Puisi
Palmerah
di stasion ini hujan begitu gegas seperti rindu sepasang kereta saling memburu namun tak pernah bertemu
Karya Mustafa Ismail
di stasion ini hujan begitu gegas
seperti rindu sepasang kereta
saling memburu namun tak pernah bertemu
hingga matahari demi matahari tetas
Jakarta, 2017
Kapal
Aku menulis namamu di tiang-tiang kapal
di langit siang yang terang -
bercahaya hingga lapis kesembilan
hingga gelombang laut berdentam-dentam
kau menjelma bukit-bukit hijau
di bibir pulau:
saat orang-orang berdiri di buritan
memandang ke Balohan
mereka menyanyikan lagu yang sama
seperti kau nyanyikan:
bungong jeumpa. bungong jeumpa.
meugah di aceh..
namamu selalu berkilatan
saat matahari terbit dan terbenam
seperti bungong jeumpa yang tak mala
aromanya menyelinap dalam dengkur kita
dan tiang-tiang kapal itu menjadi biru
menggelinding seperti bola salju
ia kekal di segala cuaca
menjadi puisi yang tak pernah tua
Banda Aceh-Sabang, 28 November 2016
Pantan Terong
dari ketinggian ini, 1.640 Mdpl,
kita membangun rumah di atas kabut,
di atas Danau Laut Tawar,
yang mirip kolam renang raksasa
membentang dan membelah kota
di atas pohon, kau menyiram daun-daun kopi
dengan pekik tembang dan puisi
dengan bola matamu yang membuka pintu-pintu pagi
“Aku adalah gelas yang harus kau isi,
Aku adalah benih yang mesti kau sirami.”
di antara jari-jari hujan, kau adalah penari
yang meliuk-liuk di pucuk Renggali
sambil memetik merah buah-buah kopi
dengan tanganmu yang menyimpan ladang-ladang sunyi
tempat lahirnya seribu matahari
Takengon, 27 November 2016
* MUSTAFA ISMAIL lahir di Aceh pada 1971. Ia hijrah ke Jakarta pada 1996 ketika mengikuti Mimbar Penyair Abad 21. Buku puisinya “Tarian Cermin” (2007 & 2012), “Menggambar Pengantin” (2013 & 2014) dan “Tuhan, Kunang-kunang & 45 Kesunyian” (Agustus 2016).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/penyair-lk-ara_20170827_155256.jpg)