa Barat. 

dan tiang-tiang kapal itu menjadi biru
menggelinding seperti bola salju

ia kekal di segala cuaca
menjadi puisi yang tak pernah tua

Banda Aceh-Sabang, 28 November 2016

Pantan Terong

dari ketinggian ini, 1.640 Mdpl,
kita membangun rumah di atas kabut,
di atas Danau Laut Tawar,
yang mirip kolam renang raksasa
membentang dan membelah kota

di atas pohon, kau menyiram daun-daun kopi
dengan pekik tembang dan puisi
dengan bola matamu yang membuka pintu-pintu pagi
“Aku adalah gelas yang harus kau isi,
Aku adalah benih yang mesti kau sirami.”

di antara jari-jari hujan, kau adalah penari
yang meliuk-liuk di pucuk Renggali
sambil memetik merah buah-buah kopi
dengan tanganmu yang menyimpan ladang-ladang sunyi
tempat lahirnya seribu matahari

Takengon, 27 November 2016

* MUSTAFA ISMAIL lahir di Aceh pada 1971. Ia hijrah ke Jakarta pada 1996 ketika mengikuti Mimbar Penyair Abad 21. Buku puisinya “Tarian Cermin” (2007 & 2012), “Menggambar Pengantin” (2013 & 2014) dan “Tuhan, Kunang-kunang & 45 Kesunyian” (Agustus 2016).

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved